Penyakit
23-02-2018

Gangguan Disosiatif

Amnesia dan gangguan yang serupa dikategorikan oleh psikiater sebagai gangguan disosiatif, termasuk amnesia disosiatif, disosiatif fugue, gangguan kepribadian disosiatif, dan gangguan depersonalisasi.

Seseorang dengan gangguan disosiatif melarikan diri dari kenyataan secara tidak sadar. Gejala-gejala gangguan ini mulai dari amnesia sampai perubahan identitas diri. Gangguan disosiatif biasanya terjadi sebagai rekasi terhadap trauma dan membantu menyimpan kenangan buruk.

Gangguan disosiatif biasanya disebabkan oleh stress berlebihan. Stress bisa disebabkan oleh pengalaman menyaksikan atau mengalami peristiwa traumatis, kecelakaan, atau bencana. Penderita mengalami konflik di dalam diri sehingga pikirannya dipaksa untuk menghalangi informasi dan perasaan yang tidak bisa diterima oleh pikiran sadar.

Gangguan disosiatif biasanya terjadi sebagai cara untuk mengatasi trauma. Gangguan ini paling sering terjadi pada anak-anak yang mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual, atau lebih jarang, lingkungan rumah yang menakutkan.

Identitas diri masih terbentuk saat anak-anak, sehingga seorang anak lebih bisa untuk keluar dari dirinya sendiri dan melihat trauma yang dialami seakan-akan hal tersebut terjadi pada orang lain. Seorang anak yang belajar untuk berdisosiasi, memisahkan diri, dengan tujuan untuk bertahan, bisa melakukan cara ini untuk bereaksi terhadap setiap situasi berat sepanjang hidupnya.

Meskipun jarang, orang dewasa juga bisa mengalami gangguan disosiatif sebagai respon terhadap trauma berat.

Tanda dan gejala yang umum terjadi pada semua jenis gangguan disosiasi berupa :

  • hilangnya ingatan (amnesia) akan kejadian, orang, atau periode waktu tertentu
  • gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan
  • perasaan terlepas dari dirinya sendiri (depersonalisasi)
  • persepsi bahwa orang-orang dan segala sesuatu di sekitar penderita terdistorsi dan tidak nyata (derealisasi)
  • merasa tidak jelas akan identitas diri

Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan riwayat penderita. Berbagai pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa gangguan bukan berasal dari kondisi fisik, misalnya cedera kepala, penyakit otak tertentu, gangguan tidur, dan intoksikasi, yang bisa menyebabkan gejala-gejala yang serupa. Jika gangguan memang tidak disebabkan oleh gangguan fisik, maka pemeriksaan selanjutnya perlu dilakukan oleh dokter ahli kesehatan jiwa.

Psikoterapi merupakan terapi utama untuk gangguan disosiasi. Terapi ini berupa konseling dengan ahli kejiwaan mengenai gangguan yang terjadi dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Terapis akan membantu penderita memahami kondisi yang ada dan menemukan cara untuk mengatasi tekanan yang dialami.

Psikoterapi seringkali menggunakan berbagai teknik (misalnya hypnosis) untuk membantu penderita mengingat dan mengatasi trauma yang memicu terjadinya gangguan disosiatif. Psikoterapi mungkin membutuhkan waktu yang panjang dan menyakitkan, tetapi terapi ini seringkali sangat efektif untuk mengatasi gangguan disosiatif.

Terapi lain yang bisa digunakan untuk mengatasi gangguan disosiatif yaitu :

  • Terapi seni kreatif. Jenis terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu penderita yang mungkin mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Terapi seni kreatif bisa berupa tarian, drama, musik, dan puisi.
  • Terapi kognitif. Terapi ini membantu penderita mengidentifikasi kepercayaan dan perilaku yang negatif dan salah, lalu menggantinya dengan hal-hal yang positif dan baik.
  • Obat-obatan. Meskipun tidak ada obat yang bisa mengobati gangguan disosiatif secara spesifik, tetapi pengobatan bisa diberikan untuk mengendalikan gejala-gejala mental lainnya yang berhubungan dengan gangguan disosiatif, seperti depresi atau kecemasan.

Anak-anak yang mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual lebih berisiko untuk terjadi gangguan kesehatan mental, termasuk gangguan disosiatif. Jika orang tua mengalami stress atau masalah pribadi lainnya yang mempengaruhi cara mengasuh anak, maka orang tua perlu berkonsultasi dengan orang yang dipercaya atau bahkan ahli kesehatan untuk mendapatkan bantuan, sehingga bisa mengasuh anak dengan lebih baik.

Anak-anak yang mengalami peristiwa traumatik perlu dibawa ke dokter atau ahli kejiwaan untuk mendapatkan bantuan, sehingga anak dapat pulih dan memiliki kemampuan untuk mengatasinya.

- Mayo Clinic. Dissociative Disorders. 2011.