Penyakit
23-02-2018

Pembengkakan Pada Testis

Testis merupakan bagian dari sistem reproduksi pria yang menghasilkan sperma dan testosteron. Testis berada di dalam kantung, yang disebut skrotum. Pembengkakan pada testis merupakan pembesaran pada testis yang bisa disebabkan oleh berbagai hal.

Pembengkakan atau bejolan pada testis bisa terjadi karena berbagai hal, antara lain :

  • Varikokel, yaitu pembengkakan yang terjadi akibat pelebaran vena pada skrotum
  • Hidrokel, yaitu pembengkakan yang terjadi akibat adanya cairan di sekitar testis
  • Kista epididimal, merupakan benjolan yang terjadi akibat akumulasi cairan di dalam epididimis, jika mengandung sperma, maka disebut sebagai spermatokel
  • Torsio testis, merupakan pembengkakan testis yang terjadi secara tiba-tiba dan terasa nyeri. Kondisi ini terjadi akibat terpuntirnya testis, sehingga mengganggu aliran darah ke testis. Torsio testis merupakan suatu kondisi gawat darurat.

Selain itu, pembengkakan atau benjolan pada testis juga bisa disebabkan oleh infeksi, hernia, atau keganasan (jarang). Sebagian besar benjolan pada testis biasanya bersifat jinak.

Testis tampak dan terasa membesar, bisa disertai rasa nyeri ataupun tidak. Gejala-gejala lain yang bisa ditemukan tergantung dari penyebabnya, misalnya :

- Varicocele, biasanya terbentuk pada sisi kiri skrotum dan tidak menimbulkan gejala. Jika bergejala biasanya bisa menimbulkan rasa penuh, nyeri, dan berdenyut yang mengganggu terutama ketika penderita sedang berdiri. Varikokel terasa seperti sebuah kantong cacing jika skrotum diraba pada saat penderita berdiri.

- Hydrocele. Pada hampir semua kasus, gejala yang muncul biasanya berupa pembengkakan yang tidak menimbulkan rasa nyeri pada satu atau kedua testis. Namun, kondisi ini bisa terasa tidak nyaman.

- Epididymal cyst, biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri, tetapi testis bisa terasa berat. Rasa nyeri dan tidak nyaman bisa dirasakan jika kista menekan struktur lain di sekitarnya.

- Torsio testis. Tidak seperti pembengkakan testis lainnya, torsio testis merupakan suatu kedaruratan medis. Penderita perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Pembedahan harus segera dilakukan untuk menyelamatkan testis. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri hebat pada salah satu testis. Gejala lain yang bisa ditemukan antara lain :

  • Pembengkakan skrotum
  • Rasa mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Demam ringan
  • Sering berkemih

- Infeksi. Pembengkakan testis bisa terjadi akibat infeksi (orkitis), misalnya oleh bakteri atau virus (paling sering oleh virus mumps). Gejala yang muncul bisa berupa :

  • Pembengkakan di salah satu atau kedua testis
  • Rasa nyeri, mulai nyeri ringan sampai nyeri hebat
  • Rasa tidak nyaman saat duduk
  • Mual
  • Demam
  • Keluarnya cairan dari penis

- Hernia. Pembengkakan pada daerah testis juga bisa disebabkan oleh hernia inguinalis, dimana terbentuknya benjolan di daerah selangkangan dan skrotum, tanpa rasa nyeri. Jika penderita berdiri, benjolan bisa membesar dan jika penderita berbaring, benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk dibawah pengaruh gaya tarik bumi.

Diagnosa didasarkan dari gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang bisa dilakukan tergantung dari dugaan penyebabnya, misalnya pemeriksaan USG.

Penanganan benjolan / pembengkakan pada testis tergantung dari penyebab terjadinya pembengkakan tersebut.

Varicocele

Pada sebagian besar kasus, varicocele tidak membutuhkan penanganan apapun. Jika mengalami varicocele dan terasa sakit atau tidak nyaman, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya :

  • Mengkonsumsi obat pereda nyeri seperti misalnya Paracetamol
  • Menggunakan celana dalam khusus yang bisa menyangga testis
  • Jika varicocele yang dialami masih menimbulkan rasa nyeri atau ketidak nyaman, maka bisa direkomendasikan untuk dilakukan pembedahan.

