Penyakit
23-02-2018

Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan Subarachnoid merupakan pendarahan yang terjadi di dalam ruang subarachnoid, yaitu diantara lapisan jaringan yang melapisi otak (meninges).

Perdarahan Subarachnoid merupakan keadaan yang mengancam nyawa yang dapat menyebabkan disabilitas permanen. 

Perdarahan subarachnoid biasanya terjadi akibat adanya cedera kepala. Namun, perdarahan karena cedera kepala biasanya memberi gejala yang berbeda dan tidak dianggap sebagai stroke.

Perdarahan subarachnoid dianggap sebagai stroke hanya jika perdarahan terjadi secara spontan, bukan akibat dari adanya trauma pada kepala. Perdarahan spontan biasanya disebabkan oleh pecahnya aneurisma pada arteri serebri. Aneurisma merupakan tonjolan dari bagian lemah dari dinding pembuluh darah arteri. Lebih jarang perdarahan subarachnoid yang berasal dari pecahnya malformasi arteri-vena di kepala.

Anda Perlu Tahu

Hampir setengah penderita perdarahan subarachnoid meninggal sebelum mereka sampai ke rumah sakit

Pada perdarahan subarachnoid yang disebabkan oleh aneurisma, sebelum aneurisma pecah, biasanya tidak ditemukan adanya gejala, kecuali jika aneurisma tersebut menekan saraf atau terdapat perdarahan kecil sebelum terjadi perdarahan yang lebih hebat.

Gejala-gejala awal yang dapat muncul meliputi sakit kepala berat yang tiba-tiba, nyeri pada wajah atau mata, penglihatan ganda, dan hilangnya sebagian lapang penglihatan. Gejala-gejala ini dapat muncul beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah. Seseorang sebaiknya segera pergi ke dokter jika mengalami sakit kepala yang tidak biasa.

Pecahnya aneurisma biasanya menimbulkan sakit kepala hebat yang tiba-tiba dalam waktu beberapa detik kemudian seringkali diikuti dengan hilangnya kesadaran. Sebagian penderita meninggal sebelum sampai dibawa ke rumah sakit. Beberapa penderita tetap tidak sadar atau koma. Sebagian penderita ada yang sadar, tetapi merasa linglung, mengantuk, dan gelisah. Penderita menjadi tidak responsif dan sulit untuk dibangunkan. 

Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan radiologi, seperti CT scan atau MRI, bisa dilakukan untuk melihat apakah terjadi perdarahan.

Penderita perdarahan subarachnoid perlu segera dirawat di rumah sakit dan harus istirahat total. Terkadang, dilakukan pemasangan shunt (saluran khusus) pada otak untuk mengalirkan cairan serebrospinal keluar dari otak. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tekanan dalam otak.

Pada penderita yang memiliki aneurisma, tindakan pembedahan perlu dilakukan untuk menyumbat atau memperkuat dinding pembuluh darah yang lemah, sehingga mengurangi riskio untuk terjadinya perdarahan hebat berikutnya. Tindakan ini sulit dilakukan, risiko kematian tinggi, terutama untuk penderita dengan penurunan kesadaran atau koma.

Sekitar 35% penderita meninggal akibat perdarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma. Hal ini disebabkan karena adanya kerusakan otak yang luas. Banyak penderita yang pulih tetap memiliki gejala-gejala seperti kelemahan, kelumpuhan, hilangnya sensasi pada satu sisi tubuh, atau afasia (gangguan berbicara).

- G, Elias A. Hemorrhagic Stroke. Merck Manual Home Health Handbook. 2007.