nothing
Info Penyakit Reaksi Alergi-medicastore.com
nothing
Medicastore
Reaksi Alergi

Reaksi_Alergi 1.jpg

Sumber : http://www.nlm.nih.gov

 
DEFINISI

Reaksi Alergi (Reaksi Hipersensitivitas) merupakan suatu respon sistem kekebalan tubuh yang tidak sesuai terhadap zat yang seharusnya tidak berbahaya untuk tubuh. 

Normalnya, sistem kekebalan melindungi tubuh dari substansi asing (antigen). Tetapi pada orang-orang yang lebih sensitif, sistem kekebalan dapat bereaksi berlebihan ketika mendapat paparan alergen tertentu, misalnya makanan atau obat, yang sebenarnya tidak berbahaya pada sebagian besar orang. Reaksi ini disebut reaksi alergi. Mekanisme sistem kekebalan dalam melindungi tubuh dan mekanisme reaksi hipersensitivitas yang dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh adalah sama. Karena itu reaksi alergi juga melibatkan antibodi, limfosit dan sel-sel lainnya yang merupakan komponen pelindung yang normal pada sistem kekebalan,

Macam-macam reaksi alergi:

  • Rinitis Alergika Musiman
  • Rinitis Alergika Pereneal
  • Konjungtivitis Alergika
  • Alergi & Intoleransi Makanan
  • Anafilaksis
  • Kaligata (Urtikaria)
  • Angioedema Herediter
  • Mastositosis
  • Alergi Fisik
  • Reaksi Alergi Akibat Olah Raga.
  • PENYEBAB

    Istilah reaksi alergi digunakan untuk menunjukkan adanya reaksi yang melibatkan antibodi IgE (immunoglobulin E). Ig E terikat pada sel khusus, yaitu basofil di dalam sirkulasi darah dan sel mast di dalam jaringan. Paparan pertama terhadap suatu alergen membuat seseorang sensitif terhadap alergen tersebut, tetapi masih belum menimbulkan gejala. Jika antibodi IgE yang terikat dengan sel-sel tersebut berhadapan dengan antigen (dalam hal ini disebut alergen) lagi, maka basofil dan sel mast didorong untuk melepaskan zat kimia (misalnya histamin, prostaglandin, dan leukotrien) yang dapat menyebabkan gangguan pada jaringan di sekitarnya. Alergen bertindak sebagai antigen yang merangsang terjadinya respon kekebalan. Alergen dapat berupa partikel debu, serbuk tanaman, obat atau makanan.

    Kadang istilah penyakit atopik digunakan untuk menggambarkan sekumpulan penyakit keturunan yang berhubungan dengan IgE, seperti rinitis alergika dan asma alergika. Penyakit atopik ditandai dengan adanya kecenderungan untuk menghasilkan antibodi IgE terhadap inhalan (benda yang terhirup, seperti serbuk bunga, bulu binatang, partikel debu) yang tidak berbahaya. Eksim (dermatitis atopik) juga merupakan suatu penyakit atopik meskipun peran IgE dalam penyakit ini tidak begitu jelas. Namun demikian, seseorang dengan penyakit atopik tidak memiliki resiko membentuk antibodi IgE terhadap alergen yang disuntikkan (misalnya obat atau racun serangga).

    GEJALA

    Reaksi alergi bisa bersifat ringan atau berat. Kebanyakan reaksi terdiri dari mata berair, mata terasa gatal dan kadang bersin. Ruam pada kulit sering terjadi dan biasanya disertai rasa gatal. Selain itu juga dapat ditemukan adanya pembengkakan pada kulit akibat perembesan cairan dari pembuluh darah (angioedema). Angioedema dapat bersifat berat tergantung dari area tubuh yang terkena. Reaksi alergi juga dapat memicu munculnya serangan asma.  
    Pada reaksi alergi yang berat bisa terjadi gangguan pernafasan, kelainan fungsi jantung dan penurunan tekanan darah, yang dapat menyebabkan terjadinya syok. Reaksi jenis ini disebut reaksi anafilaksis, yang bisa terjadi pada orang-orang yang sangat sensitif, misalnya segera setelah makan makanan atau obat tertentu atau setelah disengat lebah.

