nothing
Informasi Kesehatan | Obat | Penyakit | 02129323456
nothing
Medicastore
Waspadai Stres dalam Pekerjaan!
31-03-2008 | nita-medicastore.com
Email EMAIL  | Print PRINT  | RSS RSS
 

Stres. Kata yang umum digunakan orang untuk mengungkapkan perasaannya. Hidup di kota besar seperti Jakarta memang memerlukan energi ekstra. Banyak hal di sekitar kita yang dapat menimbulkan stres. Contoh termudah adalah kemacetan yang selalu terjadi dan telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Belum lagi tuntutan pekerjaan yang kerap kali membuat kita berucap, “Aduh, stres nih!”

Stres dapat diartikan rasa tidak nyaman yang subjektif dialami individu sebagai akibat perubahan kondisi. Apabila rasa tidak nyaman ini berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi aktivitas sehari-hari, maka dapat disimpulkan Anda mengalami gangguan stres.

Kondisi atau peristiwa yang menuntut penyesuaian diri seseorang lebih tepat disebut sebagai stresor. Jenis stresor dapat berupa kondisi fisik (misalnya suara bising, udara panas) dan kondisi psikososial (misalnya hubungan suami-istri yang tidak harmonis, pertengkaran, memiliki anak yang bermasalah).

Banyaknya orang yang mengalami stres dalam pekerjaan mendorong Sanatorium Dharmawangsa menyelenggarakan mini simposium bertajuk “Stres Dalam Pekerjaan” pada hari Sabtu, 29 Maret 2008. Hadir sebagai pembicara tunggal adalah Dr. Tun Kurniasih Bustaman, Sp.KJ yang merupakan psikiater di Sanatorium Dharmawangsa.

dr_tun_stres_dalam_pekerjaanDr. Tun menjelaskan bahwa rangsangan stres akan menghasilkan reaksi yang tandanya bersifat umum (tidak spesifik) yang terdiri dari tiga fase, yakni: fase alarm, fase bertahan dan fase kelelahan.

Pada fase alarm akan muncul tanda-tanda peringatan untuk bersiap, apakah akan menyelesaikan masalah atau malah kabur dari masalah. Jika fase alarm ini didiamkan dan terus berlanjut, maka akan sampai ke fase bertahan dan jika terus berlanjut akan sampai ke fase kelelahan. “Jadi, kalau ada stres, harus cepat diatasi, agar tidak sampai ke fase kelelahan”, nasihat Dr. Tun.

Dr. Tun menganalogikan stres yang didiamkan dan dipendam seperti memegang sebuah benda. Jika hanya sebentar kita memegangnya tentu tidak akan terasa berat. Namun jika kita harus memegangnya seharian penuh, mau tak mau akan membuat kita terbebani.

Reaksi Tubuh Terhadap Stres

Dalam persiapan untuk mengatasi stres, tubuh kita akan bereaksi. Fight or flight, atasi atau lari dari stres yang dialami. Ada pendapat yang menyatakan bahwa stres ringan cenderung meningkatkan sistem kekebalan tubuh, namun sebaliknya stres berat akan mengacaukannya.

Yang menarik adalah ketika Dr. Tun mengungkapkan bahwa sel T (sel tubuh yang berhubungan dengan sistem kekebalan) akan menurun jika terlalu banyak menonton film horor. Dr. Tun menyarankan untuk menonton film yang sifatnya menghibur seperti film komedi karena sesungguhnya tertawa (humor) sangat baik untuk kesehatan jiwa.

Stres juga bisa berdampak positif. Stres positif akan membuat seseorang lebih berpengalaman dan lebih kuat ketika keluar dari stres (masalah) tersebut. “Stres terkadang diperlukan agar kita bisa menghadapi setiap permasalahan yang timbul,” kata psikiater lulusan Universitas Indonesia itu.

Sementara stres negatif berhubungan dengan timbulnya gangguan psikiatrik dan non-psikiatrik. Sebelum timbul gangguan psikiatrik yang nyata dapat didahului dengan gejala-gejala seperti gangguan tidur, gangguan konsentrasi, dan penurunan produktivitas. Jadi waspadai jika anda mengalami gejala seperti di atas, mungkin saja anda sedang dalam tahap menuju stres.

Gangguan psikiatrik yang terjadi mulai dari psikosis (hilangnya kemampuan menilai realitas), gangguan mood (hilangnya minat, penilaian negatif diri sendiri sampai keinginan untuk mati), gangguan cemas (berpikir buruk tentang sesuatu yang belum terjadi), dan gangguan stres pasca-trauma misalnya menjadi korban bencana alam, korban penganiayaan, korban kecelakaan (timbul gejala penghayatan berulang mengenai peristiwa traumatis tersebut, dalam mimpi atau ketika terjaga).

Pendekatan komprehensif menyatakan bahwa terdapat hubungan erat antara berbagai peristiwa yang menjadi stresor dengan timbulnya, memicu kambuhnya atau menjadikan lebih parah berbagai penyakit fisik (dan sebaliknya). Gangguan non-psikiatrik seperti ini ditemui pada mereka yang menderita penyakit (misalnya diabetes mellitus, kanker, hipertensi) disertai stres, sehingga penyakit tersebut jadi sulit untuk terkontrol.

