Kesehatan Bekti-medicastore.com
18-10-2013

Anak Pucat dan Nafsu Makan Berkurang? Mungkin Menderita Anemia

afsu makan yang berkurang pada anak bisa karena berbagai hal, seperti misalnya tumbuh gigi, ingin mencoba makanan baru atau karena terlalu asyik bermain. Tetapi ternyata nafsu makan yang berkurang pada bayi dan anak bisa juga merupakan pertanda gejala anemia, apalagi bila dibarengi dengan muka/telapak tangan dan telapak kaki yang pucat. Untuk mengetahui lebih jelas lagi mengenai hal tersebut, maka kali ini medicastore.com mencoba membuat artikel mengenai anemia pada bayi, yang diambil dari nlm.nih.gov. 

Anemia pada Bayi, Penyebab dan Risikonya

Anemia merupakan kondisi dimana tubuh tidak mempunyai cukup sel darah merah yang sehat. Sel darah merah berguna untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Terdapat beberapa jenis anemia, salah satunya adalah anemia karena defisiensi zat besi. Jumlah zat besi yang sedikit tersebut akan membuat  menurunnya jumlah sel darah merah dalam darah.

Anemia karena defisiensi zat besi ini juga merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi. Zat besi didapatkan tubuh dari makanan yang dikonsumsi, selain itu tubuh juga mendapatkan zat besi dari penyerapan kembali sel darah merah yang tua di dalam darah.

Bayi dan anak-anak bisa mengalami anemia karena sebab-sebab berikut ini:

-  Mengkonsumsi makanan yang tidak cukup mengandung zat besi (merupakan penyebab yang paling umum terjadi)

- Tubuh tidak bisa menyerap zat besi dengan baik, meskipun makanan yang dikonsumsi sudah cukup mengandung zat besi

- Hilangnya darah dalam jumlah sedikit tapi dalam jangka waktu yang lama (misalnya adanya pendarahan di saluran pencernaan)

- Pertumbuhan yang cepat biasanya pada tahun pertama usia anak menyebabkan anak membutuhkan lebih banyak zat besi

Pada saat dilahirkan, bayi menyimpan cadangan zat besi di dalam tubuhnya. Tetapi karena mereka tumbuh dengan cepat, maka bayi dan anak-anak butuh untuk menyerap sekitar 11 mg zat besi setiap harinya.

Karena anak-anak hanya menyerap sekitar 10% dari zat besi yang terdapat pada makanan, maka sebagian besar anak-anak perlu untuk menerima 8-10 mg tambahan zat besi setiap harinya. Bayi yang diberi ASI membutuhkan kurang dari jumlah tersebut karena zat besi diserap 3 kali lebih baik bila terdapat dalam ASI.

Susu sapi merupakan penyebab utama dari defisiensi zat besi. Hal ini karena susu sapi mengandung zat besi yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan makanan lain dan juga membuat tubuh lebih sulit untuk menyerap zat besi dari makanan lainnya. Selain itu, susu sapi juga bisa menyebabkan keluarnya sedikit darah dari usus halus.

Risiko untuk terkena anemia karena defisiensi zat besi ini meningkat pada:

  • Bayi berusia kurang dari 12 bulan yang mengkonsumsi susu sapi daripada ASI atau susu formula
  • Anak-anak yang mengkonsumsi banyak susu sapi daripada makanan yang mensuplai tubuh dengan tambahan zat besi

Anemia karena zat besi ini biasanya banyak dialami oleh bayi berusia 9-24 bulan. Semua bayi pada usia tersebut sebaiknya diberikan tes skrining untuk defisiensi zat besi. Bayi yang dilahirkan prematur mungkin perlu dites lebih awal  untuk skrining zat besi. Selain itu defisiensi zat besi pada bayi juga bisa berkaitan dengan keracunan timbal.

Gejala dan Pemeriksaan Anemia pada Bayi

Berikut adalah gejala-gejala yang tampak pada bayi yang mengalami anemia:

  • Lapisan putih pada mata yang berwarna sangat pucat atau kebiru-biruan
  • Adanya darah dalam feses
  • Kuku yang rapuh
  • Menurunnya nafsu makan
  • Lelah
  • Sakit kepala
  • Rewel atau sering menangis
  • Kulit yang pucat
  • Nafas yang pendek
  • Sariawan pada lidah
  • Gemar mengkonsumsi makanan yang tak biasa (disebut juga dengan pica)
  • Lemah

Pada kasus anemia yang ringan, bisa saja gejala-gejala tersebut tidak muncul oleh karena itu perlu untuk dilakukan tes skrining supaya bisa didapatkan hasil yang tepat.