    DIAGNOSA

    Setiap reaksi alergi dipicu oleh suatu alergen tertentu, karena itu tujuan utama dari diagnosis adalah mengenali alergen. Alergen bisa berupa tumbuhan musim tertentu (misalnya serbuk sari atau serbuk rumput liar) atau bahan tertentu (misalnya bulu kucing, obat atau makanan). Jika alergen bersentuhan dengan kulit atau masuk ke dalam mata, terhirup, termakan atau disuntikkan, maka alergen dapat menyebabkan reaksi alergi

    Pemeriksaan bisa membantu menentukan apakah gejalanya berhubungan dengan alergi dan menentukan alergen penyebabnya. Pemeriksaan darah bisa menunjukkan banyak eosinofil (sejenis sel darah putih yang seringkali meningkat selama terjadinya reaksi alergi). Tes RAS (radioallergosorbent) dilakukan untuk mengukur kadar antibodi IgE dalam darah yang spesifik untuk alergen individual. Pemeriksaan ini bisa membantu mendiagnosis reaksi alergi kulit, rinitis alergika musiman atau asma alergika.

    Tes kulit sangat bermanfaat untuk menentukan alergen penyebab terjadinya reaksi alergi. Larutan encer yang terbuat dari saripati pohon, rumput, rumput liar, serbuk tanaman, debu, bulu binatang, racun serangga, makanan dan beberapa jenis obat secara terpisah disuntikkan pada kulit dalam jumlah yang sangat kecil.
    Jika terdapat alergi terhadap satu atau beberapa bahan tersebut, maka pada tempat penyuntikkan akan terbentuk bentol (pembengkakan seperti kaligata yang sekelilingnya merah) dalam waktu 15-20 menit.

    Sumber : www.medspecindiana.com

    Jika tes kulit tidak dapat dilakukan atau keamanannya diragukan, maka bisa digunakan tes RAS. Kedua tes ini sangat spesifik dan akurat, tetapi tes kulit biasanya sedikit lebih akurat dan lebih murah serta hasilnya bisa diperoleh dengan segera.

    PENGOBATAN

    Dengan menghindari alergen, maka penderita tidak perlu mengkonsumsi obat tertentu untuk mengatasi reaksi alergi. Tetapi jika seseorang tidak dapat menghindari paparan alergen, maka perlu dilakukan penanganan, meliputi :

    Imunoterapi alergen

    Pada imunoterapi alergen (suntikan alergi), sejumlah kecil alergen disuntikkan di bawah kulit dan dosisnya dinaikkan secara bertahap sampai tercapai dosis pemeliharaan. Pengobatan ini merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi penghalang atau antibodi penetralisir yang bertindak sebagai pencegah terjadinya reaksi alergi. Pada akhirnya kadar antibodi IgE dalam darah (sebagai antigen) juga turun. Imunoterapi harus dilakukan secara hati-hati karena pemberian alergen dosis tinggi yang terlalu cepat bisa menyebabkan terjadinya reaksi alergi.

    Imunoterapi paling sering digunakan untuk penderita alergi terhadap serbuk tanaman, partikel debu rumah, racun serangga dan bulu binatang. Imunoterapi tidak dianjurkan untuk dilaksanakan pada penderita alergi makanan karena beresiko untuk terjadinya reaksi anafilaksis.

    Pada awalnya, pengobatan biasanya diberikan 1 kali/minggu, selanjutnya dosis pemeliharaan diberikan setiap 4-6 minggu. Prosedur ini sangat efektif jika dosis pemeliharaan diberikan sepanjang tahun.

    Setelah penyuntikan imunoterapi bisa terjadi reaksi yang merugikan seperti bersin-bersin, batuk, kemerahan (flushing), kesemutan, gatal-gatal, rasa sesak di dada, bunyi nafas mengi, atau kaligata.

    Jika timbul gejala yang ringan, maka bisa diberikan antihistamin (misalnya Diphenhydramine atau Chlorpheniramine).

    Antihistamin

    Antihistamin adalah obat-obatan yang paling sering digunakan untuk mengatasi reaksi alergi (tidak digunakan untuk mengatasi asma). Terdapat 2 macam reseptor histamin di dalam tubuh, yaitu histamin1 (H1) dan histamin2 (H2).