Kaitan Stres dan Pekerjaan

Menurut Dr. Tun, stres dalam pekerjaan dapat diklasifikasikan dalam lima kondisi, yakni:

  1. Tuntutan pekerjaan. Karakteristik pekerjaan yang berkaitan dengan stres seperti pengambilan keputusan (menuntut keputusan yang cepat), pemantauan alat atau informasi, aktivitas manual yang kompleks, dan lingkungan kerja yang tidak nyaman.
  2. Konflik peran. Misalnya seorang wanita karier yang mengalami konflik antara tugas rumah tangga dengan tugas yang mengharuskannya sering ke luar kota.
  3. Peran yang tidak jelas karena deskripsi tugas yang tidak jelas dan beban kerja yang tidak merata.
  4. Bertanggung jawab terhadap orang lain, yakni posisi yang mengharuskan memiliki anak buah yang perlu dimotivasi dan diberi sanksi. Stres dapat timbul ketika anak buah sulit untuk diatur.
  5. Kondisi lain yang dapat menjadi sumber stres, seperti kurangnya penghargaan (berkaitan dengan gaji dan fasilitas yang diperoleh dari perusahaan), kondisi lingkungan kerja dan perubahan-perubahan (misalnya bekerja dalam sistem shift yang terus berubah-ubah).

Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Dalam paparannya, Dr. Tun juga menjabarkan gejala umum dari depresi, yakni:

  • Pada mood, motivasi, dan psikologik: murung terus-menerus, kehilangan minat/gairah, putus asa, tak berdaya, merasa diri tak berharga, rasa bersalah/sikap negatif terhadap diri sendiri, konsentrasi/memori terganggu, pikiran tentang kematian/bunuh diri, mudah menangis.
  • Gejala fisik: motorik lamban (lambat dalam bergerak) atau agitasi, cepat lelah/kurang tenaga, gangguan tidur, gangguan nafsu makan (berat badan berkurang atau bertambah).

Berikut adalah alternatif pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengungkapkan depresi.

  1. Apakah anda merasa sedih atau murung?
  2. Apakah anda kehilangan minat atau rasa senang terhadap hal-hal yang dulunya anda minati?
  3. Apakah anda merasa tenaga anda menurun dan/atau lelah sepanjang waktu?
  4. Apakah anda mengalami masalah masuk tidur atau bangun jauh lebih awal dari sebelumnya?
  5. Apakah anda kehilangan nafsu makan atau makan lebih dari biasanya?
  6. Apakah anda sulit konsentrasi?
  7. Apakah anda menjadi lebih lambat dalam berpikir atau waktu bergerak?
  8. Apakah minat seksual anda berkurang?
  9. Apakah anda menilai negatif terhadap diri sendiri?
  10. Apakah anda berpikir tentang kematian?
  11. Apakah anda sering merasa bersalah?

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang aktivitas sehari-hari, khususnya yang berhubungan dengan fungsi sosial dan pekerjaan, misalnya hubungan dengan keluarga, pasangan, anak, kerabat, aktivitas sosial, pergaulan, produktivitas dan mutu kerja, serta absensi.

Cara mengatasinya dapat dengan pemberian obat-obatan (farmakoterapi) yang disesuaikan dengan manifestasi gejala. Bila terjadi psikotik dapat diberi anti psikotik, bila perlu dirawat. Bila gejala cemas yang menonjol, dapat diberi anticemas (antianxietas). Bila terjadi depresi dapat diberi antidepresi. Pemberian obat-obatan ini harus sepenuhnya berada di bawah pengawasan dokter.

Terapi lainnya adalah psikoterapi (talking therapy/terapi bicara) yang dapat dilakukan secara individual, dasarnya adalah empati, dukungan dan memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya. CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang intinya membuat pasien menyadari pandangannya terhadap situasi stres, bahwa pandangan tersebut akan mempengaruhi timbulnya emosi dan respon perilaku negatif, kemudian mengajari pasien untuk mengubah pola pandangnya.

Yang terpenting adalah dengan melakukan latihan manajemen stres yang terdiri dari:

  • Self-observation: kenali diri sendiri, apakah ada perasaan tidak nyaman, tidak produktif seperti biasanya, gangguan makan dan tidur.
  • Cognitive restructuring: ubah pola pikir, selalu berpikirlah positif.
  • Relaxation training: sempatkan untuk melakukan relaksasi selama 15-30 menit setiap hari, misalnya dengan melakukan yoga, spa, atau hanya berbaring.
  • Time management: pergunakan waktu sebaik mungkin untuk hal positif, misalnya saat terjebak kemacetan cobalah untuk mendengarkan kaset bahasa asing, lama kelamaan anda akan menguasai bahasa tersebut.
  • Problem solving: jika ada masalah harus segera diselesaikan, jangan tunggu sampai masalah membesar.
Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.

Total Hit : 2994
Saras Subur Ayoe

Artikel Terkait
 
Penyakit Terkait
 
Komentar
Masukkan komentar Anda, untuk seminar diatas.
Nama:
Email:
Komentar:
  
Daftar Komentar
  Yuni30 Apr 2009
sering kali kita menyadari bahwa kita mengalami stres dalam pekerjaan tapi kita tidak tahu cara untuk mengatasinya,dengan adanya seminar ini semoga bisa membantu kita mengenali gejala dan mengetahui cara mengatasi stres dalam pkerjaan

 0 dislike
 0 like
Laporkan
Beri Tanggapan
 
Klik disini untuk berkomentar melalui account anda:
 
 
Korespondensi - Copyright - Disclaimer - Profil Medicastore - Cari Info Penyakit - Cari Info Obat - Cari Dokter
Informasi yang tersedia di medicastore.com dikumpulkan dari berbagai sumber dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat, saran, konsultasi
ataupun kunjungan kepada dokter anda. Bila anda memiliki masalah kesehatan, hubungilah dokter anda.
All rights reserved | © 2016 - www.medicastore.com