Berita Bekti
14-08-2019

Layanan Kegawatdaruratan Jantung

RS Pusat Pertamina (RSPP) pada awal Agustus lalu meluncurkan layanan terkininya di bidang Kegawatdaruratan Jantung dengan menghadirkan #24jamsiaga Catheterization Laboratory/Cathlab atau Ruang Kateterisasi Jantung.

Kondisi kegawatdaruratan jantung merupakan kondisi fatal dan kritis serta harus segera ditangani, dimana setiap detiknya sangat berarti. Dr. Kurniawan Iskandarsyah, Sp.JP (K), FIHA, Pjs. Direktur RSPP dalam Press Conference hari ini mengatakan, “RSPP berkomitmen dalam memenuhi kebutuhan pasien sehingga kami berusaha mempersiapkan pelayanan terbaik kami selama 24 jam untuk pasien. Pelayanan kegawatdaruratan jantung RSPP meliputi penanganan pertama di instalasi gawat darurat jantung, trombolitik terapi, primary PCI, pemasangan IABP, pemasangan pacu jantung sementara, serta perikardiocentesis.”

“Dengan adanya #24jamsiaga Layanan Kegawatdaruratan Jantung yang dilengkapi fasilitas lengkap, teknologi pendukung dan SDM yang berkompeten di bidangnya ini, kami berharap dapat melayani masyarakat secara lebih baik lagi dalam menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas akibat penyakit jantung. Hal ini sesuai dengan visi RSPP yaitu menjadi Rumah Sakit terbaik yang menggunakan konsep pelayanan medis mutakhir sekaligus sejalan dengan misinya yakni sebagai Rumah Sakit yang secara komprehensif memberikan layanan kesehatan spesialistik, membangun loyalitas melalui kepuasan pelanggan dengan SDM yang profesional dan berbudaya kerja prima serta meningkatkan pertumbuhan pendapatan disertai pengendalian biaya secara efisien dan efektif,” lanjutnya.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh terjadinya penyempitan dan hambatan arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung, apabila penyempitan ini menjadi parah dapat menimbulkan serangan jantung.1 Sindrom Koroner akut (SKA) atau ‘serangan jantung’ merupakan salah satu manifest klinis PJK yang bersifat akut atau muncul mendadak dan faktor penyebab utama kematian.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa di Indonesia sebesar 1,5% atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita PJK.2 Jika dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia, menurut Survey Sample Registration System tahun 2014 menunjukkan 12,9% kematian akibat PJK.3

Dalam kesempatan yang sama, dr. Hengkie F. Lasanudin, Sp.JP (K), FIHA, ahli jantung dan pembuluh darah RSPP menjelaskan, “Gejala – gejala serangan jantung yaitu nyeri dada di dada kiri / tengah atau nyeri ulu hati atau nyeri punggung, nyeri dada seperti ditekan atau dihimpit benda berat, penjalaran ke lengan kiri, punggung, bahu dan rahang, kadang disertai sesak nafas, dada berdebar, keringat dingin, mual atau muntah. Pada saat seseorang terkena serangan jantung, maka terjadi penyumbatan total pada arteri koroner yang dalam hitungan menit dapat menimbulkan kematian sel-sel otot jantung (miokard), sehingga fungsi jantung akan menurun drastis dan gagal berfungsi sebagai pompa sirkulasi darah ke seluruh tubuh atau sering dikenal dengan gagal jantung. Kejadian SKA harus segera ditangani dan semakin cepat sumbatan arteri koroner diatasi, maka akan semakin banyak sel–sel miokard terselamatkan sehingga daya pompa jantung dapat dipertahankan.”

“Upaya membuka sumbatan atau reperfusi bertujuan untuk melancarkan kembali aliran darah arteri koroner yang tersumbat total, yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode kateterisasi jantung yang dilanjutkan dengan Percutaneous Coronary Intervension (PCI) atau pemasangan cincin jantung. Pemasangan cincin jantung paling baik bila dilakukan dibawah 12 jam paska serangan. Tindakan segera kateterisasi dan pemasangan cincin ini dikenal sebagai primary PCI,” jelasnya.