    Teknik pembedahan yang disebut dengan embolisasi varicocele dapat digunakan untuk mengatasi varicocele. Biasanya pada prosedur embolisasi varcocele ini pasien tidak harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

    Embolisasi varicocele merupakan prosedur yang sangat aman, meskipun demikian ada resiko kecil terjadinya infeksi. Bila terjadi infeksi maka bisa diatasi dengan pemberian antibiotika. Resiko lain yang dapat terjadi adalah :

  • Terjadi varicocele kembali
  • Timbul rasa kebas atau rasa nyeri di skrotum.
  • Beberapa kasus varicocele membutuhkan penanganan yang berbeda, dimana pembuluh vena yang melebar dipisahkan secara langsung melalui pembedahan. Tindakan ini biasanya dilakukan dibawah anestesi umum. Dokter bedah akan membuat sayatan di daerah pangkal paha, kemudian menemukan dan mengangkat pembuluh vena yang melebar tersebut. Sebanyak > 9 dari 10 varicocele bisa dhilangkan dengan prosedur pembedahan.

    Hydrocele

    Hydrocele pada bayi baru lahir biasanya akan hilang dengan sendirinya pada saat bayi berusia 2 tahun. Penanganan biasanya baru diperlukan bila hydrocele masih ada setelah melewati usia tersebut atau menyebabkan rasa sakit atau rasa tidaknyaman.

    Pembedahan bisa dilakukan jika diperlukan (disebut hydrocelectomy). Prosedur ini dilakukan dibawah anestesi umum. Pada anak-anak, sayatan akan dilakukan di daerah pangkal paha sebelum dilakukan penutupan saluran diantara bagian perut dengan bagian skrotum. Pada orang dewasa, sayatan dilakukan di daerah skrotum, kemudian cairan yang ada dikeringkan dan sayatan ditutup kembali dengan jahitan yang dapat larut dalam tubuh dengan sendirinya. Sebagian besar pasien yang menjalani prosedur ini dapat langsung pulang segera setelah menjalani pembedahan.

    Sama seperti pada prosedur embolisasi varicocele, ada sedikit risiko terjadinya infeksi setelah prosedur hydrocelectomy. Pada anak-anak bisa diberikan obat antibiotika sebelum atau saat dilakukan prosedur pembedahan untuk mencegah terjadinya infeksi.

    Epididymal Cysts

    Epididymal cysts biasanya tidak memerlukan penanganan apapun. Akan tetapi, jika hal tersebut menyebabkan gejala yang mengganggu, maka disarankan untuk konsultasi dengan dokter spesialis urologi. Dokter akan merekomendasikan penanganan lebih lanjut serta menyarankan untuk mengangkat seluruh kista melalui pembedahan dengan anestesi umum.

    Torsio testis

    Jika mengalami torsio testis, maka harus melakukan prosedur pembedahan secepat mungkin untuk membetulkan letak testis yang terpuntir. Cedera permanen pada testis dapat terjadi 4 jam setelah terjadi torsio testis. Kondisi ini bisa mengganggu kesuburan atau rusaknya testis.

    Prosedur pembedahan untuk torsio testis dilakukan dengan anestesi umum. Dokter bedah akan membuat sayatan dibagian skrotum sebelum mengurai korda spermatika (tali tempat tergantungnya testis didalam skrotum). Kemudian testis akan dijahit ke bagian dalam skrotum untuk mencegah terpuntirnya korda spermatika kembali.

    Semakin lama waktu yang tertunda untuk melakukan pembedahan maka semakin besar kemungkinannya dokter bedah tidak bisa menyelamatkan testis yang terpuntir tersebut. Disebutkan bahwa jika prosedur pembedahan tersebut dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 6 jam maka 9 dari 10 testis yang terpuntir dapat diselamatkan. akan tetapi, jika pembedahan tertunda hingga 24 jam, hanya 1 dari 10 testis yang bisa diselamatkan. Setelah pembedahan, penderita disarankan untuk menghindari aktifitas yang berat selama setidaknya 1 minggu atau sesuai petunjuk dokter.

    Pembengkakan Lainnya

    Pembengkakan/ benjolan jenis lain akan ditangani berbeda tegantung dari penyebabnya. Contohnya, jika pembengkakan disebabkan oleh adanya infeksi, maka perlu diberikan obat sesuai dengan penyebab infeksinya, misalnya antibiotika untuk mengatasi infeksi bakteri. Jika didiagnosa dengan kanker testis, maka perlu diatasi dengan prosedur pembedahan dan radioterapi. Jika didiagnosa hernia inguinal, maka perlu dilakukan pembedahan.

    - Mayo Clinic. Orchitis. 2011.

    - NHS. Testicular Lumps and Swellings. 2012.