nothing
Sembelit Pada Anak - medicastore.com
nothing
Medicastore
Sembelit Pada Anak

Sembelit_Pada_Anak.jpg

Sumber : www.mumslittleone.com

 
DEFINISI

Sembelit (konstipasi) mengacu pada tertundanya atau kesulitan dalam membuang kotoran atau adanya peningkatan dalam ukuran dan kerasnya kotoran.

Sebagian besar kasus sembelit (konstipasi) tidak memiliki akibat yang serius dan hanya perlu dikhawatirkan jika timbul rasa nyeri saat buang air besar sehingga menyebabkan anak menahan untuk buang air besar atau jika timbul gejala-gejala lainnya.

Frekuensi buang air besar dan konsistensi tinja bervariasi sepanjang masa kanak-kanak, dan tidak ada frekuensi dan jenis tinja tertentu yang bisa disebut normal. Bayi baru lahir biasanya bisa buang air besar 4 kali atau lebih setiap hari dengan konsistensi kotoran yang lebih lembek dan berwarna kuning. Bayi-bayi yang mendapatkan ASI biasanya mengeluarkan kotoran yang lebih banyak dan lebih sering dibandingkan bayi-bayi yang mendapatkan susu formula. Setelah satu atau dua bulan, sebagian bayi yang mendapatkan ASI akan lebih jarang buang air besar, tetapi konsistensi kotoran akan tetap lembek. Setelah berusia 1 tahun, sebagian besar anak akan buang air besar sebanyak satu atau dua kali sehari, dengan konsistensi yang lunak dan berbentuk.

Pada anak-anak yang lebih besar, konstipasi diartikan sebagai upaya mengeluarkan kotoran yang keras sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit saat buang air besar. Keadaan ini paling sering terjadi akibat asupan serat yang kurang pada makanan. Selain itu, keadaan ini diperburuk oleh anak itu sendiri, yang menahan keinginan untuk buang air besar karena rasa sakit yang dirasakan saat buang air besar.

PENYEBAB

Penyebab konstipasi yang paling sering adalah masalah asupan makanan dan pola makan. Seringkali makanan anak tidak mengandung cairan dan serat yang cukup (misalnya dari buah-buahan, sayur-sayuran, dan padi-padian). Kekurangan cairan dan serat menyebabkan kotoran menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan. Kotoran tersebut bisa menyebabkan rasa tidak enak pada perut, nyeri pada anus saat buang air besar, atau keduanya. Selain itu, keluarnya kotoran yang besar dan keras bisa menyebabkan robekan pada anus, yang terasa nyeri dan bisa menimbulkan adanya bercak darah pada bagian luar tinja atau pada tisu toilet.

Karena gejala-gejala ini, atau karena anak tidak ingin buang air besar, maka beberapa anak menahan untuk tidak buang air besar. Jika kebiasaan menahan buang air besar terus berlangsung, maka konstipasi akan semakin berat. Dengan semakin banyaknya kotoran yang keras menumpuk pada rektum, maka rektum akan melebar dan bisa mengurangi sensasi kebutuhan untuk buang air besar. Kotoran yang lebih lunak bisa keluar dari antara kotoran yang keras dan membuat orang tua berpikir bahwa anaknya mengalami diare, padahal sebenarnya adalah konstipasi.

Konstipasi yang telah ada sejak lahir dan konstipasi yang tidak membaik setelah diobati mengarah pada adanya suatu kelainan fisik, misalnya penyakit Hirschsprung.

Banyak faktor lain yang dapat berkontribusi dalam terjadinya konstipasi pada anak, antara lain :

  • Toilet training yang terlalu awal. Jika anak terlalu awal diajari untuk buang air besar pada tempat yang seharusnya, maka anak bisa memberontak dan menahan untuk tidak buang air besar. Keadaan ini bisa menjadi kebiasaan yang tidak disadari dan sulit untuk diubah.
  • Perubahan dalam rutinitas anak, misalnya bepergian atau adanya stress pada anak, bisa mempengaruhi pola buang air besar anak. 
  • Obat-obat tertentu juga bisa menyebabkan terjadinya konstipasi, misalnya obat penenang jenis tertentu 
  • Alergi susu sapi atau produknya (seperti keju) terkadang bisa menyebabkan terjadinya konstipasi
  • Riwayat keluarga. Anak-anak yang memiliki anggota keluarga dengan konstipasi lebih cenderung untuk terjadi konstipasi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor genetik atau lingkungan.
GEJALA

Tanda dan gejala konstipasi pada anak bisa berupa :

  • frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali seminggu
  • buang air besar keras, kering, dan sulit untuk dikeluarkan
  • rasa nyeri saat buang air besar
  • nyeri pada perut
  • mual
  • adanya bercak kotoran yang cair atau seperti lempung pada celana dalam anak, yang menandakan bahwa kotoran menumpuk pada rektum
  • adanya darah pada permukaan kotoran yang keras

Jika anak merasa takut sakit saat buang air besar, maka anak bisa mencoba untuk menghindarinya.

