Penyakit
23-02-2018

Kardiomiopati Hipertrofik

Kardiomiopati hipertrofik meliputi sekelompok gangguan pada jantung yang membuat dinding ventrikel menebal (hipertrofi) dan mengeras. Kardiomiopati hipertrofik sering menjadi penyebab kematian mendadak pada atlet muda.

Kardiomiopati hipertrofik hampir selalu disebabkan oleh kelainan genetik yang bersifat diturunkan. Pada kasus tertentu yang jarang, kardiomiopati hipertrofik bisa terjadi pada orang-orang dengan gangguan tertentu, seperti :

  • Akromegali, dimana terjadi pertumbuhan yang berlebihan akibat pembentukan hormon pertumbuhan yang terlalu banyak
  • Feokromositoma, yaitu tumor yang menghasilkan hormon epinefrin yang berlebihan.
  • Neurofibromatosis, yaitu suatu kelainan genetik dimana banyak jaringan saraf yang mengalami pertumbuhan di bawah kulit dan bagian tubuh lainnya.

Pada kardiomiopati hipertrofik, dinding ventrikel yang mengeras dan menebal tidak dapat berelaksasi dengan baik saat ruang jantung terisi darah. Kondisi ini semakin berat saat jantung berdenyut dengan cepat (misalnya saat olahraga) karena tidak terdapat waktu yang cukup untuk pengisian darah. Hal ini membuat jumlah darah yang dipompa keluar oleh jantung menjadi lebih sedikit pada setiap denyutnya. Terkadang dinding jantung yang menebal juga bisa mengganggu aliran darah yang keluar dari jantung (kardiomiopati hipertrofik obstruktif).

Adanya tahanan dalam pengisian darah ke jantung juga bisa menyebabkan bendungan pada vena paru-paru, sehingga cairan bisa terkumpul di dalam paru-paru dan penderita bisa mengalami sesak nafas.

Kardiomiopati Hipertrofik

Sumber : www.healthcentral.com

Gejala-gejala kardiomiopati hipertrofik pada setiap penderita bisa sangat bervariasi. Gejala biasanya muncul saat usia antara 20-40 tahun. Gejala awalnya terjadi saat beraktivitas, antara lain berupa :

- pingsan
- nyeri dada
- sesak nafas
- detak jantung terasa tidak beraturan (palpitasi)

Penderita bisa tiba-tiba pingsan tanpa ada gejala-gejala peringatan sebelumnya. Pingsan atau bahkan kematian mendadak bisa merupakan tanda awal dari gangguan ini.

Dugaan kardiomiopati hipertrofik biasanya didasarkan dari :

  • Gejala-gejala yang ada
  • Hasil pemeriksaan fisik, dimana bisa terdengar suara jantung yang abnormal (murmur) pada pemeriksaan dengan stetoskop
  • EKG (elektrokardiografi)
  • Foto rontgen dada

Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk membantu memastikan diagnosa :

  • Ekokardiografi, untuk melihat gambaran jantung dan fungsi jantung dalam memompa darah.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging), untuk melihat gambaran jantung secara lebih jelas.
  • Kateterisasi jantung, untuk mengukur tekanan di dalam jantung. Pemeriksaan ini hanya dilakukan jika hendak dilakukan pembedahan.
  • Pemeriksaan genetik.

Penanganan untuk kardiomiopati hipertrofik terutama bertujuan untuk mengurangi tahanan pada jantung saat terisi darah di antara setiap detak jantungnya. Penanganan yang diberikan antara lain berupa :

  • Penanganan terhadap penyebab yang mendasari jika mungkin.
  • Pengobatan untuk mengurangi kekuatan kontraksi otot jantung, sehingga jantung bisa terisi darah lebih baik.
  • Pembedahan, bisa dilakukan untuk mengangkat sebagian otot jantung yang menebal. 
  • Ablasi, yaitu dengan merusak sedikit bagian otot jantung untuk memperbaiki aliran darah dari jantung. Tindakan ini dilakukan dengan kateterisasi jantung.

Sebagian penderita dengan penebalan otot jantung yang lebih berat bisa memiliki risiko terjadinya kematian mendadak yang tinggi, terutama jika penebalan terjadi pada dinding jantung yang memisahkan ventrikel kanan dan kiri (septum jantung). Untuk itu, penderita dianjurkan untuk dilakukan pemasangan cardioverter-defibrillator.

Karena kardiomiopati hipertrofik umumnya bersifat diturunkan, maka gangguan ini tidak dapat dicegah. Tetapi, kardiomiopati hipertrofik sedapat mungkin harus dideteksi sejak dini untuk mendapatkan penanganan dan mencegah terjadinya komplikasi.

- A, J. Malcolm O. Hypertrophic Cardiomyopathy. Merck Manual Handbook. 2013.