Untuk mendiagnosa terjadinya anemia, dokter selain melakukan pemeriksaan fisik juga akan melakukan pemeriksaan lain seperti misalnya pemeriksaan darah. Sampel darah akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, pada pemeriksaan mikroskopis, sel darah yang kekurangan zat besi akan terlihat kecil dan pucat. Selain itu, pemeriksaan lain yang bisa dilakukan meliputi:

  1. Pemeriksaan hematokrit
  2. Pemeriksaan serum ferritin
  3. Pemeriksaan serum zat besi
  4. Pemeriksaan total zat besi yang terikat (TIBC)
  5. Pemeriksaan saturasi zat besi (serum zat besi/TIBC) seringkali bisa menunjukkan apakah tubuh memiliki cukup zat besi atau tidak.

Penanganan Anemia pada Bayi

Untuk mengatasi anemia karena defisiensi zat besi pada bayi, bisa diberikan suplemen zat besi (Ferrous sulfate) yang diberikan melalui mulut (oral). Zat besi sebaiknya dikonsumsi pada keadaan perut kosong, tetapi banyak orang yang mengkonsumsinya dengan makanan untuk menghindari terjadinya gangguan pencernaan. Cara lain untuk meningkatkan penyerapan zat besi  ialah dengan cara mengkonsumsinya bersama dengan vitamin C.

Bila tidak bisa mengkonsumsi suplemen zat besi melalui mulut, maka bisa juga dengan cara disuntikkan ke otot (IM) atau pembuluh darah vena (IV).

Susu dan obat-obatan antasida bisa mengganggu penyerapan zat besi, oleh karena itu sebaiknya tidak dikonsumsi secara bersamaan dengan suplemen zat besi.

Dengan penanganan yang tepat, anemia bisa diatasi dengan baik. Pada sebagian besar kasus, jumlah sel darah merah akan kembali normal dalam waktu 2 bulan. Sangat penting untuk mencari penyebab dari terjadinya anemia karena defisiensi zat besi tersebut, supaya bisa diatasi dengan tepat.

Sebaiknya suplemen zat besi juga harus terus dikonsumsi selama 6-12 bulan sejak jumlah sel darah merah kembali normal. Hal ini untuk membantu tubuh menyimpan kembali cadangan sel darah merah. 

Pencegahan Anemia pada Bayi

The American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar  semua bayi untuk diberikan ASI atau susu formula yang telah difortifikasi dengan zat besi setidaknya sampai berusia 12 bulan. AAP juga tidak merekomendasikan untuk memberikan susu sapi pada anak yang masih berusia dibawah 1 tahun.

Pengaturan pola makan merupakan cara yang paling penting dalam hal pencegahan dan penanganan terjadinya anemia karena defisiensi zat besi. Makanan yang kaya akan kandungan zat besi antara lain adalah kismis, daging (terutama hati), ikan, unggas, kuning telur, kacang-kacangan dan roti gandum utuh.

Berikut adalah makanan-makanan yang mengandung zat besi :

1. Sumber zat besi yang baik

  • Sayuran hijau
  • Oatmeal
  • Kismis
  • Bayam
  • Ikan tuna

2. Sumber zat besi yang lebih baik

  • Ayam dan daging lainnya
  • Kacang-kacangan
  • Telur
  • Ikan
  • Kedelai
  • Kalkun

3. Sumber zat besi yang terbaik

  • Susu formula bayi yang telah difortifikasi dengan zat besi
  • ASI (zat besi dalam ASI lebih mudah diserap oleh anak)
  • Sereal untuk anak yang telah difortifikasi dengan zat besi
  • Hati

Dengan memberikan asupan gizi yang baik pada anak, dapat menghindari terjadinya masalah kesehatan yang bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si buah hati.

 

Sumber:

1. nlm.nih.gov

 

Informasi Produk Terkait :

1. Sangobion Baby Oral Drops

 

Save

Save