Dalam presentasinya ia memaparkan, “Tatalaksana SKA salah satunya adalah dengan kateterisasi atau angiografi koroner, yatu tindakan memasukkan selang kecil atau kateter ke dalam pembuluh darah arteri dan menelusurinya hingga ke jantung dengan bantuan sinar X guna mengetahui pembuluh darah koroner yang tersumbat dalam arteri koroner dengan keakuratan hingga 100%. Setelah menentukan lokasi ataupun keparahan sumbatan, maka untuk kasus tertentu tindakan akan dilanjutkan dengan pemasangan cincin jantung pada lesi yang dianggap memerlukan. Cincin jantung yang dipasang dalam arteri koroner terbuat dari jalinan logam kecil yang berbentuk tabung dan digunakan sebagai penyanggah agar pembuluh darah tetap terbuka serta tidak mengalami penyumbatan pasokan daerah maupun oksigen ke otot jantung. Teknik kateterisasi jantung koroner diawali dengan melakukan anestesi atau bius lokal pada dua akses yakni melalui arteri radialis ditangan atau arteri femoralis di lipat paha. Sebagian besar atau kurang lebih 90% pasien di RSPP menggunakan akses di tangan karena komplikasi yang mungkin terjadi lebih kecil dibandingkan dengan akses dari lipat paha.”

“Fasilitas penunjang kateterisasi yaitu Rotablator dan IVUS juga melengkapi layanan 24 jam siaga layanan kegawatdaruratan Jantung di RSPP. Rotablator merupakan alat bantu dalam prosedur PCI yang digunakan untuk pengikisan sumbatan plak aterosklerosis. Prinsip kerjanya menyerupai alat bor dan umumnya digunakan hanya pada sekitar 5% kasus PCI, namun kegunaannya sangat penting untuk membuka stenosis dengan klasifikasi berat (sumbatan yang keras), dimana stenosis tersebut tidak dapat dibuka dengan menggunakan metode inflasi balon seperti pada umumnya,” dr. Hengkie menambahkan.

“Sedangkan IVUS merupakan alat seperti teropong yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah koroner untuk melihat anatomi koroner sehingga pemilihan cincin atau stent lebih akurat. Manfaat dari penggunaan IVUS yaitu dapat melihat ukuran / panjang / derajat dan tipe plak atau sumbatan di dalam pembuluh darah koroner dengan lebih akurat, dapat memprediksi atau memperkirakan dan melihat ukuran ballon atau ukuran cincin yang ingin dipasang sehingga ukuran dan lokasi balon dan cincin yang digunakan akan lebih akurat, mengurangi angka restenosis pasca pemasangan cincin. Di Indonesia penggunaan IVUS masih rendah yaitu di bawah 10% karena tidak semua RS atau fasilitas kesehatan memiliki IVUS,” jelasnya.

Ia melanjutkan, “Cathlab RSPP juga dilengkapi dengan Intra Aortic Baloon Pump (IABP) yaitu alat bantu mekanik untuk menurunkan kebutuhan oksigen di otot miokard jantung dan dalam waktu yang bersamaan dapat meningkatkan curah jantung. IABP digunakan saat indikasi medik seperti syok kardiogenik, syndrome pre syok, suspect miokard infark yang luas, aritmia ventrikel, syok sepsis, unstable angina. Serta saat kondisi bedah dalam kondisi Low Cardiac Output setelah operasi jantung terbuka (CABG) dan support pasien yang tidak mampu weaning dari mesin bypass : EF < 30%.”

“Selain untuk penyakit jantung koroner, Cathlab di RSPP juga dapat digunakan untuk penyakit jantung bawaan, mendiagnostik dan terapi pada penderita kelainan irama jantung dan untuk pemeriksaan pembuluh darah otak atau dikenal dengan Digital Substraction Angiography (DSA),” tutupnya.