    Istilah antihistamin biasanya dipakai untuk obat-obat yang menghalangi reseptor H1 (perangsangan oleh histamin terhadap reseptor ini menyebabkan cedera pada jaringan target). Bloker H1 sebaiknya tidak dikacaukan dengan obat-obat yang menghalangi reseptor H2 (bloker H2) yang digunakan untuk mengobati ulkus peptikum dan heartburn.

    Efek dari reaksi alergi yang ringan tetapi cukup mengganggu penderitanya (seperti mata terasa gatal, hidung meler dan kulit terasa gatal) disebabkan oleh pelepasan histamin. Efek histamin lainnya yang lebih berbahaya adalah sesak nafas, penurunan tekanan darah dan pembengkakan di tenggorokan yang dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas.

    Semua antihistamin memiliki efek yang diinginkan yang sama, tetapi memiliki efek yang tidak diinginkan yang berbeda. Beberapa antihistamin memiliki efek sedatif (penenang) yang lebih kuat daripada yang lainnya. Kadang efek yang tidak diinginkan juga mendatangkan keuntungan. Beberapa antihistamin memiliki efek kolinergik yang menyebabkan kekeringan pada selaput lendir. Efek ini bisa dimanfaatkan untuk meringankan hidung meler akibat cuaca dingin.

    Beberapa antihistamin dijual bebas tanpa resep dokter dan ada yang dikombinasikan dengan dekongestan (obat untuk mengkerutkan pembuluh darah dan membantu melegakan hidung tersumbat).

    Kebanyakan antihistamin menyebabkan ngantuk. Efek sedatif yang kuat dari antihistamin menyebabkan obat ini banyak ditemukan sebagai bahan aktif dalam berbagai obat tidur yang dijual bebas. Antihistamin juga sebagian besar memiliki efek antikolinergik yang kuat, yang bisa menyebabkan linglung, pusing, mulut kering, sembelit, sulit berkemih dan penglihatan kabur. Tetapi kebanyakan orang yang menggunakan antihistamin tidak mengalami efek tersebut.

    Rasa ngantuk dan efek samping lainnya juga dapat diminimalisasi dengan cara mengawali pemakaian antihistamin dalam dosis rendah dan secara bertahap menambah dosisnya sampai dicapai dosis yang efektif mengendalikan gejala. Saat ini juga tersedia antihistamin non-sedatif (tidak atau hanya sedikit sekali menimbulkan rasa kantuk), misalnya Cetirizine dan Loratadine.

    PENCEGAHAN

    Menghindari alergen adalah lebih baik daripada mencoba untuk mengobati suatu reaksi alergi. Beberapa cara untuk menghindari alergen : 

    • memasang alat penyaring udara 
    • melarang hewan peliharaan berkeliaran di dalam rumah 
    • berhenti mengkonsumsi makanan tertentu yang menimbulkan alergi
    • penderita yang memiliki alergi terhadap bahan yang berhubungan dengan jenis pekerjaan tertentu, mungkin harus berganti pekerjaan
    • penderita alergi musiman yang berat mungkin perlu mempertimbangkan untuk pindah ke suatu daerah yang tidak memiliki alergen tersebut
    • jika alergi terhadap debu rumah, sebaiknya jangan menggunakan mebel, karpet dan tirai yang sifatnya menampung debu
    • membungkus kasur dan bantal dengan pelindung plastik
    • membersihkan debu sesering mungkin
    • menggunakan AC untuk mengurangi kelembaban ruangan yang tinggi 

    Beberapa alergi yang terbawa oleh udara tidak dapat dihindari, karena itu seringkali digunakan metode untuk menghalangi respon alergi dan penggunaan obat untuk meringankan gejala.

    REFERENSI

    - Peter J Delves. Overview of Allergic Reaction. Merck Manual. 2008. 

    Info Penyakit

    Sindroma Down
    Sindroma Down

    Deskripsi : Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme)
    Baca selengkapnya »

    Ejakulasi Dini (Sebelum Waktunya)
    Ejakulasi Dini (Sebelum Waktunya)

    Deskripsi : Ejakulasi Sebelum Waktunya (ejakulasi dini)
    Baca selengkapnya »

    Tentang Produk

    OSTELOX TABLET 7,5 MG

    Tablet 7,5 mg x 2 x 10's.

    ENZYPLEX TABLET

    Tablet 50 biji.