nothing
nothing
Logo_print
Health Economics, Kesehatan dari Sisi Ekonomi
18-01-2010 | Bekti-medicastore.com
 

Health economics merupakan cabang ilmu ekonomi yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi pada fenomena dan masalah-masalah kesehatan. Health economics sendiri berfokus pada dua hal, yaitu : mobilisasi dana serta pembiayaan kesehatan yang efisien. Berdasarkan laporan WHO tahun 2008 sendiri menyebutkan bahwa biaya belanja kesehatan di seluruh dunia semakin meningkat dengan rata-rata mencapai > 2 kali angka pertumbuhan ekonomi. Faktor yang menjadi penyebabnya antara lain : Naiknya usia harapan hidup yang berhubungan dengan tingginya angka penyakit kronis sehingga memerlukan perawatan jangka panjang & prosedur medis yang memakan biaya; Riset teknologi medis & obat baru yang membutuhkan biaya mahal yang akhirnya harus ditanggung oleh pasien; Peningkatan demografis yang disertai dengan peningkatan taraf kehidupan sehingga mendorong investasi terapi preventif (pencegahan).

Untuk lebih mensosialisasikan mengenai hal tersebut, maka pada hari Selasa, 12 Januari 2010 kemarin bertempat di Hotel Borobudur, Jakarta diselenggarakan acara Media workshop mengenai Health Economics. Sedangkan seminar & lokakarya Health Economics sendiri akan diadakan pada tanggal 13-14 Januari 2010 bertempat di hotel yang sama. Acara yang merupakan hasil kerjasama antara PT.Novartis Indonesia dengan FKM Universitas Indonesia ini akan diikuti oleh kalangan peneliti, pemerintah, industri kesehatan serta praktisi kesehatan lainnya. Sedangkan untuk pembicaranya sendiri menghadirkan beberapa nara sumber baik dari dalam & luar negeri, seperti : Prof. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, dari FKM UI; Diana I. Brixner, RPh, PhD selaku Director Outcomes Research University of Utah, USA; Lieven Annemans, PhD, MMan, MSc dari Universitas Ghent (UGent) dan Universitas Brussels (VUB); serta pembicara-pembicara lainnya.



health economic
Ki-ka : Diana I. Brixner, RPh, PhD (Director Outcomes Research University of Utah, USA); Dr. Umbu M. Marisi (Direktur Operasional PT. Askes Indonesia); Prof. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH (FKM UI); Mr. Roger Polman (Presiden Direktur PT. Novartis Indonesia).


Di Indonesia sendiri menurut data dari Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, belanja kesehatan perkapita Indonesia naik dari Rp. 184.000 pada 2002 menjadi Rp. 494.000 pada tahun 2009, atau bisa dibilang naik mencapai hampir tiga kali lipatnya. Menurut pakar ekonomi kesehatan dari FKM UI sendiri yaitu Prof. Hasbullah, hal ini merupakan hal yang wajar seiring dengan terjadinya perubahan demografis, epidemiologi serta naiknya usia harapan hidup. Sehingga lanjutnya “ untuk dapat memenuhi kebutuhan kesehatan yang berkualitas dan cost effective, kebijakan kesehatan sebaiknya melalui evaluasi ekonomi yang tepat “.

Menurut Lieven Annemans, PhD, MMan, MSc sendiri “ Sering terjadi, obat-obatan yang dipakai, tindakan operasi yang dijalankan ataupun tes diagnostik yang dilakukan kepada pasien ternyata merupakan hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pasien. Sedangkan alasan dari pemborosan ini adalah karena adanya ketidak sanggupan para penyedia layanan kesehatan untuk melakukan analisa secara ilmiah serta adanya predominant payment system atau yang lebih dikenal dengan ‘fee for service’ “ dimana semakin banyak jenis pelayanan atau service maka biaya atau fee juga akan semakin tinggi.

Oleh karena itu Diana I. Brixner, RPh, PhD selaku Director Outcomes Research University of Utah, USA memperkenalkan konsep Health Economics yang dapat membantu menghemat biaya kesehatan secara berkualitas dan tepat guna. Beliau berkata “ Diwaktu lampau, kebijakan kesehatan acap kali didasarkan pada tingkat efikasi & khasiat terapi bagi pasien tanpa mempertimbangkan faktor biaya sama sekali. Namun analisa ini tak sesuai lagi dengan keadaan saat ini. Tingginya populasi dan minimnya alokasi pembiayaan kesehatan di negara-negara berkembang mengharuskan adanya sebuah analisa efektiviitas dan efisiensi inovasi kesehatan di dunia nyata “.

Untuk saat ini di Indonesia sendiri, hal ini baru merupakan wacana. Sedangkan dalam penerapannya, Health Economics memerlukan dukungan penuh dari pemerintah, akademisi, peneliti dan komunitas medis lainnya agar dapat mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, khususnya mengenai penggunaan obat. Diharapkan dengan memperkuat pengetahuan mengenai Health Economics ini dikemudian hari dapat tercipta ahli evaluasi ekonomi yang dapat mendorong terwujudnya sistem kesehatan yang merata dan efisien di Indonesia.