nothing
Penyakit : Rabies (anjing gila) - medicastore.com
nothing
Medicastore
Rabies (Anjing Gila)

Rabies_(anjing_gila).JPG

Sumber : http://www.mercydesmoines.org

 
DEFINISI

Rabies adalah suatu infeksi virus pada otak yang menyebabkan iritasi dan peradangan otak dan medulla spinalis.

PENYEBAB

Penyebabnya adalah virus rabies. Virus ini terdapat di dalam air liur hewan yang terinfeksi. Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia, misalnya kucing, kelelawar, rakun, sigung, rubah, dan yang paling sering adalah anjing. Hewan-hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lain atau manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan berpindah masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, kemudian bertambah banyak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf menuju ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.

Sumber : www.mississippivet.ca

Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika dan Asia, karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak, sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total.

Meskipun sangat jarang, rabies bisa ditularkan dengan cara menghirup udara yang tercemar. Telah dilaporkan 2 kasus yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam gua dimana banyak terdapat kelelawar.

GEJALA

Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi, tetapi masa inkubasi dapat bervariasi dari 10 hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa inkubasi biasanya paling pendek pada orang yang digigit pada kepala atau tempat yang tertutup celana pendek atau bila terdapat gigitan di banyak tempat.

Sumber : www.health.allrefer.com

Pada 20% penderita, gejala rabies dimulai dengan adanya kelumpuhan pada tungkai bawah yang menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit ini biasanya dimulai dengan periode pendek depresi mental, gelisah, tidak enak badan dan demam, kemudian akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita akan mengeluarkan air liur.

Spasme otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebabkan rasa sakit yang hebat. Spasme terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Paparan angin sepoi-sepoi dan minum air bisa memicu terjadinya spasme ini. Oleh karena itu, penderita rabies menjadi kesulitan untuk minum, sehingga menjadi hidrofobia (takut air).

DIAGNOSA

Dugaan rabies dapat didasarkan dari gejala-gejala yang ada, terutama pada orang-orang yang memiliki riwayat pernah digigit hewan atau terpapar kelelawar, misalnya pernah menjelajah gua. Namun, banyak orang dengan rabies yang tidak menyadari pernah digigit hewan atau terpapar kelelawar.

Adanya virus rabies dapat dilihat dengan melakukan pemeriksaan jaringan, misalnya dengan pemeriksaan biopsi kulit (biasanya dari kulit leher), pemeriksaan contoh air liur, dan pemeriksaan cairan serebrospinal.

Pada hewan yang menggigit, rabies didiagnosa dengan menggunakan pemeriksaan imunofluorescent, yang dapat melihat adanya antigen virus rabies pada jaringan otak.

PENGOBATAN

Setelah muncul gejala, tidak ada terapi yang dapat membantu. Pada tahap ini, infeksi biasanya berakibat fatal. Terapi yang dapat dilakukan adalah terapi untuk meredakan gejala-gejala yang ada dan sedapat mungkin membuat penderita lebih nyaman. Untuk itu, setiap orang yang terpapar rabies perlu mendapatkan tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi.

PENCEGAHAN

Pencegahan rabies dapat dilakukan sebelum dan sesudah digigit hewan :

Sebelum Digigit Hewan

Pencegahan yang paling baik adalah jangan sampai digigit oleh hewan, terutama hewan liar. Tanda-tanda rabies pada hewan liar bisa tidak jelas, misalnya :

  • Hewan liar bisa tidak tampak takut atau malu ketika didekati manusia
  • Hewan malam (misalnya kelelawar, rakun, serigala, dan sigung) keluar saat siang hari
  • Kelelawar membuat suara-suara yang tidak biasa atau mengalami kesuliatan untuk terbang
  • Hewan menggigit tanpa dipicu
  • Hewan menjadi lemah atau gelisah dan ganas

Hewan yang terinfeksi seringkali menggigit. Jika menemukan hewan yang tampaknya sakit, maka sebaiknya menghubungi pihak kesehatan setempat untuk dapat menanganinya.

Orang-orang yang kemungkinan terpapar virus rabies harus diberikan vaksin rabies sebelum terpapar, misalnya dokter hewan, petugas laboratorium yang menangani hewan, orang-orang yang tinggal atau berkunjung lebih dari 30 hari ke negara-negara berkembang dimana terdapat banyak anjing rabies, dan penjelajah gua kelelawar.

Vaksinasi rabies diberikan dalam 3 dosis yang disuntikkan ke otot. Suntikan pertama diberikan segera (hari ke-0). Suntikan kedua diberikan pada hari ke-7 dan suntikkan ketiga diberikan antara hari ke 21-28. Tempat suntikan dapat membengkak dan terasa nyeri, tetapi biasanya hanya bersifat ringan. Jarang terjadi reaksi alergi. Vaksin ini dapat memberi perlindungan seumur hidup untuk sebagian besar orang. Namun, besarnya perlindungan akan menurun dengan berjalannya waktu, dan jika paparan terus berlanjut, maka sebaiknya diberikan suntikan vaksin tambahan setiap 2 tahun (booster).

Sesudah Digigit Hewan

Rabies biasanya dapat dicegah jika ditangani dengan tepat sejak awal. Orang yang digigit kelinci dan hewan pengerat (termasuk bajing, tikus) tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut jarang terinfeksi rabies. Tetapi bila digigit binatang buas (sigung, rakun, rubah dan kelelawar) diperlukan pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut mungkin saja terinfeksi rabies.

Tindakan pencegahan yang paling penting adalah penanganan luka gigitan sesegera mungkin. Daerah yang digigit dibersihkan dengan sabun dan air. Luka yang dalam disemprot dengan air. Kemudian segera pergi ke dokter. Luka dibersihkan dengan antiseptik dan untuk penderita yang belum pernah mendapatkan vaksinasi, diberikan suntikan immunoglobulin rabies (mengandung antibodi terhadap virus rabies), dimana separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan. Immunoglobulin ini hanya dapat bertahan untuk waktu singkat, sehingga perlu diberikan vaksinasi yang dapat menstimulasi tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus. Vaksinasi dapat memberi perlindungan yang dimulai secara bertahap tetapi dapat bertahan lama.


Sumber : www.scripps.org

Jika belum pernah mendapatkan vaksinasi sebelumnya, maka seseorang perlu segera mendapatkan suntikan immunoglobulin rabies dan vaksin rabies segera pada hari ia digigit hewan yang tersangka rabies (hari ke-0). Selanjutnya diberikan tiga suntikan vaksin rabies lanjutan, yaitu pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14. Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya penderita AIDS) diberikan suntikan vaksin tambahan pada hari ke-28.

Jika seseorang telah mendapatkan vaksinasi sebelumnya, maka risiko terjadinya rabies berkurang. Namun, luka tetap harus dibersihkan dengan baik dan suntikan vaksin rabies tetap diberikan segera setelah digigit hewan dan pada hari ke-3.

REFERENSI

- G, John E. Rabies. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

- Mayo Clinic. Rabies. 2011.

Laica Herb Tea

Info Penyakit

Hernia Inguinalis Pada Anak
Hernia Inguinalis Pada Anak

Deskripsi : Hernia inguinalis merupakan penonjolan bagian
Baca selengkapnya »

Blefaritis
Blefaritis

Deskripsi : Blefaritis adalah peradangan pada tepi
Baca selengkapnya »

Tentang Produk

NEOBOOST KIDS SYRUP

Syrup 60 mL

ALOPROS

Kapsul 5 mg x 30 biji