nothing
nothing
Logo_print
Jantung Berdebar, Waspadai Stroke
27-07-2016 | Bekti-medicastore.com
 

Bisakah jantung berdebar menjadi gejala dari stroke ?, ternyata meskipun bukan sebagai penyebab langsung, tetapi jantung berdebar mempunyai kaitan dengan terjadinya stroke. Adalah Fibrilasi Atrium (FA) yang mengaitkan antara jantung berdebar dengan resiko terjadinya stroke. Fibrilasi Atrium (FA) sendiri adalah gangguan irama jantung dengan gejala-gejala : cepat lelah, irama jantung tak teratur, sesak nafas, berdebar, kesulitan mengerjakan pekerjaan sehari-hari, rasa nyeri, dada tertekan dan seperti diikat, pusing, rasa mengambang dan berputar hingga pingsan dan buang air kecil semakin sering.

 

sumber : macts.com

Fibrilasi Atrium (FA) ini dapat menyebabkan terjadinya bekuan darah di jantung, yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat masuk & menyumbat pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan terjadinya stroke. Hal tersebut dijelaskan dalam acara seminar media tentang Fibrilasi Atrium (FA) yang berlangsung di RS. Harapan Kita, Senin 25 Juli 2016 kemarin atas kerjasama dari Indonesia Heart Rhtyhm Society (InaHRS), Asia Pasific Heart Rhthym Society (APHRS), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) serta Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (PERDOSSI).

Faktro resiko terjadinya stroke sebenarnya ada bermacam-macam, diantaranya genetik, jenis kelamin, usia & gaya hidup serta adanya penyakit-penyakit seperti hipertensi, diabetes & kolesterol. Tetapi faktor-faktor resiko tersebut perlu waktu bertahun-tahun sebelum bisa menyebabkan terjadinya stroke dimana setiap penambahan faktor resiko mempercepat resiko terjadinya stroke. Sedangkan untuk Fibrilasi Atrium (FA), hanya butuh waktu singkat, bahkan seringkali < 48 jam dari sejak terbentuknya pembekuan darah hingga terjadi stroke. Oleh karena itu orang dengan Fibrilasi Atrium mempunyai resiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke.

Fibrilasi Atrium (FA) biasanya terjadi pada orang yang berusia > 60 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan juga FA bisa terjadi pada usia yang lebih muda, yang disebut juga dengan “Lone AF”. Penyebab “Lone AF” ini sendiri tidak jelas, terdapat kemungkinan juga akibat faktor genetik. Sedangkan untuk FA secara umum, faktor resikonya adalah : usia < 60 tahun, hipertensi, penyakit jantung koroner, lemah jantung, penyakit katup jantung, gangguan tidur, penyakit tiroid, diabetes, penyakit paru kronik, konsumsi alkohol & infeksi berat.

Fibrilasi Atrium bisa dideteksi melalui pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) yaitu alat yang bisa memantau kondisi listrik jantung. Pemeriksaan ini sudah tersedia di hampir seluruh layanan kesehatan, termasuk di tingkat primer seperti puskesmas & klinik. Bila mencurigai adanya gejala-gejala seperti yang disebutkan diatas, maka sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosa serta pemeriksaan yang lengkap, termasuk pemeriksaan dengan menggunakan EKG.