nothing
Gangguan stress pasca-trauma / Posttraumatic Stress Disorder
nothing
Medicastore
Gangguan Stress Pasca-Trauma (PTSD)

Gangguan_Stress_Pasca-Trauma_(PTSD).JPG

Sumber : http://anxietytreatmenthub.com

 
DEFINISI

Gangguan Stress Pasca Trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang disebabkan oleh kejadian traumatik, dimana nantinya penderita akan kembali mengalami kejadian tersebut secara berulang-ulang, biasanya sebagai mimpi buruk atau kilas balik. Rasa takut, tak berdaya atau ngeri bisa menghantui penderita. Penderita akan berusaha menghindari benda-benda yang mengingatkannya akan trauma tersebut.

PENYEBAB

Mengalami atau menyaksikan suatu peristiwa traumatik yang menyebabkan kematian atau luka serius bisa mempengaruhi seseorang untuk waktu yang lama setelah peristiwa tersebut berlalu. Ketakutan hebat, ketidakberdayaan, atau pengalaman menakutkan selama peristiwa traumatik bisa menghantui seseorang dan menyebabkan gangguan stress.

Peristiwa-peristiwa yang bisa menyebabkan gangguan stress pasca-trauma antara lain berupa :

  • Peristiwa yang berhubungan dengan peperangan.
  • Mengalami atau melihat kekerasan fisik atau seks.
  • Terkena bencana, baik bencana alam (misalnya, angin topan) atau buatan manusia (misal, kecelakan mobil hebat).
GEJALA

Banyak orang pernah mendapatkan peristiwa traumatik dan mengalami gangguan stress pasca-trauma, misalnya veteran perang atau korban pemerkosaan dan tindak kekerasan lainnya. Gangguan ini mempengaruhi setidaknya 8% orang sepanjang hidup mereka, termasuk masa kanak-kanak. Jika gangguan stres pasca-trauma telah berlangsung selama 3 bulan atau lebih, maka kondisi ini dinyatakan kronis.

Kadang gejala stres pasca trauma baru muncul setelah beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun setelah kejadian traumatik berlalu. Gangguan stress pasca-trauma (Post-Traumatic Stress Disorder-PTSD) ditandai oleh adanya pengulangan ingatan yang mengganggu akan peristiwa traumatik yang mengguncang jiwa.

Penderita bisa kerap kali mengalami mimpi buruk dan terkadang peristiwa traumatik seperti terulang kembali (flashback). Gangguan hebat seringkali terjadi saat penderita berhadapan dengan peristiwa atau keadaan yang mengingatkan mereka pada trauma asal, misalnya perayaan akan peristiwa traumatik tersebut, melihat senjata setelah sebelumnya pernah dipukul dengan senjata ketika perampokan, atau berada di perahu kecil setelah sebelumnya pernah mengalami kecelakaan tenggelam.

Penderita akan terus menghindari benda-benda atau hal-hal yang mengingatkan mereka pada peristiwa traumatik tersebut. Penderita juga bisa berusaha menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan mengenai peristiwa tersebut dan juga menghindari kegiatan, keadaan, atau orang yang bisa mengingatkan akan peristiwa traumatik tersebut. Mekanisme penghindaran juga bisa berupa amnesia (hilangnya ingatan) untuk aspek tertentu dari peristiwa traumatik. Penderita mengalami gangguan reaksi emosional dan gejala-gejala yang muncul meningkat (seperti sulit tidur, menjadi waspada terhadap tanda-tanda bahaya, atau mudah terkejut). Gejala depresi sering terjadi, dimana penderita hanya menunjukkan sedikit ketertarikan pada aktifitas yang menyenangkan sebelumnya. Munculnya rasa bersalah juga sering terjadi, misalnya saat penderita bisa bertahan hidup tetapi orang lain tidak.

DIAGNOSA

Diagnosa gangguan stress pasca-trauma didasarkan dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada, melalui evaluasi psikologis. Dokter atau ahli kesehatan jiwa akan menanyakan tanda-tanda dan gejala-gejala yang dialami, berupa apa, kapan terjadinya, seberapa sering, dan sudah berapa lama terjadi. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan fisik untuk melihat apakah terdapat gangguan medis lainnya.

PENGOBATAN

Pengobatan untuk gangguan stres pasca trauma meliputi:

  1. Terapi perilaku. Penderita dihadapkan pada keadaan yang bisa memicu timbulnya ingatan akan trauma yang pernah dialaminya.
  2. Pengobatan bisa diberikan untuk mengatasi gejala yang ada, misalnya depresi atau cemas.
  3. Psikoterapi. Penderita diyakinkan bahwa respon yang dialaminya adalah wajar. Psikoterapi akan membantu penderita untuk menghadapi ingatannya. Penderita akan diajarkan bagaimana cara mengendalikan kecemasan, yang akan membantu mengatur dan menggabungkan ingatan yang menyakitkan ke dalam kepribadiannya. Psikoterapi yang bersifat insight-oriented bisa membantu orang yang merasa bersalah untuk memahami mengapa mereka menghukum diri mereka sendiri dan membantu menghilangkan rasa bersalah.

Gangguan stress pasca trauma kronis bisa tetap ada, tetapi biasanya sangat berkurang seiring dengan berjalannya waktu, meskipun tanpa pengobatan.

PENCEGAHAN

Setelah mengalami peristiwa traumatik, banyak orang awalanya mengalami gejala-gejala gangguan stress pasca trauma, seperti tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang telah terjadi. Munculnya rasa bersalah, takut, cemas, marah, dan depresi, merupakan reaksi yang umum terjadi pasca trauma. Meskipun penderita mungkin tidak ingin membicarakannya kepada orang lain atau bahkan tidak mau memikirkannya, tetapi adanya dukungan bisa membantu pemulihan. Dukungan ini bisa berasal dari keluarga, teman, atau bahkan ahli kesehatan jiwa. Adanya dukungan dan bantuan untuk penderita bisa membantu mencegah memburuknya reaksi stress yang normal dan mencegah terjadinya gangguan stress pasca trauma.

REFERENSI

- G, John H. Post Traumatic Stress Disorder. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

- Mayo Clinic. Post Traumatic Stress Disorder. 2011.

Laica Biocalth

Obat Terkait
 
Dokter Terkait
DOKTER SPESIALIS KESEHATAN JIWA (PSIKIATER)
DOKTER SPESIALIS KESEHATAN JIWA ANAK
 
 
Artikel Terkait

Info Penyakit

Infeksi HIV
Infeksi HIV

Deskripsi : Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Baca selengkapnya »

Amenore (Tidak Menstruasi)
Amenore (Tidak Menstruasi)

Deskripsi : Amenore adalah tidak terjadinya menstruasi.
Baca selengkapnya »

Tentang Produk

LEVORES TABLET 500 MG

Tablet Salut Selaput 500 mg x 10's.

BODREX MIGRA

Blister isi 4 tablet