nothing
Informasi Kesehatan | Obat | Penyakit | 02129323456
nothing
Medicastore
Simposium Mini Sanatorium Dharmawangsa: Alergi dan Psikiatri
16-11-2007 | Scientific Medicastore
Email EMAIL  | Print PRINT  | RSS RSS
 

Sanatorium Dharmawangsa yang berlokasi di daerah Kebayoran Baru kembali mengadakan simposium mini yang menjadi acara rutin setiap bulannya pada hari Sabtu, 10 November 2007 lalu. Simposium mini kali ini bertemakan Alergi dan Psikiatri, yang membahas kelainan kulit sebagai manifestasi gangguan psikiatrik.

Apakah Anda memiliki alergi yang tidak kunjung sembuh? Apakah dermatitis merupakan penyakit kambuhan untuk Anda? Apakah penyakit kulit sering muncul pada waktu tertentu? Jika iya, maka alergi yang Anda derita bukan alergi biasa melainkan ada masalah psikiatri di baliknya.



dr. L. Suryantha Chandra, Sp.KJ
Dr. L. Suryantha Chandra, Sp.KJ, seorang psikiater yang berpraktek di Sanatorium Dharmawangsa mengungkapkan, “Faktor psikologis penting untuk berkembangnya semua penyakit. Psikologis dapat berperan sebagai yang memulai penyakit (initiation), yang melanjutkan (progression), yang memperberat (aggravation) dan reaksi terhadap penyakit (reaction to a disease).”

Pada tahun 1994 dulu, penyebab stres terbanyak antara lain kematian pasangan, perceraian, kematian keluarga dekat, perpisahan keluarga. Sekarang, di tahun 2007, penyebab stres adalah konflik multidimensi, kemelut politik, kecelakaan, resesi ekonomi, harga naik. Belum lagi bencana alam dimana-dimana dan busway syndrome di kota Jakarta.

dr. L. Suryantha Chandra, Sp.KJ yang lebih akrap disapa dr. Chandra menjelaskan, “Stres adalah perubahan respon fisik, mental, dan emosional yang timbul setiap perubahan/keadaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.”

Setiap orang berbeda-beda kemampuan dalam menghadapi peubahan. “Tergantung dari struktur kepribadian orang jika punya daya tahan yang memadai tidak akan terjadi apa-apa, tapi kalau neurotik bisa stres,” lanjut dr. Candra.

Menurut Hans Selye (1907-1982), manusia memiliki reaksi terhadap stres. Tahap pertama disebut dengan reaksi alarm, dilanjutkan dengan tahap resisten dimana proses adaptasi berhasil sehingga tercapai ketahanan. Tahap ketiga disebut tahap exhaustion yang terjadi bila adaptasi hilang/gagal, sehingga timbul penyakit.

Stres lama-kelamaan menjadi depresi. Depresi pun kemudian muncul dengan gejala tidak bisa tidur (insomnia), merasa dirinya gemuk (anoreksia), gerakannya melambat, berat badan turun, tidak ada nafsu, tidak bisa konsentrasi, perubahan mood yang cepat (diurnal mood) dan muncul halusinasi (delusi).

Stres dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam tubuh, seperti jantung berdenyut dengan cepat, temperatur tubuh meningkat dan kadar gula darah meningkat. Stres juga bisa mempengaruhi respon kekebalan. Bahkan, stres yang berkepanjangan dapat membuat daya tahan tubuh menurun sehingga mudah kena penyakit.

Stres dapat juga mengaktivasi respon kekebalan melalui cara yang berbeda yaitu dengan mobilisasi faktor kekebalan seluler seperti keluarnya makrofag yang berlebihan dan mobilisasi kekebalan humoral. “Kekebalan humoral terutama yang bekerja dalam stres,” papar dr. Chandra.

Kekebalan humoral (sitokin) seperti keluarnya inteleukin-1 sampai inteleukin-6. Faktor-faktor ini berperan dalam timbulnya reaksi alergik pada tubuh seseorang seperti sinusitis, dermatitits dan kondisi alergik yang lain.

dr. Chandra yang pernah berpraktek menjadi dokter umum sebelum melanjutkan spesialisasinya mengungkapkan bahwa banyak pasien yang datang berobat ke dokter umum mengalami gangguan depresi yang umumnya muncul sebagai depresi terselubung.

Depresi terselubung adalah depresi yang disertai keluhan fisik dominan seperti nyeri kepala kronis, nyeri saraf otot (neuralgia), nyeri dada, impotensi, gangguan kulit. Banyak dari pasien ini yang tidak menyadari bahkan tidak mau mengakui bahwa dirinya menderita depresi.

dr. Ari Muhandari Ardhie, SpKK


dr. Ari Muhandari Ardhie, SpKK, seorang spesialis kulit dan kelamin dari Klinik Kulit & Kelamin RSAB Harapan Kita Jakarta menceritakan pengalamannya, “Kalau pasien ditanya apakah sedang stres, mereka langsung marah dan menyangkalnya.”

