nothing
informasi penyakit Pembesaran Prostat orang tua
nothing
Medicastore
pembesaran prostat pada orang tua

pembesaran_prostat_pada_orang_tua.jpg

Sumber : www.google.com

 
DEFINISI

BPH (Benigna Prostat Hyperplasia) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan dan sumbatan (obstruksi dan ristriksi) pada jalan urine (urethra).

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah penyebab umum dari gejala gangguan fungsi urinari pada pria usia lanjut. Benign Prostatic Hyperplasia merupakan akibat dari pembesaran (proliferasi) pada sel terutama sel epitel (sel pembentuk terletak paling luar pada organ )dari kelenjar prostat.

Puncak kejadian BPH terjadi pada umur 63-65 tahun. Gejala penyakit jarang terjadi pada pria lebih muda dari 50 tahun, tetapi beberapa gejala gangguan pengosongan urinari terjadi pada pria 60 tahun.

Anatomi prostat

Gambar anatomi dari prostat

Sumber : http://sakitprostat.com

 

PENYEBAB

BPH terjadi pada umur yang semakin tua dimana fungsi testis sudah menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron dan estrogen serta turunan dari hormon testosteron yaitu dehidrotesteosteron sehingga memacu pertumbuhan / pembesaran prostat, yang kemudian pembesaran tersebut menekan jalan atau saluran kencing.

Prostat bengkak

Gambar pembesaran prostat

Sumber : www.herbalacemaxs.web.id

GEJALA

sindroma prostatisme ini di bagi menjadi dua, yaitu gejala obstruktif (sumbatan/hambatan), dan gejala iritatif (menggangu)

  • Gejala obstruksi
  • - Terdiri dari pancaran melemah,

    - Akhir buang air kecil belum terasa kosong (Incomplete emptying),

    - Menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy),

    - Harus mengedan saat buang air kecil (straining),

    - Buang air kecil terputus-putus (intermittency),

    • Gejala iritatif

    - Terdiri dari sering buang air kecil (frequency),

    - Tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency),

    - Buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia),

    - Dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence).

    - Rasa nyeri pada waktu berkemih (disuria)

    Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter.

     

    DIAGNOSA

    Diagnosis dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

    1. Anamnesis,

    berupa munculnya gejala obstruktif dan iritatif yang  dialami pasien

    2. Pemeriksaan fisik, dengan pemeriksaan colok dubur

    Colok dubur pada hiperplasia prostat yang dinilai adalah pembesaran prostat, serta  konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul (benjolan).

    Colok dubur unutk periksa prostat

    Gambar pemeriksaan colok dubur

     Sumber : www.get-prostate-healthy.com

     

    3. Pemeriksaan laboratorium,

    melalui darah (PSA, BUN, serum kreatinin) dan urinalisis (untuk mengetahui ada tidaknya hematuria (kencing berdarah), infeksi maupun inflamasi(peradangan).

    Pemeriksaan petanda tumor (Prostate Spesific Antigen = PSA) sudah banyak digunakan, juga merupakan salah satu sarana untuk menyingkirkan dugaan keganasan.

    4. Pemeriksaan pencitraan (imaging), yaitu :

    A. Foto polos abdomen

    B. Pielografi intravena

    C. Voiding Sistometrogram

    D. Sistogram retrogard

    E. USG transrectal pada prostat

    F. USG pada ginjal

    G. Biopsi prostat

    5. Pemeriksaan lain

    A. Uroflowmetri

    Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 – 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 – 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.

    B. Tekanan pancaran

    C. Volume residu urin (PVR)

    Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi. Pada orang normal sisa urin biasanya 0 mL atau kosong, sedang pada BPH total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Besar PVR > 25-30 mL menandakan kegagalan pengosongan kandung kemih dan beresiko munculnya infeksi saluran kemih. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi (tindakan pembedahan) pada penderita BPH

     

     

    PENGOBATAN

    Obat-obatan :

    • Alfa 1-blocker, seperti Doxazosin, Prazosin, Tamsulosin dan Terazosin. Obat-obat tersebut menyebabkan pengenduran (relaksasi) otot-otot pada kandung kemih.
      Finasteride & Dutasteride, menghambat hormon DHT yang menyebabkan pembesaran prostat. Diperlukan waktu sekitar 3-6 bulan sampai terjadinya perbaikan yang berarti. Efek samping dari obat tersebut adalah berkurangnya gairah seksual dan impotensi.
      Obat lainnya, misalnya untuk mengobati prostatitis kronis (infeksi prostat), yang seringkali menyertai BPH, bisa diberikan antibiotik.

    Pembedahan :

      Pembedahan biasanya dilakukan terhadap penderita yang mengalami kesulitan untuk mengendalikan pengeluaran air kemih, adanya darah dalam air kemih, kesulitan untuk berkemih, atau infeksi saluran kemih berulang. Pemilihan prosedur pembedahan tergantung dari beratnya gejala serta ukuran dan bentuk kelenjar prostat, misalnya :

       

    • TURP (trans-urethral resection of the prostate), merupakan pembedahan BPH yang paling sering dilakukan, yaitu dengan memasukan alat endoskopi ke dalam penis. Karena tidak melakukan sayatan, maka risiko terjadinya infeksi berkurang.

      TURP bedah untuk pembengkakan prostat

      Gambar tindakan opertif TURP

      Sumber : http://lpkeperawatan.blogspot.com

    • Prostatektomi terbuka. Sebuah sayatan bisa dibuat di perut di atas tulang kemaluan atau di daerah perineum (daerah skrotum sampai anus). Tindakan ini jarang digunakan karena angka kejadian impotensi setelah pembedahan mencapai 50%.
    REFERENSI

    - Purnomo, Basuki B., 2000, Dasar-Dasar Urologi, Sagung Sto, Jakarta.

    - Snell, Richard S., 1998, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran,  Ed.3., EGC, Jakarta

    - Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta

    - Martono, Parsudi, I, Hiperplasia Prostat Dalam Ilmu Geriatri,2014

    - http://sanirachman.blogspot.com/2009/11/benigna-prostat-hiperplasia.html

    - https://danifarmakoterapi.wordpress.com/2012/06/16/benign-prostatic-hyperplasia-bph-20/

     

    Artikel terkait :

     - Pembesaran prostat jinak

     

     

    Saras Subur Ayoe

    Info Penyakit

    Meningitis Kronis
    Meningitis Kronis

    Deskripsi : Meningitis Kronis adalah suatu infeksi
    Baca selengkapnya »

    Vaksinasi
    Vaksinasi

    Deskripsi :
    Baca selengkapnya »

    Tentang Produk

    LODECON FORTE CAPLET

    Kaplet forte 10 x 10 butir.

    DISUDRIN ORAL DROPS

    Botol dengan pipet tetes 7,5 mg/0,8 mL x 10 mL.

    Korespondensi - Copyright - Disclaimer - Profil Medicastore - Cari Info Penyakit - Cari Info Obat - Cari Dokter
    Informasi yang tersedia di medicastore.com dikumpulkan dari berbagai sumber dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi
    ataupun kunjungan kepada dokter anda. Bila anda memiliki masalah kesehatan, hubungilah dokter anda.
    All rights reserved | © 2016 - www.medicastore.com