nothing
Penyakit Kanker Kolorektal (rektum) - medicastore.com
nothing
Medicastore
Kanker Kolorektal

Kanker_Kolorektal_(rektum) 1.JPG

Sumber : www.mayoclinic.com

 
DEFINISI

Di negara barat, kanker usus besar (kolon) dan rektum (kanker kolorektal) adalah salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi dan kanker penyebab kematian no 2. Angka kejadian kanker kolorektal mulai meningkat pada usia 40 tahun dan puncaknya pada usia 60-75 tahun.

Hampir semua kanker usus besar dan rektum (kolorektal) merupakan suatu adenokarsinoma. Kanker kolorektal biasanya dimulai sebagai suatu pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau rektum, atau sebagai polip. Kemudian kanker akan mulai memasuki dinding usus. Kelenjar getah bening di dekatnya juga bisa terkena. Karena darah dari dinding usus dibawa ke hati, kanker kolon biasanya menyebar (metastase) ke hati segera setelah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

PENYEBAB

Seseorang dengan riwayat keluarga menderita kanker kolorektal, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker kolorektal. Riwayat polip pada keluarga juga meningkatkan risiko kanker kolorektal. Penderita kolitis ulserativa atau penyakit Crohn memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kanker. Risiko ini berhubungan dengan usia penderita saat kelainan ini timbul, seberapa besar usus atau rektum yang terkena, dan berapa lama penderita telah mengalami kelainan ini.

Makanan memegang perananan penting dalam resiko kanker kolorektal, tetapi bagaimana caranya, tidak diketahui. Di seluruh dunia, orang dengan resiko tertinggi adalah orang-orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak, tinggi protein hewani, tinggi karbohidrat, dan rendah serat. Selain itu adanya paparan terhadap polusi udara dan air (karsinogen) juga memegang peranan dalam terjadinya kanker.

GEJALA

Kanker kolorektal tumbuh perlahan dan lama sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Gejalanya tergantung kepada jenis, lokasi dan penyebaran kanker. Rasa lelah dan lemah akibat perdarahan yang tidak kelihatan bisa merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.

Tumor pada usus besar sebelah kiri (kolon desendens) lebih sering menyebabkan sumbatan pada stadium awal, karena ukurannya yang lebih kecil, dindingnya yang lebih tebal, dan konsistensi feses (kotoran) yang agak padat. Kanker cenderung untuk tumbuh melingkar pada daerah kolon yang terkena, sehingga menyebabkan timbulnya konstipasi dan sering buang air besar secara bergantian, sebelum akhirnya terjadi sumbatan (obstruksi). Penderita juga dapat merasakan adanya nyeri perut yang hebat atau seperti kram. Tinja bisa berdarah, tetapi lebih sering darahnya tersembunyi (tidak terlihat), dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.

Usus besar sebelah kanan (kolon asendens) memiliki diameter yang besar dan dinding yang tipis. Karena isinya berupa cairan, kolon asendens tidak akan tersumbat sampai pada stadium akhir kanker. Tumor pada kolon asendens bisa menjadi sangat membesar sehingga dapat dirasakan melalui dinding perut.

Kebanyakan kanker kolon menyebabkan perdarahan, tapi biasanya perlahan. Tinja dapat dilapisi atau bercampur dengan darah, tetapi seringkali perdarahan yang terjadi tidak terlihat. Untuk itu diperlukan pemeriksaan darah samar terhadap tinja.

Pada kanker rektum, gejala pertama yang paling sering adalah perdarahan saat buang air besar. Jika terjadi perdarahan rektum, bahkan jika penderita diketahui juga menderita wasir atau penyakit divertikel, juga harus dipikirkan kemungkinan terjadinya kanker. Pada kanker rektum, penderita bisa merasa nyeri dan rasa seperti rektum belum sepenuhnya kosong. Duduk bisa terasa sakit. Tetapi biasanya penderita tidak merasa nyeri karena kankernya, kecuali kanker sudah menyebar ke jaringan diluar rektum.

DIAGNOSA

Seperti kanker lainnya, pemeriksaan screening rutin, membantu penemuan dini kanker kolorektal. Pemeriksaan dapat dimulai sejak usia 50 tahun. Tinja diperiksa secara mikroskopik untuk melihat adanya darah samar. Agar hasil pemeriksaan lebih akurat, maka penderita sebaiknya makan makanan tinggi serat dan bebas daging merah selama 3 hari, sebelum contoh tinja diambil untuk diperiksa. Jika ditemukan adanya darah, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sigmoidoskopi merupakan pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk deteksi dini. Pada sigmoidoskopi dilakukan pemeriksaan usus besar bagian bawah dengan menggunakan kamera khusus. Selain itu, ada juga pemeriksaan kolonoskopi yang memeriksa keadaan seluruh usus besar. Orang-orang yang berisiko tinggi untuk terjadi kanker kolorektal atau yang mengalami buang air besar dengan darah, sebaiknya melakukan kolonoskopi untuk pemeriksaan awal.

