Berita Bekti-medicastore.com
28-02-2012

Pentingnya Ajari Anak Rasa Asli dari Makanan

Anak-anak akan selalu mencontoh tingkah laku orang dewasa yang ada didekatnya, termasuk dalam hal pola makan. Bila setiap anggota keluarganya mempunyai kecenderungan untuk makan yang berlebih, maka tidak mengherankan bila anak juga akan memiliki pola makan berlebih yang sama. Hal tersebut terungkap dalam media edukasi tentang gula tambahan, indeks & beban glikemik serta dampaknya pada anak, yang berlangsung pada hari Kamis, 23 Februari 2012 kemarin.

 

Menurut Prof. Dr. Jose Rizal Latief Batubara, Sp.A (K) dalam acara media edukasi tersebut, orang tua lah yang berperan untuk menentukan pola makan anak hingga kedepannya nanti. Setelah memasuki usia > 6 bulan, dimana anak sudah mulai mengkonsumsi makanan lain selain susu, sebaiknya orang tua berusaha untuk memberikan makanan pada anak dengan rasa aslinya, tidak perlu ditambahi dengan rasa lain. Terkadang menurutnya, si ibu bersikeras untuk menambahkan gula atau garam ke dalam makanan anak dengan alasan karena tidak enak bila rasanya tawar, padahal sebenarnya anak belum mengenal aneka rasa seperti asin, gurih, manis dll sehingga anak tidak akan protes bila tidak mendapatkan makanan dengan rasa demikian.


 

 


 

Bahkan menurut Dr. Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, bila anak sudah mengenal rasa manis sejak dini misalnya dengan memberi gula pada minuman/susu yang dikonsumsi, maka akan membuat anak menjadi suka memilih-milih makanan. Misalnya hanya mau makanan yang manis-manis saja karena rasanya lebih enak & menjadi tidak suka makan buah atau sayur karena rasanya yang cenderung tawar.

 

Tingginya kandungan gula pada makanan/minuman yang dikonsumsi dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada anak. Hal ini karena makanan tersebut dapat membuat organ penkreas & organ tubuh lainnya bekerja lebih keras akibat dari kadar gula darah yang tinggi. Akibatnya anak dapat menjadi sulit untuk berkonsentrasi, mengalami kenaikan berat badan hingga bahkan obesitas serta beresiko untuk merusak pankreas yang akan menyebabkan terganggunya produksi insulin & beresiko untuk menderita diabetes tipe 2 saat dewasa nantinya.

 

WHO sendiri menganjurkan asupan gula pada anak tidak melebihi 10 % dari kebutuhan energi total. Misalnya untuk anak usia 1-3 tahun, angka kebutuhan gizinya (AKG) adalah 1000 kalori, berarti kebutuhan gula yang dianjurkan untuk dikonsumsi adalah sebesar 10 % nya atau 100 kalori yg setara dengan 25 g gula atau 5 sendok teh/hari. Sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun, AKG nya adalah 1550 kalori, sehingga konsumsinya gula yang dianjurkan adalah 155 kalori atau setara dengan 38,75 g gula atau 7,7 sendok teh/hari.

 

Yang perlu diwaspadai oleh orang tua adalah, makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak ternyata memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, seperti misalnya 1 buah donat mengandung sekitar 5 sendok teh gula, permen jelly gump mengandung sekitar 7 sendok teh gula, 1 kaleng soda mengandung sekitar 7 sendok teh gula, biskuit coklat mengandung sekitar 5 sendok teh gula. Terbayang kan berapa sendok gula yang dikonsumsi oleh anak-anak tersebut setiap hari bila asupan makanannya seperti ini ?.

 

Obesitas terutama pada anak-anak, memang telah menjadi ancaman global saat ini, tidak terkecuali di Indonesia. Menurut Rikesda (riset kesehatan dasar) tahun 2010, jumlah anak yang mengalami obesitas di Indonesia mencapai 14 %, sedangkan angkanya di Jakarta lebih tinggi lagi yaitu mencapai 19 %. Hal ini karena banyak orang tua yang beranggapan bahw anak yang sehat & lucu adalah anak yang gemuk, sehingga mereka berlomba-lomba untuk menggemukkan sang anak supaya terlihat lebih sehat. Padahal kenyataannya tidak demikian, seperti halnya pada orang dewasa, kegemukan atau obesitas pada anak dapat membahayakan kesehatannya saat ini & bahkan dapat mempengaruhi kesehatannya kelak saat dewasa nanti