nothing
nothing
Logo_print
Depresi Pengaruhi Kualitas Hidup Lansia
07-01-2008 | nita-medicastore.com
 

Sejalan dengan bertambahnya umur, setiap manusia akan menjadi tua. Menua berarti mengalami berbagai macam perubahan, baik perubahan organobiologik (fisik) maupun psikososial. Menua merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat diingkari. Namun demikian, kualitas hidup harus diupayakan tetap terjaga sehingga dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri.

Pada tahun 2025, jumlah lansia (lanjut usia) di Indonesia diperkirakan akan meningkat empat kali lipat. Masalah kesehatan lansia akan semakin menonjol, diantaranya muncul sebagai masalah mental. Masalah mental yang paling banyak ditemui pada lansia adalah depresi.

Prevalensi depresi pada lansia di dunia sekitar 8-15 persen. Hasil meta analisis dari berbagai negara di dunia diperoleh prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5 persen dengan perbandingan wanita dan pria adalah 14,1 : 8,6. Sementara prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan panti perawatan sebesar 30-45 persen.

Waspadai Depresi pada Lansia

“Depresi pada lansia harus diwaspadai dan dideteksi sedini mungkin karena dapat mempengaruhi perjalanan penyakit fisik dan kualitas hidup pasien,” ujar Dr. Suryo Dharmono, SpKJ (K) dari Divisi Psikiatri Geriatri Departemen Psikiatri FKUI/RSCM dalam diskusi bertema “Depresi dan Kualitas Hidup pada Lanjut Usia” yang diselenggarakan di RSCM pada tanggal 26 Juni 2008 dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Mei.

depresi_pengaruhi_kualitas_hidup_lansia
Kiri ke kanan: Moderator; Dr. Suryo Dharmono, SpKJ (K);
dan Dr. Petrin Redayani L.S, SpKJ


Depresi pada lansia perlu diwaspadai jika pasien lansia menunjukkan keluhan subyektif tentang kelelahan kronis atau menurunnya kondisi fisik, namun tidak didukung oleh temuan obyektif hasil pemeriksaan klinis maupun laboratorium.

Perubahan peran sakit juga merupakan tanda untuk mewaspadai depresi pada lansia, seperti perubahan kepatuhan obat, mengabaikan anjuran dokter, minum obat sembarangan, melanggar diet, dan sebagainya.

Perlu juga diwaspadai jika terdapat:

  • Kekambuhan berulang atau respon yang buruk terhadap pengobatan penyakit kronis yang dideritanya meskipun terapi yang diberikan sudah benar dan optimal.
  • Motivasi dan tingkat partisipasi yang rendah.
  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukainya.
  • Gangguan tidur atau perubahan pola tidur.
  • Gangguan fungsi kognitif semu.
  • Selera makan menurun.
  • Perubahan sifat dan perilaku.
  • Adanya passive-suicide atau para-suicide yakni upaya bunuh diri secara pasif, misalnya dengan mencabut infus, menolak makan, dan sebagainya.

Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Komorbiditas depresi dengan gangguan kondisi medik umum mempersulit diagnosis dan terapi. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sebagainya. Depresi pada lansia juga dapat tampil dalam bentuk perilaku agitatif, ansietas, atau penurunan fungsi kognitif.

Deteksi dini dilakukan dalam upaya mewaspadai depresi pada lansia, terutama pada:

  • Lansia dengan penyakit degeneratif.
  • Lansia yang menjalani perawatan lama di RS.
  • Lansia dengan keluhan somatis kronis.
  • Lansia dengan imobilisasi berkepanjangan.
  • Lansia dengan isolasi sosial.

Adapun faktor pencetus depresi pada lansia antara lain mencakup:

  • Faktor biologik, misalnya faktor genetik, perubahan neurotransmiter/neuroendokrin, perubahan struktur otak, vaskular risk factors, dan penyakit kelemahan fisik.
  • Faktor psikologik, yaitu tipe kepribadian dan relasi interpersonal.
  • Peristiwa kehidupan, misalnya berduka, kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, dan perubahan situasi.
  • Stres kronik.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu.
Perlunya Layanan Psikiatri untuk Lansia

Menurut Dr. Petrin Redayani L.S, SpKJ dari Divisi Psikoterapi dan Divisi Psikiatri Geriatri Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, ada empat pertanyaan kunci untuk memeriksa pasien lansia yang diduga depresi. Pertanyaan itu adalah:

  1. Apakah sesungguhnya anda puas dengan kehidupan anda?
  2. Apakah hidup anda terasa hampa?
  3. Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada hidup anda?
  4. Apakah anda merasa bahagia dalam hampir seluruh waktu anda?

Diperlukan penatalaksanaan holistik dan seimbang pada aspek fisik, mental, dan sosial untuk mengatasi depresi pada lansia. Adapun penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup:

  • Terapi biologik, yakni dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon, dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).
  • Terapi psikososial yang ditujukan untuk mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladatif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi interpersonal, dan sebagainya. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari lingkungan terdekat (keluarga), kendala yang berhubungan dengan faktor kultural, perubahan peran, dan sebagainya.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu:

  • Perubahan faal oleh proses menua.
  • Status medik atau komorbiditas penyakit fisik.
  • Status fungsional.
  • Interaksi antar obat.
  • Efektivitas dan efek samping obat.
  • Dukungan sosial.

Melibatkan keluarga secara aktif sejak awal terapi merupakan langkah yang harus ditempuh untuk memberikan dukungan kepada pasien dan akan berdampak positif terhadap kelangsungan pengobatan.

Poliklinik Psikiatri RSCM hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat di Jakarta dan sekitarnya yang memerlukan. Berbagai masalah kesehatan jiwa akan dilayani secara optimal demi terwujudnya kualitas hidup yang baik. Pelayanan yang tersedia berupa pemeriksaan psikiatri umum, uji psikometrik, penilaian fungsi kognitif, dan penilaian kesehatan jiwa dengan menggunakan tes yang dapat mengukur secara akurat.

Pelayanan psikiatri juga ditujukan bagi lansia. Bentuk pelayanan yang ada di Poliklinik Psikiatri Geriatri RSCM yaitu penilaian kesehatan jiwa lansia, penilaian fungsi kognitif, penatalaksanaan depresi, demensia, ansietas, gangguan tidur, gangguan perilaku, serta tersedianya layanan asuhan rumah (home care).

Artikel terkait:

Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.