nothing
nothing
Logo_print
Orang Dengan Gangguan Bipolar Rentan Melakukan Bunuh Diri
24-06-2016 | Bekti-medicastore.com
 

 

sumber : psychscene.com

Gangguan Bipolar (GB) merupakan salah satu masalah kejiwaaan yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara fluktuatif dan ekstrim. GB disebabkan oleh multifaktor, terjadi akibat dari interaksi antara faktor biologis, berupa faktor genetik yang diturunkan, faktor gangguan zat kimia atau neurotransmiter pada sel saraf; faktor psikologis, berupa kejadian traumatik yang dialami serta faktor sosio-kultur, berupa konflik sosial-kultural yang mempengaruhi ekspresi dari neurotransmiter dalam sel. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. dr. Margarita M. Maramis, Sp.KJ(K), Ketua Seksi Bipolar dan Gangguan Mood Lainnya PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) dalam Seminar Media tentang Gangguan Bipolar vs Fenomena Bunuh Diri, yang berlangsung di Jakarta, 22 Juni 2016 kemarin.

“Gejala GB berupa gangguan pada suasana perasaan (mood), dimana mood dapat berubah dari ekstrim sedih menjadi ekstrim mania atau gembira berlebihan. Ini diikuti seluruh aspek mental lainnya secara harmonis, tergantung mood tertentu yang sedang dialami, seperti bila mood sedang meninggi, maka terjadi peningkatan energi, proses pikir menjadi cepat dan melompat, banyak ide dan berganti, ide grandious, perasaan sangat gembira, sangat optimis, melakukan sesuatu tidak dipikir panjang atau impulsif (melakukan tindakan-tindakan sembrono seperti ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang), iritabel, dapat terjadi agitasi, semangat berlebihan, aktivitas berlebihan, kebutuhan tidur kurang, makan tidak teratur atau berlebihan, nafsu seks berlebihan, pola kehidupan menjadi seenaknya tidak teratur. Sebaliknya saat mood turun, maka energi menjadi kurang, proses pikir menjadi lamban, kurang ide, kurang atau tidak semangat, tidak minat melakukan apa-apa, sulit konsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, pesimis, nafsu makan dan seksual menurun, tidur terganggu. Terdapat pula gangguan kognitif seperti distorsi kognitif, gangguan perhatian, konsentrasi, pengambilan keputusan, dan fleksibilitas kognitif,“ lanjut dr. Marga.

Pada kesempatan yang sama, Dr. dr. Nurmiati Amir, Sp.KJ(K) mengungkapkan “Bunuh diri merupakan masalah kesehatan global yang serius. Hal ini merupakan tindakan yang luarannya fatal yang dilakukan oleh seseorang yang benar-benar ingin mati. Biasanya ada tenggat waktu antara berpikir untuk bunuh diri dengan melakukan tindakan bunuh diri. Ada kalanya seseorang telah merencanakan untuk bunuh diri beberapa hari, minggu, bulan bahkan beberapa tahun sebelum tindakan bunuh diri tersebut dilakukannya. Namun, ada pula yang melakukan bunuh diri secara impulsif tanpa perencanaan sebelumnya.”

“Sebanyak 25%-60% penderita gangguan bipolar pernah melakukan tindakan bunuh diri satu kali dalam kehidupannya dan meninggal karena bunuh diri adalah 15%-20%. Di USA sendiri, terdapat sebanyak 193 per 100.000 penderita bipolar dan gangguan mood lainnya meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Sekitar 60%-70% yang meninggal karena bunuh diri adalah pasien dengan depresi” ungkapnya.

“Adapun ciri-ciri pasien GB yang akan melakukan percobaan bunuh diri, salah satunya dengan mengunjungi atau menelepon orang-orang yang disayanginya dan menyelesaikan berbagai permasalahan atau mengubah wasiat, meminta maaf kepada orang-orang yang ada disekitarnya atau orang yang dikenalnya. Misalnya dengan mengunjungi keluarga atau tiba-tiba meminta maaf pada rekan-rekan dikantornya. Faktor-faktor yang dapat mendukung pasien GB untuk melakukan percobaan bunuh diri pada saat pasien GB mengalami riwayat kekerasan seksual, fisik maupun verbal pada masa kanak-kanak, dapat juga stresor yang sangat berat. Adanya kemudahan mengakses cara yang mematikan dapat membuat pasien GB berpikir untuk bunuh diri. Kehilangan orang terdekat, contohnya baru saja kehilangan orang tua atau pasangan, kehilangan status finansial, pekerjaan, atau dipermalukan. Ada juga karena adanya komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya maupun penyakit fisik. Hal-hal tersebut dapat memperbesar potensi percobaan bunuh diri pada pasien GB. Pasien GB yang berpotensi melakukan percobaan bunuh diri biasanya pasien dengan GB pada fase depresi atau campuran” dijelaskan dr. Nurmiati lebih lanjut.

Dukungan dari keluarga, Teman & Lingkungan sekitar sangat penting bagi penderita gangguan bipolar, demikian yang diceritakan Vindy Ariella, salah seorang penderita gangguan bipolar yang hadir dalam acara seminar tersebut. Vindy yang merupakan mahasiswa kedokteran ini pertama kali didiagnosa dengan gangguan bipolar sekitar 6-7 tahun yang lalu. Awalnya karena suatu masalah yang cukup berat membuat vindy merasa sangat depresi, tapi kadang ia juga merasakan perbedaan mood yang tajam menjadi bergembira/bersemangat yang berlebihan, karena curiga dengan kondisinya ia pun berkonsultasi ke psikiater & kemudian di diagnosa mengalami gangguan bipolar. Bersama beberapa temannya, Vindy mendirikan komunitas yang perduli terhadap bipolar dengan nama Bipolar Care Indonesia. Komunitas ini kerap mengadakan acara gathering sekaligus wadah untuk berbagi antar anggotanya. Anggita komunitas ini tak cuma penderita gangguan bipolar, melainkan juga ada yang mempunyai keluarga dengan gangguan bipolar atau masyarakat umum lain yang perduli tentang gangguan bipolar. Untuk informasi lebih lanjut mengenai komunitas ini, bisa mengunjungi website mereka, yaitu bipolarcareindonesia.com.