nothing
Gangguan Menstruasi Amenore (tidak menstruasi)
nothing
Medicastore
Amenore (Tidak Menstruasi)

Amenore_(Tidak_Menstruasi).JPG

Sumber : http://www.healthcentral.com

 
DEFINISI

Amenore adalah tidak terjadinya menstruasi. Amenore hanya normal terjadi saat sebelum pubertas, saat hamil, saat menyusui, dan setelah menopause.

Beberapa wanita tidak pernah mengalami pubertas, sehingga ia tidak pernah mengalami menstruasi. Kelainan ini disebut amenore primer. Pada wanita lainnya, menstruasi mulai terjadi saat pubertas, namun kemudian berhenti. Kelainan ini disebut amenore sekunder.

Amenore juga dapat dibedakan dari berbagai hal :

  • Apakah terjadi pelepasan sel telur (ovulasi) atau tidak
  • Dimana kelainan terjadi, apakah di hipotalamus (yang mengendalikan hormon-hormon yang mengatur siklus menstruasi), kelenjar pituitari (yang menghasilkan hormon untuk menstimulasi indung telur), atau indung telur (yang menghasilkan hormon yang langsung mengendalikan siklus menstruasi)
  • Apa jenis kelainan yang menyebabkannya, apakah genetik, struktural, hormonal, autoimun, atau lainnya

Kebanyakan wanita mengalami amenore tanpa adanya ovulasi (tidak ada sel telur yang dilepaskan).

Amenore juga dapat mengindikasikan adanya kehamilan (penyebab paling sering terjadinya amenore sekunder) atau sebagai gejala awal kelainan yang serius dan harus dievaluasi.

PENYEBAB

Kelainan fungsi pada bagian manapun dari sistem horomonal kompleks yang mengatur siklus menstruasi dapat menyebabkan amenore.

Dalam keadaan normal, hipotalamus (bagian dari otak yang terletak diatas kelenjar pituitari) mengirimkan sinyal kepada kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon-hormon yang merangsang dilepaskannya sel telur oleh ovarium.

Jika terjadi kelainan pembentukan hormon hipofisa, maka bisa menyebabkan terhambatnya pelepasan sel telur dan terganggunya serangkaian proses hormonal yang terlibat dalam terjadinya menstruasi.

Sistem horomonal kompleks yang mengatur siklus menstruasi terdiri dari : hipotalamus, kelenjar pituitari, indung telur, kelenjar adrenal, dan kelenjar tiroid. Kelainan fungsi dari organ-organ ini dapat menyebabkan amenore primer atau sekunder, tergantung kapan kelainan fungsi terjadi. Kelainan fungsi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya genetik, hormonal, autoimun, infeksi, tumor, cedera, terapi radiasi, dan obat-obatan.

Beberapa kondisi tertentu bisa hanya menyebabkan amenore primer, misalnya :

  • Cacat bawaan, misalnya tidak memiliki rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, hymen imperforata
  • Kelainan kromosom, misalnya sindroma Turner (hanya memiliki satu kromosom X)

Pada beberapa kelainan genetik, ovulasi tidak pernah dimulai, sehingga pubertas dan karakteristik seksual sekunder tidak dapat berkembang secara normal.

Beberapa keadaan berikut biasanya hanya menyebabkan amenore sekunder :

  • Sindroma ovarium polikistik. Sindroma ini ditandai dengan adanya periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak terdapat menstruasi, kegemukan, tingginya kadar hormon pria, dan seringkali adanya kista-kista pada ovarium.
  • Mola hidatidosa
  • Sindroma Asherman, adanya jaringan parut pada permukaan rahim akibat infeksi atau pembedahan
  • Penggunaan obat-obat tertentu, termasuk obat-obat hallusinogen, kokain, opioid, obat kemoterapi, obat antipsikotik, obat anti-depresan, dan obat kontrasepsi oral pada wanita yang telah mengalami periode menstruasi

Adanya stressor dan kelainan lain akibat gangguan internal atau situasional juga dapat menyebabkan terjadinya amenore. Stress mengganggu pengendalian otak terhadap indung telur, misalnya olahraga yang terlalu berlebihan, gangguan pola makan, atau kurang gizi dapat menyebabkan otak mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari untuk menurunkan produksi hormon yang menstimulasi indung telur. Akibatnya, indung telur menghasilkan estrogen yang lebih sedikit dan menstruasi tidak terjadi atau berhenti. Kelainan psikiatri, seperti depresi atau kelainan obsesif-kompulsif, juga dapat merupakan suatu stressor.

