Kesehatan
07-11-2002

ASI & Ibu Bekerja

Apabila anda adalah seorang wanita karir yang baru saja melahirkan dan harus segera kembali bekerja karena masa cuti hamil anda telah lewat, anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak dapat memberikan ASI kepada buah hati anda. ASI bisa anda perah dan anda simpan, apakah di lemari pendingin maupun freezer, untuk kemudian nanti diberikan oleh pengasuh buah hati anda ketika anda sedang berada di kantor.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ASI yang telah diperah bisa disimpan di dalam suhu ruangan (26,1°C) sampai 6 jam (Hamosh 1996) atau pada suhu 18,9-22,2°C sampai 10 jam (Barger and Bull 1987). Karena ASI setiap ibu berlainan dan suhu ruangan seringkali merupakan suatu pengukuran subjektif, maka biasanya dianjurkan untuk menyimpan ASI dalam suhu ruangan tidak lebih dari 4 jam.

Jika ASI belum akan diberikan dalam waktu 4 jam setelah diperah, maka dinginkan ASI di lemari es atau bekukan di freezer sesegera mungkin. ASI di dalam lemari pendingin dengan suhu 0-3,9°C bisa disimpan selama 8 hari (Pardou 1994).

ASI yang dibekukan bisa bertahan sampai 3-6 bulan, tergantung kepada suhu freezer dan frekuensi terbukanya pintu freezer. Deep freezer atau chest freezer mampu memberikan masa beku yang paling panjang karena biasanya memiliki suhu yang lebih rendah dan lebih konsisten. Jangan menyimpan ASI di dalam pintu freezer atau lemari pendingin karena di bagian pintu terjadi variasi suhu yang paling lebar.

Biasanya pilihan terbaik untuk membekukan ASI adalah di dalam botol yang terbuat dari kaca karena komponen ASI di dalam kaca lebih awet/terlindung. Pilihan kedua adalah plastik keras yang jernih. Kebanyakan ibu lebih menyukai botol yang terbuat dari plastik demikian juga halnya dengan rumah sakit/klinik bersalin, karena plastik tidak mudah pecah. Botol tempat menyimpan ASI sebaiknya memiliki tutup yang kencang/rapat.

Menyimpan ASI di dalam kantong susu bisa menimbulkan beberapa masalah. Susu bisa menempel pada sisi kantong sehingga jumlah yang diberikan kepada bayi akan berkurang. Kantong susu juga lebih peka terhadap kontaminasi akibat kebocoran. Beberapa produsen pompa ASI membuat kantong susu yang nyaman untuk digunakan dan terbuat dari plastik yang lebih tebal tetapi harganya mahal. Jika hendak menggunakan kantong, sebaiknya digunakan 2 lapis kantong lalu disimpan di dalam wadah plastik yang tertutup rapat, baru masukkan ke dalam freezer. Hal ini akan membantu mengurangi terjadinya robekan pada kantong. Pada saat menghangatkan, sebaiknya batas atas air tidak melebihi kantong sehingga air tidak masuk ke dalam kantong. Jika air yang digunakan untuk menghangatkan tampak berawan/keruh, berarti telah terjadi kebocoran dan ASI tersebut harus dibuang (Mohrbacher & Stock 1997).

Sebaiknya tidak digunakan botol yang berwarna-warni karena zat warnanya bisa masuk ke dalam ASI.

Berilah label pada setiap kemasan ASI yang mencantumkan tanggal pemerahan ASI dan gunakan terlebih dahulu stok yang terlama. Jika bayi anda dirawat di rumah sakit, pastikan bahwa pada label juga tertera nama anda/bayi anda dengan jelas, sehingga ASI tidak tertukar.

Untuk bayi kurang dari 6 minggu, sebaiknya ASI disimpan dalam botol sebanyak 29,5-59 mL, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghangatkan tidak terlalu lama dan ASI tidak banyak terbuang.

Untuk bayi yang lebih besar, jumlah ASI yang disimpan perbotolnya bisa disesuaikan dengan jumlah susu yang biasanya diminum. Tetapi akan lebih baik jika tetap menyimpan ASI dalam jumlah yang lebih kecil, kalau sewaktu-waktu bayi anda menginginkan susu lebih atau untuk selingan.

Belum banyak penelitian mengenai ASI yang telah disimpan, dihangatkan dan baru sebagian diminum oleh bayi. Akan lebih aman untuk memberikan ASI yang sebelumnya telah disimpan dalam waktu 1-2 jam setelah dihangatkan. Dan jika ASI masih tersisa, sebaiknya dibuang dan tidak disimpan lagi.