Gejala-gejala tertentu yang perlu mendapatkan perhatian dan dugaan apakah terdapat penyebab organik dari konstipasi :

  • berat badan turun atau ada gangguan pertumbuhan
  • nafsu makan menurun
  • demam
  • tidak buang air besar dalam 24-48 jam setelah lahir
  • adanya darah pada kotoran
  • muntah
  • pembesaran perut
  • nyeri perut
  • hilangnya tonus otot pada bayi dan kurang mampu untuk menghisap (bayi tampak lemas)
  • pada anak yang lebih besar, terjadi inkontinensia urine (tidak mampu untuk menahan atau mengendalikan kencing), nyeri punggung, kelemahan pada tungkai, atau gangguan dalam berjalan
DIAGNOSA

Sembelit (konstipasi) sangat sering terjadi pada anak-anak. Meskipun sembelit jarang menyebabkan masalah yang serius, tetapi anak-anak yang buang air besar lebih jarang dari biasanya, dengan konsistensi tinja yang keras atau berukuran besar, atau anak tampak tidak nyaman atau sakit saat buang air besar perlu diperiksakan ke dokter. Sembelit (konstipasi) kronis bisa berkontribusi untuk terjadinya gangguan saluran kemih, misalnya infeksi dan mengompol.

Dokter anak akan menanyakan riwayat medis lengkap anak, riwayat penyakit sebelumnya, asupan makan, dan aktivitas fisik yang biasa dilakukan. Pemeriksaan fisik bisa dilakukan dengan memasukkan jari yang telah memakai sarung tangan ke dalam anus anak, untuk memeriksa apakah terdapat kelainan atau apakah terdapat kotoran yang menyumbat. Kotoran bisa diperika untuk melihat apakah terdapat darah.

Selain itu, jika diperlukan, bisa dilakukan pemeriksaan lain seperti :

  • Foto sinar-X perut, dengan atau tanpa barium enema
  • Manometri anorektal atau pemeriksaan motilitas usus
  • Biopsi rektum, dimana sejumlah kecil contoh jaringan diambil dari permukaan rektum untuk melihat apakah sel-sel saraf normal.
  • Pemeriksaan penanda. Anak akan menelan kapsul yang mengandung zat penanda, yang akan muncul pada foto sinar-X yang diambil beberapa hari setelahnya. Dokter akan menganalisa bagaimana penanda tersebut bergerak melalui saluran cerna anak.
  • Pemeriksaan darah. Adakalanya pemeriksaan darah perlu dilakukan, misalnya pemeriksaan fungsi tiroid.
PENGOBATAN

Konstipasi ringan bisa diatasi dengan meningkatkan jumlah asupan serat dan cairan pada anak. Jika anak tidak bisa mengkonsumsi makanan tinggi serat, maka bisa diberikan supplemen serat (psyllium).

Modifikasi perilaku juga penting untuk dilakukan. Setelah makan, tubuh memiliki refleks untuk bisa mengeluarkan kotoran. Seringkali, seorang anak tidak menghiraukan tanda dari refleks ini dan tidak buang air besar, sehingga berkontribusi dalam membuat kotoran menjadi keras dan timbul konstipasi. Dengan modifikasi perilaku, anak dibiasakan untuk duduk di toilet selama 5-10 menit setelah makan sehingga membantu melatih saluran cerna, membuat kebiasan untuk pergi ke toilet, dan mendorong pola buang air besar yang lebih teratur.

Jika konstipasi tidak dapat diatasi dengan kedua cara diatas, maka bisa diberikan obat-obat tertentu yang membantu melunakkan kotoran dan meningkatkan motilitas saluran cerna. Enema juga merupakan salah satu pilihan untuk anak yang mengalami konstipasi. Namun, tindakan ini hanya dilakukan jika diperlukan dan dibawah petunjuk dokter.

PENCEGAHAN

Untuk membantu mencegah terjadinya konstipasi pada anak, bisa dilakukan : 

  • Tawarkan makanan tinggi serat pada anak, misalnya buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan sereal atau roti gandum. Jika anak tidak mau makan makanan tinggi serat, maka mulailah dengan menambahkan sedikit serat setiap hari.
  • Dorong anak untuk minum air yang cukup setiap hari
  • Melakukan aktivitas fisik secara teratur, untuk membantu menstimulasi fungsi usus yang normal
  • Buat kebiasaan untuk pergi ke toilet dan buang air besar. Tentukan waktu yang rutin setelah makan untuk anak pergi ke toilet dan buang air besar. Jika perlu, berikan alas sehingga anak merasa nyaman duduk di toilet.
  • Ingatkan anak untuk merasakan "panggilan alam". Beberapa anak sibuk dengan aktivitasnya sehingga mengabaikan keinginan untuk buang air besar. Menunda-nunda untuk buang air besar bisa menyebabkan masalah untuk jangka panjang.
  • Lihat obat-obat yang digunakan. Jika anak mengkonsumsi obat-obat tertentu, maka perlu dilihat apakah ada obat-obat yang bisa menyebabkan konstipasi. Untuk itu, tanyakan pada dokter anak Anda mengenai pilihan lainnya.
REFERENSI

- C, Deborah M. Constipation in Children. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

- C, William J. Constipation in Children. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

- Mayo Clinic. Constipation in Children. 2013.

Regan Nutracare

Obat Terkait
 
Dokter Terkait
DOKTER SPESIALIS ANAK
 
 
Artikel Terkait

Info Penyakit

Granuloma Inguinale
Granuloma Inguinale

Deskripsi : Granuloma Inguinale adalah suatu penyakit
Baca selengkapnya »

Stenosis Katup Trikuspidalis
Stenosis Katup Trikuspidalis

Deskripsi : Stenosis katup trikuspidalis merupakan penyempitan
Baca selengkapnya »

Tentang Produk

FARMOXYL SYRUP

Sirup 125 mg/5 mL x 60 mL.

NUTRILIN SYRUP

Botol sirup 100 mL.