Sumber : http://health.allrefer.com

GEJALA

Amenore dapat disertai atau tidak disertai dengan gejala-gejala lain, tergantung dari penyebabnya. Gejala-gejala lainyang dapat terjadi antara lain : jerawat, rambut tubuh yang berlebihan (hirsutisme), suara yang dalam, sakit kepala, gangguan penglihatan, hot flash, vagina menjadi kering, dan gairah seksual yang menurun.

Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan ditemukan tanda-tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk tubuh.

Jika penyebabnya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran perut.

Jika amenore berlangsung untuk waktu yang lama, maka kondisi ini dapat menyebabkan masalah yang biasanya berhubungan dengan menopause, misalnya penurunan densitas tulang (osteoporosis) dan peningkatan risiko terjadinya gangguan jantung dan pembuluh darah.

DIAGNOSA

Amenore primer didiagnosa ketika menstruasi belum juga terjadi sampai usia 16 tahun. Anak perempuan yang tidak mengalami tanda-tanda pubertas (misalnya perkembangan payudara dan rambut kemaluan) sampai usia 13 tahun atau belum menstruasi sampai 5 tahun sejak pubertas dimulai harus dievaluasi untuk menemukan adanya gangguan-gangguan yang mungkin terjadi, misalnya kelainan genetik atau organ.

Amenore sekunder didiagnosa ketika seorang wanita usia reproduktif (yang tidak hamil, menyusui, atau menopause) tidak mengalami menstruasi minimal 6 bulan sejak menstruasi terakhir. Terkadang amenore sekunder didiagnosa jika wanita tersebut tidak menstruasi selama 3 bulan jika periode menstruasi sebelumnya teratur. Untuk itu, perlu juga diketahui bagaimana pola makan, kebiasaan olahraga, riwayat pemakaian obat-obatan, dan kondisi lain yang dapat menyebabkan amenore.

Wanita yang telah memiliki tanda-tanda pubertas dan wanita usia reproduktif yang mengalami amenore perlu dilakukan pemeriksaan kehamilan untuk menyingkirkan kemungkinan amenore akibat kehamilan.

Pemeriksaan fisik dapat membantu dokter untuk menentukan apakah pubertas telah terjadi dan apakah terjadi dengan normal. Pemeriksaan panggul dapat dilakukan untuk menentukan apakah organ-organ genitalia terbentuk dengan normal dan apakah terdapat kelainan.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebabnya :

  • Pemeriksaan kadar hormon di dalam darah
  • Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) otak untuk melihat apakah terdapat tumor kelenjar pituitari
  • CT Scan, MRI, atau ultrasonografi untuk melihat apakah terdapat tumor pada indung telur atau kelenjar adrenal
  • Hormon (estrogen dan progestin) dapat diberikan untuk mencoba memicu terjadinya menstruasi. Respon ini dapat membantu dokter untuk menentukan apakah kelainan terdapat pada rahim atau kelenjar pituitari atau hipotalamus
PENGOBATAN

Penyebab yang mendasari terjadinya amenore diobati sebisa mungkin. Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor tesebut. Jika penyebabnya adalah kegemukan atau penurunan berat badan yang drastis, maka penderita dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat. Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk menguranginya. Namun, ada beberapa kelainan, seperti kelainan genetik, belum dapat diobati.

Jika seorang anak perempuan belum pernah mengalami menstruasi dan semua hasil pemeriksaan normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang setiap 3-6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya. Hormon Progesterone dan terkadang Estrogen dapat diberikan untuk memulai menstruasi dan menstimulasi perkembangan ciri-ciri seksual sekunder, misalnya payudara.

Gangguan-gangguan yang berkaitan dengan amenore, misalnya osteoporosis atau rambut tubuh yang berlebihan, juga dapat diobati.

REFERENSI

- P, JoAnn V. Amenorrhea. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

Info Penyakit

Kolitis Hemoragika
Kolitis Hemoragika

Deskripsi : Kolitis Hemoragika adalah salah satu
Baca selengkapnya »

Pielonefritis
Pielonefritis

Deskripsi : Pielonefritis adalah infeksi bakteri pada
Baca selengkapnya »

Tentang Produk

COUGH EN EXPECTORANT SYRUP

Sirup 60 ml.

QIDROX CAPLET 500 MG

Kaplet 500 mg x 3 x 10 biji.