Kesehatan Scientific medicastore
10-08-2007

Asupan Gizi Bantu Kondisi Kesehatan ODHA

Ketika dinyatakan terinfeksi virus HIV, kebanyakan orang akan cemas dengan kelangsungan hidupnya. Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa ada virus HIV dalam tubuhnya. Belum lagi banyak penderita HIV yang belum memahami dampaknya terhadap kesehatan.

Sekali virus HIV masuk ke dalam tubuh manusia, virus tersebut akan terus hidup dalam tubuh penderita dengan menjadi inang yang memangsa sel kekebalan tubuh. Atas alasan inilah penderita HIV/AIDS disebut Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Sebagian besar ODHA menunjukkan penurunan berat badan sebelum akhirnya meninggal karena AIDS. Menurunnya berat badan tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi dari infeksi HIV.

Dr. Paul F Matulessy MN. PGK. DSpGK, dokter spesialis gizi klinik di RS UKI dan FK UI mengutarakan, ?penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 30 hari yang disertai diare/panas metabolik, kondisi ini disebut dengan AIDS Wasting Syndrome .

Pernyataan tersebut disampaikan dalam media edukasi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta berkerjasama dengan Kemitraan Australia-Indonesia dalam pogram Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project (IHPCP) 31 Juli 2007 di Putt-Putt Golf Senayan dengan tema Seputar Asupan Gizi Bagi ODHA.

Dr. Paul F menjelaskan penyakit AIDS Wasting Syndrome disertai starvasi (kelaparan), intake makanan kurang, malabsorpsi dan disregulasi metabolik. Malabsorpsi dan diare sering ditemukan pada ODHA. Penyakit diare terjadi disebabkan oleh M. Avium complex, Cryptosporodia, dll.

Agar berat badannya tidak menurun drastis dan masih dapat beraktivitas seperti sedia kala asupan gizi harus diperhatikan dengan baik. Jika ODHA mempunyai status gizi yang baik maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga memperlambat memasuki tahap AIDS.

ODHA memerlukan baik zat gizi makro maupun mikro. Zat gizi makro berperan dalam pembentukan massa tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan lemak. Zat gizi mikro yang terdiri dari vitamin, mineral dan air berfungsi dalam membentuk sistem kekebalan tubuh. Misalnya vitamin A, B-caroten, C, E, dan Se sebagai antioksidan, vitamin saraf seperti B1, B6, B12, Zinc, Fe.

Peran gizi pada infeksi HIV adalah untuk pembentukan kekebalan tubuh baru dimana pengrusakan oleh HIV yang terjadi lebih cepat. Keseimbangan antara pembentukan dan pengrusakan kekebalan tubuh oleh HIV yang menentukan status ODHA.

Dr. Paul menceritakan kisah pasien ODHA yang berhenti minum obat antiretroviral (ARV) dan menggantinya dengan buah merah. Seminggu kemudian, pasien tersebut malah meninggal. ?Buah merah hanya sebatas suplementasi mikronutrien yang membentuk sel CD4 dan limfosit T (komponen sel darah putih) yang baru, dan bukan membunuh virus AIDS. ?Jadi, jangan sampai menghentikan obat antiretroviral (ARV) dan menggantinya dengan buah merah,? jelas dr. Paul.

Penanganan gizi pada ODHA harus lebih diperhatikan. Apalagi mereka sudah minum obat-obatan antiretroviral (ARV). Makanan yang dikonsumsikan bisa berpengaruh pada penyerapan obat ARV dan obat Infeksi Oportunistik (IO).

Penggunaan obat ARV dan IO bisa juga menyebabkan gangguan gizi. Agar tidak terjadi terganggunya gizi bagi ODHA, pengaturan asupan gizi yang baik dan seimbang harus selalu diperhatikan.

Ineu Sariningrum, Ahli gizi RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RS PI-SS), Meningkatkan daya tahan tubuh ODHA adalah dengan makanan yang baik. Tujuannya untuk menghambat virus HIV dan menambah respon ARV karena beberapa obat ARV mempengaruhi asupan makanan.

Umumnya ODHA mengkonsumsi zat gizi di bawah optimal. Biasanya mereka hanya mengkonsumsi 70% kalori dan 65% protein dari total yang diperlukan tubuh. Konsumsi zat gizi yang demikian tidak memenuhi kecukupan kalori tubuh yang meningkat karena peningkatan proses metabolisme sehubungan dengan infeksi akut.

Kebutuhan kalori ODHA sekitar 2000-3000 Kkcal/hari dan protein 1,5-2 gram/kgBB/hari. Untuk mencukupi kebutuhan kalori dan protein sehari diberikan makanan lengkap 3 kali ditambah makanan selingan 3 kali sehari. Malah, ODHA dianjurkan untuk makan 3-8 porsi sehari, ungkap Ineu Sariningrum.

?Dulu berat badan saya jauh dari normal. Awalnya juga tidak tahu takaran gizi,? kata Indhi Sadrah, ODHA yang membagi pengalamannya dalam mengikuti program gizi di RS PI-SS. ?ODHA juga manusia, meski sakit tapi tidak terlihat dari fisik. Jadi, saya makan sedikit tapi sering," tambah Indhi.

Dr. Paul, Master Trainer untuk Care Support and Treatment AIDS dari WHO dan DEPKES ini pernah mengembangkan resep jus tempe untuk ODHA. Tempenya direbus terlebih dahulu. Kemudian dapat dicampur wortel dan apel, dicampur ubi, dicampur brokoli, dicampur belimbing. Rasanya enak dan manfaatnya besar, silakan mencoba.