|
Setiap orangtua pasti bercita-cita agar putra-putrinya tumbuh dan berkembang dengan baik agar kelak menjadi manusia yang pandai, terampil, sehat, berbudi luhur sehingga berguna bagi masyarakat dan membuat bangga keluarga.
Cita-cita yang luhur itu seringkali menyebabkan orangtua bersikap berlebihan terhadap anak, seperti: menuruti segala keinginannya, memanjakan, sangat protektif, terlalu banyak mengatur dan menuntut anak secara berlebihan untuk berprestasi yang tinggi atau memaksakan kehendaknya.
Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik diperlukan lingkungan yang baik dan menunjang, dimulai dari sejak dalam kandungan.
Jika diibaratkan sebagai tanaman, maka untuk tumbuh, tanaman membutuhkan sinar matahari, air dan tanah yang cocok dan subur. Tanaman perlu diberi pupuk secukupnya, karena bila berlebihan, tanaman malah akan mati. Tanamam perlu mendapat air yang cukup, karena bila berlebihan, tanaman malah akan membusuk. Demikian pula agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, anak perlu mendapat makanan yang sehat dan berimbang. Bila terlalu banyak makan, maka anak akan mengalami obesitas (kelebihan berat badan) dengan segala akibat buruk terhadap kesehatannya. Anak juga membutuhkan siraman kasih sayang, perhatian, rasa aman, bebas dari rasa terkekang, ketakutan dan perasaan ditolak.
Mengasuh anak yang satu dan anak yang lain, walaupun bersaudara tidak selalu sama. Ada anak yang membutuhkan lebih banyak perhatian dan ada anak yang membutuhkan dorongan semangat. Jika diibaratkan tanaman lagi, memelihara tanaman anggrek tidak sama dengan tanaman kaktus, padi membutuhkan lebih banyak air daripada tanaman jagung.
Anak akan tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapan yang semuanya harus dilewati dengan baik. Mulai dari lahir, bayi akan belajar memiringkan badan, tengkurap, mengangkat kepala, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Seperti tanaman, mulai tumbuh dari biji, menjadi kecambah, tanaman kecil, berdaun, berbunga dan berbuah. Akhir-akhir ini banyak orangtua yang tidak memberi kesempatan anak untuk belajar merangkak dengan alasan takut tangannya kotor atau karena diberi baby walker. Hal tersebut dikemudian hari dapat menyebabkan gangguan perkembangan bicara dan berbahasa anak.
Agar anak di kemudian hari dapat menjadi manusia "internasional“ yang siap menghadapi arus globalisasi, banyak orangtua yang mengirim anaknya belajar bahasa lain sebelum menguasai bahasa ibunya. Hal ini justru akan menghambat perkembangan bahasa anak, sebab anak akan bingung karena bapaknya akan menyebut fan (Mandarin), ibunya menyebut rice (Inggris), pembantunya menyebut nasi (Indonesia) dan satpamnya menyebut sego (Jawa) untuk barang yang sama.
|
|