Kolonoskopi

Jika kanker telah terdiagnosa, maka biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan, rontgen dada, dan pemeriksaan darah rutin untuk melihat apakah kanker telah menyebar, mendeteksi apakah terjadi anemia, dan mengevaluasi keadaan umum penderita.

Pemeriksaan darah tidak digunakan untuk mendiagnosa kanker kolorektal, tetapi pemeriksaan ini dapat membantu untuk memonitor efektivitas terapi setelah tumor diangkat. Pemeriksaan darah yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar CEA (Carcinoembryonic Antigen). Kadar CEA tinggi sebelum dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker, tetapi akan turun setelah pembedahan dilakukan. Kadar CEA dapat digunakan untuk memonitor apakah kanker muncul kembali. Dua penanda kanker lainnya, yaitu CA 199 dan CA 125, mirip dengan CEA dan terkadang kadarnya juga meningkat pada kanker kolorektal.

PENGOBATAN

Pada sebagian besar kasus kanker kolon dilakukan pembedahan untuk mengangkat bagian usus yang terkena dan juga kelenjar getah bening di dekatnya. Jika kanker telah menembus dinding usus besar dan menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya, maka perlu dilakukan kemoterapi setelah pembedahan, meskipun efek kemoterapi itu sendiri seringkali rendah.

Untuk kanker rektum, jenis pembedahan yang dilakukan tergantung dari seberapa jauh lokasi kanker dari anus dan seberapa dalam kanker menembus dinding rektum. Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi, yaitu pembedahan untuk menghubungkan usus besar langsung ke dinding perut. Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut keluar ke dalam suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi. Jika masih mungkin untuk dilakukan pengangkatan sebagian rektum saja sehingga masih ada rektum yang tersisa dan anus yang utuh, maka bagian rektum yang tersisa dihubungkan kembali dengan usus besar.

Setelah kanker kolorektal diangkat melalui pembedahan, maka perlu dilakukan kolonoskopi untuk memeriksa usus yang tersisa setiap tahun selama 5 tahun dan kemudian setiap 3 tahun jika tidak ditemukan adanya polip atau tumor. Pemeriksaan darah, seperti hitung darah lengkap dan pemeriksaan fungsi hati, dapat dilakukan setelah pembedahan. CT scan atau MRI juga dapat dilakukan jika ditemukan kelainan saat pemeriksaan atau jika pemeriksaan darah didapatkan hasil yang abnormal.

Kanker rektum yang telah menembus dinding rektum dan menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya perlu dilakukan kemoterapi dan terapi radiasi setelah pembedahan. Terapi penyinaran setelah pengangkatan tumor, diharapkan bisa membantu mengendalikan pertumbuhan tumor yang tersisa, memperlambat kekambuhan dan memperpanjang masa harapan hidup. Terkadang kemoterapi dan terapi radiasi juga dapat dilakukan sebelum pembedahan.

Jika kanker telah menyebar sampai ke kelenjar getah bening yang jauh dari kolon atau rektum, ke permukaan rongga perut, atau organ tubuh lainnya, maka kanker tidak dapat ditangani hanya dengan pembedahan saja. Pembedahan terkadang dilakukan untuk mengatasi adanya sumbatan (obstruksi) pada usus dan untuk meredakan gejala. Kemoterapi dapat diberikan untuk dapat mengecilkan ukuran kanker dan memperpanjang harapan hidup penderita untuk beberapa bulan.

Jika kanker hanya menyebar ke hati dan terdapat 3 tumor atau kurang, terkadang pembedahan dapat dilakukan untuk mengangkat tumor-tumor ini. Obat kemoterapi mungkin dapat disuntikkan langsung ke pembuluh darah yang mensuplai hati.

Jika kanker menyebabkan sumbatan pada usus besar pada orang yang tidak dapat dilakukan pembedahan, maka tumor dikecilkan dengan menggunakan elektrokauter atau laser. Semua tindakan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kolonoskop. Namun, meskipun penderita seringkali merasa lebih baik setelah terapi dilakukan, tetapi terapi ini tidak dapat memperpanjang waktu harapan hidup.

Penyebaran kanker & angka harapan hidup penderita kanker kolorektal

Penyebaran kanker

Angka harapan hidup

dalam 5 tahun

Kanker hanya terdapat pada lapisan mukosa usus 90%
Kanker menyusup ke dalam lapisan otot usus 80%
Kanker menyebar ke kelanjar getah bening 30%
REFERENSI

- L, Elliot M. Colorectal Cancer. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

Info Penyakit

Gangguan Koordinasi
Gangguan Koordinasi

Deskripsi : Gangguan koordinasi disebabkan oleh gangguan
Baca selengkapnya »

Diabetes Insipidus
Diabetes Insipidus

Deskripsi : Diabetes Insipidus adalah suatu keadaan
Baca selengkapnya »

Tentang Produk

IRVELL TABLET 150 MG

Tablet 150 mg x 2 x 10 butir.

PASQUAM CREAM

Krim 50 mg / g x 20 g.