Berita Bekti-medicastore.com
23-12-2011

Pemeriksaan Mikrobiologi untuk Diagnosa Tepat Penyakit Infeksi

Indonesia menempati urutan tinggi di dunia dalam hal penyakit infeksi. Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3 sedunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis (TB). Baru pada tahun ini turun ke peringkat ke-5 dan masuk dalam milestone atau pencapaian kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan. Untuk TB, Indonesia menempati urutan ke-3 dalam jumlah penderita. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosis dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak besar karena pasien TB akan menularkan penyakitnya pada lingkungan sehingga jumlah penderita semakin bertambah.

 

Penyakit infeksi sendiri disebabkan oleh agen biologi seperti virus, bakteri, jamur atau parasit.. Beberapa penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit menular, (communicable disease) antara lain difteri, batuk rejan, bronkitis, cacar air (varicella), campak, tuberkulosis, kusta, diare, disentri, flu, hepatitis A, kolera, sifilis, gonerhoe, HIV/AIDS. Untuk menentukan penatalaksanaan penyakit infeksi, laboratorium mikrobiologi sangat berperan penting, termasuk dalam hal pencegahan dan pengendalian peningkatan resistensi mikroba terhadap antibiotik. Dengan pemeriksaan mikroba secara akurat untuk mengetahui mikroba penyebab infeksi dan menentukan antimikroba yang sesuai agar penderita mendapatkan pengobatan secara cepat dan tepat, maka hal ini tidak hanya bermanfaat untuk pasien, namun juga dapat membantu program pemerintah dalam penanggulangan penyakit infeksi.

 

Penyakit infeksi saat ini masih merupakan masalah utama di Indonesia sehingga diperlukan suatu layanan laboratorium diagnostik yang memadai. Laboratorium Mikrobiologi Klinis (LMK) memberikan layanan unggulan seperti pemeriksaan Tuberkulosis dan HIV yang telah tersertifikasi secara internasional. Selain itu, LMK mampu melakukan pemeriksaan mikrobiologi molekuler yang berfungsi untuk mendeteksi mikroorganisme penyebab penyakit menular yang sulit dibuktikan dengan pemeriksaan konvensional. Untuk melakukan pemeriksaan tersebut diperlukan teknik amplifikasi DNA atau RNA, seperti PCR (polymerase chain reaction). Hal tersebut disampaikan dalam acara seminar media yang bertema "Laboratorium Mikrobiologi Klinis (LMK) FKUI berperan penting dalam penatalaksanaan penyakit infeksi di Indonesia", di LMK-FKUI pada hari Senin, 19 Desember 2011 kemarin.

 

 

Berkaitan dengan tingginya angka penderita tuberkulosis di Indonesia, dr. Erlina Burhan, SpP (K) mengemukakan, ”Layanan diagnostik untuk tuberkulosis dengan standar WHO telah dapat dilakukan di 5 (lima) laboratorium di Indonesia, salah satunya adalah LMK FKUI. Di LMK, pemeriksaan TB dilakukan melalui pemeriksaan BTA mikroskopik, biakan dan uji resistensi dengan media padat serta media cair, dan juga pemeriksaan berbasis molekuler.” Selain itu, ”Keunggulan pada SDM dan fasilitas di LMK menyebabkan Kemenkes memberikan kepercayaan kepada LMK FKUI melalui penunjukkannya sebagai Laboratorium Rujukan Nasional Tuberkulosis untuk Pemeriksaan berbasis Biomelokuler, sekaligus sebagai penyelenggara pelatihan bagi tenaga laboratorium di seluruh Indonesia” tambahnya lebih lanjut.

 

Sementara itu, Dr.dr. Ali Sungkar, SpOG (K) mengatakan “Pemeriksaan mikrobiologi juga sangat diperlukan untuk mendukung diagnosis penyakit yang ditularkan melalui seksual seperti GO, Sifilis dan HIV. Pengobatan penyakit tersebut harus dalam pengawasan dokter agar pengobatan berlangsung dengan tepat untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Diagnosis penyakit Gonore didasarkan pada hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah untuk menemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium. Sedangkan penyakit Sifilis merupakan penyakit kelamin menular yang disebabkan bakteri spirochaeta, yaitu Treponema pallidum dan uji laboratorium yang memadai diperlukan untuk penegakan penyakit ini, ” dijelaskan dr. Ali Sungkar.

 

Pemeriksaan terhadap penyakit infeksi menular seksual pada wanita hamil dilakukan melalui screening laboraturium saat hamil, hal ini dimaksud untuk mencegah terjadinya kelainan kongenital pada janin oleh Gonorrea dan Sifilis. Pemeriksaan HIV dilakukan dengan inisiatif provider kepada ibu hamil juga dilakukan menggunakan beberapa metode, rapid test atau ELISA dan pemeriksaan Wester Blot. Tujuan dari screening ini adalah mendapatkan wanita hamil dengan infeksi HIV/AIDS dan segera dilakukan pengobatan antiretroviral untuk mencegah penularan vertikal dari ibu ke janin.

 

Diagnosis dapat ditegakkan jika 2 dari 3 pemeriksaan ELISA HIV positif. Jumlah virus dapat dipastikan dengan pemeriksaan virus load dengan pemeriksaan PCR. Pemeriksaan inipun dapat dilakukan di LMK ini.