Berita Bekti-medicastore.com
23-10-2008

Launching Product : Ramelteon Obat Baru untuk Insomnia

Insomnia Insomnia adalah kekurangan tidur yang diakibatkan oleh satu atau lebih faktor berikut ini :

  • Kesulitan untuk tidur
  • Terjaga dari tidur berulang kali dengan kesulitan untuk kembali tidur
  • Terjaga dari tidur terlalu cepat
  • Tidur yang tidak nyaman
Adapun jenis-jenis dari insomnia :
  1. Insomnia Transient (jika keluhan sulit tidur terjadi kurang dari satu minggu). Penyebab : Stres yang akut, terjadi perubahan pada irama sirkadien, jetlag, system pekerjaan berdasarkan shift/giliran waktu
  2. Insomnia Jangka pendek (jika keluhan sulit tidur terjadi dalam 1-4 minggu). Penyebab : Stres yang terus menerus/berkelanjutan, penyakit akut, efek samping pengobatan
  3. Insomnia Kronis (jika keluhan sulit tidur terjadi lebih dari 4 minggu). Penyebab : Terjadi perubahan pada struktur kimia otak dan hormon otak, terdapat gangguan psikiatrik
Insomnia Kronis Penyebab Insomnia Kronis :
  • Terjadi perubahan kimiawi dan hormon otak, seperti hormon stress, hormon pertumbuhan, melatonin.
  • Sistem kekebalan : Interleukin-6, TNF
  • Terdapat gangguan psikiatrik: Kecemasan, depresi, BD, penggunaan zat-zat tertentu
  • Kondisi medis : Asma, rematologi, dan lain-lain
  • Efek samping pengobatan : Theophyllin, anti-depresan, beta-blocker
Dampak Insomnia Insomnia dapat berdampak merugikan :
  • Pemanfaatan waktu di sepanjang hari yang kurang maksimal sehingga berpengaruh pada turunnya produktivitas.
  • Kualitas hidup yang menurun
  • Penderita harus menggunakan perawatan kesehatan
  • Kerugian dalam hidup bermasyarakat
  • Kesehatan psikiatrik
  • Kesehatan fisik
Perawatan Insomnia Perawatan Insomnia sendiri bisa melalui berbagai cara:
  • Merawat semua penyebab utama, karena insomnia sendiri bisa disebabkan oleh penyakit seperti asma, rematologi, dll.
  • Kesehatan tidur yang baik, seperti membuat kamar tidurnya sehingga senyaman mungkin bisa dengan penataan lampu yang tidak terlalu terang dan juga pemilihan warna dinding kamar yang redup.
  • Psikoterapi, dengan cara konsultasi ke psikiater apabila penyebab insomnia karena adanya tekanan psikis seperti cemas, stress akibat pekerjaan ataupun adanya masalah dalam keluarga/pribadi.
  • Pengobatan, apabila ternyata cara-cara yang diatas sudah tidak bisa lagi mengobati insomnia sehingga perlu menggunakan pengobatan.
Golongan Obat Insomnia
  1. Benzodiazepin Receptor Agonist (BzRA)
    Merupakan pengobatan untuk insomnia yang paling umum digunakan, yang bekerja pada reseptor GABA
    Keunggulan potensial :
    1. Terbukti efektif dalam perawatan insomnia

    Kekurangan potensial :
    1. Dapat menimbulkan efek-efek psikomotor yang terjadi di tengah malam atau di hari berikutnya, seperti :
      • Ataxia
      • Sedasi sepanjang hari
      • Efek-efek kognitif
      • Sesak pada pernafasan
    2. Toleransi pada penghentian
    3. Insomnia pantulan
    4. Memiliki potensi penyalahgunaan dan ketergantungan (semua obat golongan BzRA memiliki batas waktu dalam pemberian resep)
  2. Ramelteon
    1. Bekerja pada potensi reseptor agonist MT1/MT2 yang selektif
    2. Terjadi afinitas yang tidak berarti pada reseptor GABA sehingga tidak menyebabkan kecanduan, toleransi, penyalahgunaan dan efek samping negative seperti pada obat-obatan BzRA
    3. Merupakan anti-insomnia pertama dengan kandungan yang tidak mengkontrol dan tidak berpotensi menimbulkan ketergantungan dan penyalahgunaan

Dari kiri-kanan : Dr. Bernardus Sidharta, Moderator, Prof.Dr.HM.Syamsulhadi, dr.Sp.KJ(K), DR.Dr.HJ.Nurmiati, Sp.KJ(K)

Ramelteon telah diakui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada bulan Juli 2005 sebagai obat resep untuk gangguan tidur pertama dan satu-satunya anti insomnia yang bukan merupakan obat yang dikontrol dan tidak menunjukkan bukti terjadinya penyalahgunaan dan ketergantungan Di Indonesia sendiri Ramelteon dipasarkan oleh PT.Takeda Indonesia dengan nama Rozerem TM dan telah mendapat persetujuan BPOM RI pada tanggal 29 Agustus 2008. Ramelteon dilaunching di Hotel JW.Mariott pada tanggal 11 Oktober 2008 dengan mengadakan media edukasi oleh Prof.Dr.HM.Syamsulhadi dr.Sp.KJ(K) dan DR.Dr.HJ.Nurmiati, Sp.KJ(K) serta dihadiri oleh pihak PT. Takeda Indonesia yaitu Dr. Bernardus Sidharta .

Artkel terkait :