nothing
Informasi inkontinensia urin / mengompol pada orang dewasa
nothing
Medicastore
Mengompol bukan cuma dialami oleh anak kecil
10-07-2011 | Bekti-medicastore.com
Email EMAIL  | Print PRINT  | RSS RSS
 

Mengompol atau inkontinensia urin ternyata bukan cuma dapat dialami oleh anak kecil. Orang dewasa pun dapat mengalami mengompol atau inkontinensia urin tersebut karena berbagai sebab, bisa karena stres, proses penuaan, atau karena adanya masalah kesehatan lainnya. Pada orang dewasa, kejadian mengompol atau inkontinensia urin tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidupnya & bahkan menjadi beban bagi penderitanya baik dari segi psikologis maupun sosial seperti rasa nyeri, malu, depresi dan rasa cemas.

 

Nara sumber dalam acara media edukasi tentang inkontinensia urin

 

Jenis-jenis inkontinensia urin

 

Dr. dr. Nur Rasyid, SpU dalam acara media edukasi RS. Asri mengenai inkontinensia urin, mengatakan, “Gejala inkontinensia dapat terjadi pada pria dan wanita. Jenis inkontinensia dapat dibedakan menjadi jenis stres dimana air seni keluar saat aktivitas fisik seperti batuk, bersin, tertawa dan saat olahraga, jenis urge yang disertai dengan gejala harus tergesa-gesa ke kamar kecil serta sering kencing di siang dan malam hari, dan jenis overflow akibat pembesaran prostat atau kelemahan otot-otot kandung kemih. Jenis inkontinensia yang bermacam-macam ini memerlukan prosedur diagnostik yang akurat karena dibutuhkan diagnosis inkontinensia yang tepat untuk menentukan terapi yang tepat pula”

 

Penyebab inkontinensia urin

 

Menurut dr. Chaidir Mochtar, PhD, SpU, “Pada pria terdapat beberapa penyebab inkontinensia urin, salah satunya adalah sebagai komplikasi dari pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH). BPH menyebabkan dinding kandung kemih menjadi lebih sensitif”.

 

“Pembesaran kelenjar prostat bisa menyebabkan pembesaran otot kandung kemih disertai pembentukan jaringan ikat yang menyebabkan fungsi kontraksi otot kandung kemih tidak stabil. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa sulit buang air kecil, yang apabila urin tidak segera dikeluarkan akan menumpuk di kandung kemih dan menjadi sarang perkembangbiakan bakteri yang berakhir pada radang/infeksi kandung kemih, radang/infeksi prostat dan bisa membentuk batu dalam kandung kemih,”lanjutnya.

 

Sedangkan pada wanita menurut dr. Harrina E. Rahardjo, SpU, PhD, penyebab terjadinya inkontinesia urin biasanya adalah karena “Pada wanita, inkontinensia urin dapat terjadi akibat kelemahan otot-otot dasar panggul yang dapat disebabkan karena proses penuaan (aging), perubahan kadar hormon saat menopause, kegemukan, riwayat persalinan cara normal dengan berat badan lahir bayi yang besar dan operasi-operasi daerah panggul seperti pengangkatan rahim.

 

Hal-hal tersebut dapat menyebabkan inkontinensia tipe stres. Jenis inkontinensia yang lain dapat disebabkan karena kontraksi yang berlebihan pada otot kandung kemih (inkontinensia tipe urge/OAB). Hal ini menimbulkan sensasi untuk buang air kecil yang sulit ditahan sehingga sering air kencing sudah keluar sebelum sampai ke kamar mandi, dan disertai keluhan lain seperti sering kencing di siang dan malam hari” tambahnya.

 

Cara mendiagnosis inkontinesia urin

 

Salah satu upaya dalam menegakkan diagnosis inkontinensia yaitu dengan pemeriksaan urodinamik. Pemeriksaan ini merupakan suatu pemeriksaan diagnostik yang dapat menentukan jenis inkontinensia dan penyebab yang mendasarinya. Melalui pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis inkontinensia yang dialami, apakah tipe stress/urge/campuran/overflow, kapasitas kandung kemih, tekanan kandung kemih saat pasien berkemih dan adakah kontraksi otot kandung kemih (ketidakstabilan otot kandung kemih) saat kandung kemih belum penuh. Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk menentukan diagnosis inkontinensia yang tepat dan juga untuk kasus-kasus inkontinensia yang sudah diobati namun belum menunjukkan hasil atau pada pasien-pasien yang memerlukan tindakan pembedahan.

 

Penanganan inkontinesia urin

 

Menurut Dr. Arry Rodjani, SpU menjelaskan: “Terdapat beberapa macam tata laksana pada inkontinensia. Terapinya dapat berupa obat-obatan (medikamentosa) atau terapi pembedahan (operasi). Tindakan operasi untuk Inkontinensia urin biasanya hanya dilakukan jika pengobatan yang lebih konservatif tidak membantu. Prosedur operasi untuk stres inkontinensia umumnya berupa sling atau suspensi. Kedua prosedur ini pada prinsipnya adalah menyangga kantong kemih agar tidak turun akibat lemahnya otot-otot dasar panggul. Tindakan ini sudah umum dilakukan dengan hasil yang baik. Ada juga tindakan pembedahan yang memang harus dilakukan untuk memperbaiki kelainan yang ada seperti pada kasus-kasus kebocoran kantong kemih ke dinding vagina akibat komplikasi dari trauma persalinan, trauma panggul, komplikasi akibat radiasi pada tumor kandungan atau karena sebab yang lain. Juga pada kasus kelainan bawaan ureter ektopik, dimana ureter tidak bermuara pada kantong kemih tapi bermuara di sekitar vagina sehingga celana si anak selalu basah dengan urin di samping buang air kecil seperti biasa.”

 

Total Hit : 5041
Saras Subur Ayoe

Artikel Terkait
 
Penyakit Terkait
 
Komentar
Masukkan komentar Anda, untuk seminar diatas.
Nama:
Email:
Komentar:
  
Daftar Komentar
  cara cepat menurunkan berat badan27 Oct 2011
sorry your comment contains disallowed character

 0 dislike
 0 like
Laporkan
Beri Tanggapan
 
Klik disini untuk berkomentar melalui account anda:
 
 
Korespondensi - Copyright - Disclaimer - Profil Medicastore - Cari Info Penyakit - Cari Info Obat - Cari Dokter
Informasi yang tersedia di medicastore.com dikumpulkan dari berbagai sumber dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi
ataupun kunjungan kepada dokter anda. Bila anda memiliki masalah kesehatan, hubungilah dokter anda.
All rights reserved | © 2016 - www.medicastore.com