nothing
Sindroma Distres Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)
nothing
Medicastore
Sindroma Distres Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)

Sindroma_Distres_Pernafasan_(Penyakit_Membran_Hialin).JPG

Sumber : http://www.uofmchildrenshospital.org

 
DEFINISI

Sindroma Gawat Pernafasan (dulu disebut juga sebagai Penyakit Membran Hialin) adalah suatu keadaan dimana kantung-kantung udara (alveoli) di dalam paru-paru bayi tidak dapat tetap terbuka karena tingginya tegangan permukaan akibat kekurangan atau tidak adanya surfaktan.

PENYEBAB

Surfaktan merupakan suatu bahan yang melapisi alveoli di dalam paru-paru, yang dihasilkan oleh sel-sel di dalam alveoli. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan alveoli, sehingga alveoli dapat tetap terbuka sepanjang siklus pernafasan agar bayi bisa bernafas dengan bebas. Surfaktan biasanya mulai dihasilkan saat usia kehamilan sekitar 32 minggu.

Semakin prematur bayi yang dilahirkan, maka semakin sedikit surfaktan yang ada, sehingga semakin besar risiko terjadinya sindroma gawat pernafasan pada bayi setelah dilahirkan.

Sindroma gawat pernafasan hampir selalu terjadi pada bayi baru lahir yang prematur, dan lebih sering terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan diabetes. Pada kasus yang jarang, sindroma ini bersifat diturunkan dalam keluarga.

Pada bayi yang terkena, paru-paru menjadi kaku dan kantung-kantung udara cenderung untuk kolaps secara total, sehingga paru-paru tidak terisi udara. Pada sebagian bayi baru lahir yang sangat prematur, paru-paru bisa menjadi sangat kaku, sehingga bayi tidak mampu untuk mulai bernafas saat dilahirkan. Namun, lebih sering terjadi, bayi baru lahir mencoba bernafas, tetapi karena paru-paru sangat kaku maka terjadi kesulitan untuk bernafas yang berat.

GEJALA

Gejala-gejala sindroma gawat nafas pada bayi baru lahir berupa :
- takipneu (pernafasan yang cepat)
- tertariknya otot dinding dada saat menghirup nafas (retraksi interkostalis)
- cuping hidung mengembang saat menarik nafas
- nafas pendek dan saat menghembuskan nafas terdengar suara seperti dengkuran
- apneu
- sianosis (warna kulit dan selaput lendir membiru) karena kadar oksigen yang rendah di dalam darah
- edema (pembengkakan tungkai atau lengan)

Selama beberapa jam kemudian, kesulitan bernafas pada bayi cenderung menjadi semakin berat karena adanya kelelahan dari otot-otot yang digunakan untuk upaya bernafas, sedikit surfaktan di dalam paru-paru telah terpakai, dan semakin banyak alveolus yang kolaps. Pada akhirnya, jika tidak ditangani, bayi baru lahir bisa mengalami kerusakan pada otak dan organ-organ tubuh lainnya karena kekurangan oksigen atau bahkan bisa meninggal.

Komplikasi lain yang bisa terjadi :

  • Pneumotoraks
    Paru-paru sangat kaku dan untuk mengembangkannya diperlukan tekanan yang lebih dari bayi maupun ventilator. Akibatnya paru-paru bisa pecah sehingga udara merembes ke dalam rongga dada. Udara ini menyebabkan paru-paru menjadi kolaps dan terjadinya gangguan ventilasi dan sirkulasi. Kolaps paru-paru (pneumotoraks) memerlukan penanganan segera, yaitu dengan cara mengelurkan udara dari dada dengan bantuan sebuah jarum
  • Perdarahan di dalam otak
  • Displasia bronkopulmoner
  • Sepsis
  • DIAGNOSA

    Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
    - Gejala-gejala yang ada
    - Hasil pemeriksaan fisik
    - Hasil analisa gas darah (menunjukkan kadar oksigen yang rendah dan asidosis)
    - Rontgen dada yang abnormal

    PENGOBATAN

    Setelah dilahirkan, bayi baru lahir dengan sindroma gawat nafas yang ringan mungkin hanya membutuhkan pemberian oksigen tambahan. Namun, bayi baru lahir yang mengalami sindroma gawat nafas yang berat mungkin membutuhkan alat bantu nafas, seperti CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), dimana bayi dapat bernafas dengan sendirinya saat diberikan oksigen atau udara yang sedikit bertekanan pada hidungnya, atau bisa juga dibantu dengan ventilator.

    Bayi dengan CPAP (Sumber : http://de.wikipedia.org)

    Pemberian surfaktan bisa merupakan tindakan yang menyelamatkan nyawa dan mengurangi komplikasi, misalnya pneumotoraks. Surfaktan buatan yang diberikan bekerja dengan cara yang sama seperti surfaktan yang asli. Surfaktan bisa diberikan melalui selang kecil yang dimasukkan melalui jalan nafas bayi segera setelah bayi lahir atau saat gejala mulai terlihat. Pemberian surfaktan bisa diulang beberapa kali sampai sindroma gawat nafas membaik.

    PENCEGAHAN

    Risiko terjadinya sindroma gawat nafas pada bayi baru lahir bisa sangat diturunkan jika persalinan ditunda hingga paru-paru janin telah menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang cukup.

    Jika persalinan prematur tidak dapat dihindari, maka saat bayi masih berada dalam kandungan, bisa dilakukan uji kematangan paru. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai surfaktan pada cairan ketuban, yang diambil dengan cara amniosentesis atau dari vagina ibu (jika ketuban telah pecah). Surfaktan terdiri dari campuran lipid, protein, dan glikoprotein, termasuk lesitin dan sfingomielin. Pada uji kematangan paru, dilihat rasio lesitin-sfingomielin, yang merupakan penanda dari kematangan paru janin.

    Jika diperkirakan bahwa paru-paru bayi belum matang, namun persalinan tidak dapat ditunda, maka bisa diberikan kortikosteroid kepada ibu minimal 24 jam sebelum waktu perkiraan persalinan. Kortikosteroid akan melewati plasenta dan mempercepat pembentukan surfaktan pada paru-paru janin.

    REFERENSI

    - K, Arthur E. Respiratory Distress Syndrome. Merck Manual Handbook. 2009.

    - K, Anand D. M, John T. Respiratory Distress Syndrome. The Merck Manual. 2012.

    Obat Terkait
     
    Dokter Terkait
    DR ANAK SUBSPESIALIS PARU/PULMONOLOGI
    DR ANAK SUBSPESIALIS PERINATALOGI
     
     
    Artikel Terkait

    Info Penyakit

    Setelah Perawatan Gigi
    Setelah Perawatan Gigi

    Deskripsi : Beberapa keadaan dapat terjadi
    Baca selengkapnya »

    Kolestasis
    Kolestasis

    Deskripsi : Kolestasis adalah berkuranganya atau terhentinya
    Baca selengkapnya »

    Tentang Produk

    MARVELON LIMAS 28

    Limas tablet 28 biji.

    FIXEF DRY SYRUP

    Sirup kering 100 mg/5 mL x 30 mL.