Berita nita-medicastore.com
23-09-2008

HPV Intai Setiap Perempuan

Dr. Irene Christ, SpOG tidak pernah menyangka dirinya akan menderita kanker serviks (leher rahim). Perubahan pola menstruasi yang dialaminya sekitar bulan Februari 2001, ternyata merupakan indikasi awal adanya kanker.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim pada Agustus 2001. Dari hasil patologi, diketahui bahwa kanker tak hanya ditemukan pada area serviks, namun juga pada rahimnya.

Dr. Irene sangat bersyukur karena hingga saat ini masih dapat berbagi tentang kisah hidupnya sebagai mantan penderita kanker serviks. Seperti yang dilakukannya dalam diskusi bertajuk “Saya Pikir Kanker Serviks Tidak Mungkin Saya Derita. Benarkah???” di Jakarta, 15 September yang lalu.

hpv_intai_setiap_perempuan
Dr. Irene Christ, SpOG; Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K);
dan Sandrina Malakiano

Bagi Anda para perempuan, jangan pernah berpikir bahwa Anda tidak mungkin menderita kanker serviks. Faktanya, semua perempuan berisiko terkena kanker serviks. Kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan di Indonesia.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tiap tahun di seluruh dunia 490.000 perempuan didiagnosa menderita kanker serviks dimana 80% kasus terjadi di negara berkembang dan 240.000 di antaranya meninggal dunia.

Sementara berdasarkan data Globocan tahun 2002, di seluruh dunia setiap 2 menit terjadi kematian karena kanker serviks, dengan 1 kasus baru setiap menitnya. Di Indonesia setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan berujung pada 20 kematian perempuan.

Dari Kanker Sampai Kutil Kelamin
99% kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Tidak ada gejala ataupun tanda yang khusus saat HPV menginfeksi, sehingga banyak orang tidak menyadari jika dirinya sudah terinfeksi HPV atau bahkan menularkannya.

Turut hadir dalam diskusi tersebut, Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) spesialis kandungan dari FKUI/RSCM yang memberikan penjelasan dan fakta seputar infeksi HPV.

Selain menyebabkan kanker serviks, HPV dapat menyebabkan kutil kelamin (genital warts/condiloma). Berbeda dengan kanker serviks yang hanya dapat diderita oleh perempuan, baik laki-laki maupun perempuan berisiko terkena kutil kelamin.

Kutil kelamin dapat didiagnosa melalui pengamatan langsung (visual) dan dapat dihilangkan melalui pengobatan oleh dokter. Penanganan dapat menghilangkan kutil kelamin, tetapi tidak menghilangkan virus penyebab yang ada di dalam tubuh. Karena virus tersebut masih ada di dalam tubuh, umumnya kutil kelamin sering muncul kembali walaupun setelah perawatan. Kutil kelamin yang sering kambuh tentunya menimbulkan beban psikologis bagi penderitanya.

Saat ini, kanker serviks dan kutil kelamin yang disebabkan oleh infeksi HPV dapat dicegah melalui vaksinasi yang dapat membantu memberikan sebagian perlindungan.

Kanker serviks dapat dicegah dengan berbagai upaya termasuk pencegahan primer dengan vaksinasi dan pencegahan sekunder dengan deteksi dini misalnya dengan pap smear. Melakukan pap smear secara teratur dapat membantu melindungi dari risiko berkembangnya kanker serviks.

“Perempuan yang telah menikah atau telah melakukan hubungan seksual, lakukanlah pap smear secara teratur,” pesan Dr. Ovi.