| INTRON |
| |
GOLONGAN
 |
| |
KANDUNGAN Interferon α-2b. |
| |
INDIKASI Leukemia sel berambut, sarkoma Kaposi, mieloma multipel, sebagai terapi tambahan setelah bedah melanoma ganas, leukemia mielogenosa kronis, papillomatosis laringeal, tambahan untuk kemoterapi pada limfoma non Hodgkin, limfoma sel T kulit, kondilomata akuminata, karsinoma sel basal, hepatitis B tipe kronis, hepatitis non A dan non B kronis, hepatitis delta kronis. |
| |
KONTRA INDIKASI Riwayat hipersensitifitas. |
| |
PERHATIAN Pertahankan tubuh mengandung cukup air. Awasi dengan ketat pasien dengan riwayat infark miokardial dan atau pernah atau sedang menderita aritmia. Lakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG/ECG) sebelum dan selama rangkaian pengobatan pada pasien yang sebelumnya mengalami abnormalitas jantung dan atau yang menderita kanker stadium lanjut. Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala untuk pasien yang menderita mieloma multipel. Penyakit psoriasis yang sebelumnya ada bisa kambuh. Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan kondisi medis yang lemah seperti pasien dengan riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru-paru, atau diabetes melitus yang cenderung ketoasidosis, gangguan pembekuan darah, dan mielosupresi berat. Tidak dianjurkan untuk pasien yang menderita hepatitis kronis disertai dengan penyakit kegagalan fungsi hati tingkat lanjut atau sirosis hati, hepatitis autoimmun, atau riwayat penyakit autoimmun. Berikan secara subkutan jika jumlah platelet kurang dari 50000/mm³. Hati-hati bila memberikan narkotik, hipnotik, atau sedatif secara bersamaan. Pasien berusia kurang dari 18 tahun. Wanita hamil dan menyusui. |
| |
EFEK SAMPING Demam, keletihan, kekakuan, kehlangan nafsu makan, mual, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, ruam kulit yang bersifat ringan dan sementara, trombositopenia ringan, dan granulositopenia yang bersifat sementara. |
| |
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. |
| |
KEMASAN Vial 3 x 10 IU x 2 mL |
| |
DOSIS Leukemia sel berambut : 3 kali seminggu 2 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan intramuskular atau subkutan. Sarkoma Kaposi : 3 kali seminggu 30 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan intramuskular atau subkutan. Mieloma multipel : dimulai dengan 2 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan subkutan 3 kali seminggu. Tiap minggu semakin ditingkatkan sampai dosis maksimum yang dapat ditoleransi sebesar 5-10 MIU/m² luas permukaan tubuh 3 kali seminggu. Sebagai terapi tambahan setelah bedah melanoma ganas : 20 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan intravena 5 hari dalam seminggu selama 4 minggu, dilanjutkan dengan 10 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan subkutan 3 kali seminggu selama 48 minggu. Leukemia mielogenosa kronis : 4-5 MIU/m² luas permukaan tubuh/hari disuntikkan subkutan. Dosis bisa diberikan 3 kali seminggu bila jumlah sel darah putih terkontrol. Papillomatosis laringeal : 3 kali seminggu 3 MIU/m² luas permukaan tubuh disuntikkan subkutan, dimulai setelah bedah laser tumor pada jaringan tubuh. Respon terhadap pengobatan bisa membutuhkan terapi selama lebih dari 6 bulan. Tambahan untuk kemoterapi pada limfoma non Hodgkin : 3 kali seminggu 3-5 MIU disuntikkan subkutan. Limfoma sel T kulit : 3 kali seminggu 1-2 MIU disuntikkan intralesional selama 4 minggu berturut-turut. Kondilomata akuminata : 0,1 ml larutan yang terekonstitusi (tersusun kembali) yang mengandung 1 MIU disuntikkan ke dalam lesi 3 kali seminggu selama 3 mimggu. Sebanyak 5 lesi bisa diobati dalam 1 waktu. Maksimal : 15 MIU/minggu. Pengobatan lesi yang besar dengan cara injeksi multipel/ganda (sampai dengan 5 MIU/hari) atau disuntikkan berturutan pada daerah lesi yang berbeda-beda. Karsinoma sel basal : untuk lesi dengan (luas) daerah awal kurang dari 2 cm, disuntikkan 0,15 ml larutan rekonstitusi yang mengandung 1,5 MIU ke dalam lesi 3 kali seminggu selama 3 minggu. Dosis kumulatif : 13,5 MIU. Untuk lesi sel basal nodulo-ulseratif dan permukaan yang luas, berikan 3 kali seminggu 0,5 MIU/cm² luas awal lesi selama 3 minggu (dosis minimum 1,5 MIU). Hepatitis B tipe kronis : 3 kali seminggu 3 MIU disuntikkan intramuskular atau subkutan. Pasien yang beresiko tinggi (HBV-DNA lebih dari 100 pcg) atau pasien yang tidak memberikan respon dalam waktu 1 bulan : 3 kali seminggu 5 MIU atau sampai 5 MIU/hari. Hepatitis non B dan non A kronis : 3 kali seminggu 3 MIU disuntikkan subkutan paling sedikit selama 6 bulan. Hepatitis delta kronis : diawali dengan 5 MIU/m² luas permukaan tubuh 3 kali seminggu selama 3-4 bulan. |
| |
PENYAJIAN Tak ada pilihan |
| |
 |
HARGA :
Rp. 333.612/kemasan
|
|
Untuk transaksi pembelian produk di Medicastore bisa melalui telepon di
021 7279 9411 atau lihat di Cara Transaksi
Harga tersebut diatas tidak mengikat dan sewaktu-waktu dapat berubah.
Untuk informasi harga terkini dan pembelian, silahkan hubungi call center kami di 021 7279 9411 atau email ke order@medicastore.com
|
|
|
| |
PABRIK Schering-Plough. |
| |
|
|