Hal ini didasari oleh stigma yang buruk di masyarakat sehingga tidak ada yang mau mengakui dirinya mengalami stres/depresi yang merupakan salah satu gangguan kejiwaan. Sebenarnya tidak perlu malu jika memang membutuhkan pertolongan. Bisa-bisa, depresinya semakin parah sehingga kehidupan pun menjadi terganggu.

“Stres baik fisik dan psikis dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga penyakit lain pun timbul,” jelas dr. Ari. Hampir setiap kunjungan ke dokter, khususnya dokter kulit, pasien selalu mengatakan semua keluhan penyakitnya sebagai alergi.

Lebih lanjut dr. Ari menjelaskan, “Alergi adalah respon kekebalan tubuh, tapi berlebihan sehingga jelek. Alergi muncul melalui paru berupa asma, di hidung berupa bersin (rinitis), di kulit berupa eksim dan biduran.”

Alergi tidak menular, tetapi menurun dalam keluarga. Pada keluarga umumnya ditemukan pula manifestasi alergi, meskipun mungkin bentuknya berbeda. Keadaan ini disebut sebagai kondisi Atopi yaitu kecenderungan seseorang untuk bereaksi berbeda atau berlebihan terhadap bahan-bahan yang umum dijumpai sehari-hari.

“Sebanyak 80% orang berbakat alergi,” kata dr. Ari. Kecenderungan alergi ini ditentukan oleh gen yang diwariskan dari orang tua. Tapi tidak semua anak dari keluarga atopi akan mengalami alergi.

Berdasarkan pengalamannya, dr. Ari menyadari ada tanda yang menunjukkan seseorang berbakat alergi atau tidak. Tandanya yaitu alisnya tipis di ujung karena sering dikucek-kucek, kelopak mata bawahnya berwarna gelap dan ada vertical line di puncak hidung.

Reaksi alergi ada yang cepat dan yang berjalan lambat. Pada reaksi cepat, alergen menempel pada sel mast dalam tubuh yang mengandung histamin sehingga sel mast pecah dan keluarlah histamin yang muncul sebagai biduran di kulit.

Untuk meredakannya, digunakan antihistamin. Dulu, antihistamin memiliki efek samping menimbulkan kantuk sehingga tidak bisa digunakan untuk pekerjaan yang memerlukan kesadaran tinggi seperti berkendara.

Kini telah ada antihistamin yang tidak menimbulkan kantuk yaitu loratadin. “Antihistamin ini tidak bikin kantuk karena tidak menembus sawar otak,” jelas dr. Ari. Loratadin merupakan antihistamin generasi baru ini.

Meskipun dr Ari tidak memiliki data mengenai jumlah pasien gangguan alergi akibat stres, dr Ari pernah menyarankan pasiennya untuk menemui psikiater. Tidak menutup kemungkinan bahwa yang terjadi justru terbalik. “Kelainan kulit bisa mempengaruhi kelainan jiwa,” ungkap dr Ari.

dr Chandra memiliki tips untuk penderita depresi. Jika orang depresi masih malu untuk menemui psikiater, pergilah menemui dokter umum terlebih dahulu atau bahkan psikolog jika merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan mereka.

Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.

Total Hit : 5767
Saras Subur Ayoe

Artikel Terkait
Tes Alergi
Tangani dengan Tepat Alergi Anda
 
Penyakit Terkait
 
Komentar
Masukkan komentar Anda, untuk seminar diatas.
Nama:
Email:
Komentar:
  
Daftar Komentar
  dr.Susan Budiman07 Oct 2009
Yth.Dr.Chandra, Seminar yg bgs.sngt bermanfaat.untuk tips dari Dokter tent penderita depresi,bagaimana bila sebelumnya,hal ini,yaitu depresi,GAD,dll diterapkan k mahasiswa Dokter bahwa hal demikian di atas bs terjadi pd siapa saja karena kehidupan tdk lepas dari masalah(pajak,keuangan RT),berkabung,post power syndr,masalah anak,dll.*membudayakan konsultasi k psikiater**btk.

 0 dislike
 0 like
Laporkan
Beri Tanggapan
 
Klik disini untuk berkomentar melalui account anda:
 
 
Korespondensi - Copyright - Disclaimer - Profil Medicastore - Cari Info Penyakit - Cari Info Obat - Cari Dokter
Informasi yang tersedia di medicastore.com dikumpulkan dari berbagai sumber dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi
ataupun kunjungan kepada dokter anda. Bila anda memiliki masalah kesehatan, hubungilah dokter anda.
All rights reserved | © 2016 - www.medicastore.com