Penyakit
23-02-2018

Gangguan Tidur Pada Anak

Anak-anak dan remaja membutuhkan setidaknya 9 jam tidur setiap malam. Gangguan tidur dan kurangnya waktu tidur dapat memberikan efek negatif pada performa anak di sekolah maupun dalam melakukan hubungan sosial.

Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan terjadinya :
- gangguan mood
- gangguan perilaku
- gangguan daya ingat, konsentrasi, dan belajar
- gangguan dalam berprestasi
- reaksi yang lambat
- cedera dan kecelakaan

Gangguan tidur dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia adalah gangguan tidur primer yang berkaitan dengan jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Disomnia ditandai dengan adanya insomnia atau hipersomnia sebagai gejala utama.

Gangguan tidur yang kedua adalah parasomnia. Parasomnia adalah mimpi yang hidup dan aktivitas fisik yang terjadi selama tidur. Sejumlah gerakan diluar kesadaran bisa terjadi selama tidur dan tidak dapat diingat kembali. Hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Beberapa contoh parasomnia yaitu berjalan sambil tidur, mimpi buruk, teror malam, atau gangguan pergerakan ritmik saat tidur.

Insomnia merupakan suatu gangguan tidur dimana anak mengalami kesulitan untuk tidur atau tetap tidur sepanjang malam. Terkadang bisa juga terjadi anak bangun tidur terlalu awal. Ada sejumlah hal yang mungkin menyebabkan terjadinya insomnia, antara lain :

  • Orang tua seringkali tidak mengetahui berapa banyak kebutuhan tidur anaknya, sehingga anak dibiarkan untuk melakukan banyak kegiatan, misalnya menonton TV atau main video games hingga larut malam. Anak-anak berusia 6-12 tahun membutuhkan sekitar 10-11 jam tidur setiap malam, dan remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 9 jam setiap malam.
  • Anak menolak untuk tidur karena waktu tidur yang terlambat. Keadaan ini muncul saat anak dibolehkan untuk tidur lebih malam dari biasanya selama beberapa malam hingga mengacaukan jam tidur anak. Akibatnya anak baru bisa tidur lebih malam dari biasanya.
  • Stress. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, juga bisa mengalami stress dan bisa menyebabkan terjadinya insomnia.
  • Tidur siang terlalu lama. Kesulitan untuk tidur juga bisa menjadi lebih buruk jika anak tidur siang terlalu lama hingga sore hari.

Sumber : www.sleepaidresource.com

  • Anak menjadi terlalu bersemangat karena melakukan permainan sebelum tidur.
  • Menggunakan zat atau obat-obat tertentu, misalnya kafein, obat anti-depresan, obat anti-kejang, atau obat untuk mengatasi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
  • Adanya gangguan medis tertentu, misalnya asma, reaksi alergi (pilek atau gatal), kram otot, rasa nyeri, autisme, retardasi mental, atau sindroma Asperger.
  • Gangguan psikiatrik, misalnya depresi atau gangguan bipolar pada anak.
  • Adanya gangguan tidur lainnya, seperti OSA (Obstructive Sleep Apnea).
  • Faktor lingkungan, misalnya akibat kondisi ruang tidur yang berisik, panas, dingin, atau terang.

Setiap orang bisa terbangun beberapa kali saat tidur. Namun, sebagian besar biasanya bisa kembali tidur dengan sendirinya. Anak-anak seringkali terbangun dari tidur di malam hari akibat adanya suatu penyakit yang mengganggu, adanya gerakan, atau kejadian lain yang menekan.

Hipersomnia, atau tidur yang berlebih, merupakan suatu kondisi dimana penderita mengalami kesulitan untuk tetap terjaga saat siang hari. Orang-orang dengan hipersomnia dapat tertidur kapan saja. Gangguan ini bisa disebabkan oleh :
- tidak cukup tidur di malam hari
- mengalami gangguan tidur, misalnya OSA (Obstructive Sleep Apnea)
- memiliki berat badan yang berlebih
- cedera kepala atau adanya gangguan saraf lainnya, seperti sklerosis multipel
- pemakaian obat-obat tertentu, misalnya obat penenang
- genetik

Parasomnia seringkali diturunkan dalam keluarga. Oleh karena itu, pada banyak kasus mungkin terdapat faktor genetik yang mendasarinya. Parasomnia bisa dipicu oleh gangguan tidur lainnya, misalnya OSA (Obstructive Sleep Apnea) dan oleh berbagai obat-obatan. Setiap jenis parasomnia memiliki sejumlah faktor predisposisi masing-masing, misalnya :

  • Mimpi buruk, dipengaruhi oleh adanya stress atau gangguan kepribadian.
  • Teror malam, dipengaruhi oleh adanya demam, kurangnya tidur, atau pemakaian obat-obat yang mendepresi susunan saraf pusat.
  • Berjalan sambil tidur, dipengaruhi oleh adanya faktor genetik yang mungkin diturunkan dalam keluarga, pemakaian obat-obat tertentu, demam, kurang tidur, OSA (Obstructive Sleep Apnea), stimulus internal (misalnya kandung kemih yang penuh), atau stimulus eksternal (misalnya suara yang berisik).
  • Sebagian besar gangguan tidur dengan pergerakan anggota tubuh yang periodik tidak diketahui penyebabnya. Tetapi bisa juga terjadi akibat anemia defisiensi besi, gangguan saraf, atau pemakaian obat/zat tertentu (seperti obat anti-depresan trisiklik)

Insomnia

Insomnia merupakan bentuk gangguan tidur yang paling sering terjadi. Anak-anak dengan insomnia bisa mengalami kesulitan untuk tidur atau tetap tidur sepanjang malam. Anak bisa menolak untuk tidur, sering terbangun sepanjang malam untuk waktu yang lama, atau bisa juga bangun tidur terlalu awal.

Anak-anak, terutama yang berusia 1 dan 2 tahun, seringkali menolak untuk tidur karena alasan kecemasan untuk berpisah dari orang tuanya, sedangkan anak-anak yang lebih besar mungkin ingin lebih mengatur lingkungannya, termasuk dengan cara menolak untuk tidur. Anak kecil seringkali menangis saat ditinggal sendiri di tempat tidur. Mereka bisa memanjat keluar boks tempat tidur dan mencari orang tuanya.

Sumber : www.sleepdisordersplace.com

Hipersomnia

Hipersomnia atau gangguan tidur yang berlebihan lebih sering terjadi pada remaja dan orang dewasa, tetapi bisa juga terjadi pada anak-anak yang masih kecil. Gangguan ini bisa tampak seperti adanya kebosanan atau kemalasan, dan harus dibedakan dari adanya suatu kelelahan. Pada anak usia dini, hipersomnia bisa menyebabkan anak malah menjadi sangat aktif dan berperilaku disruptif, ketimbang menjadi kurang aktif karena mengantuk.

Parasomnia

Beberapa contoh parasomnia yang dapat terjadi antara lain berjalan sambil tidur, mimpi buruk, teror malam, atau gangguan pergerakan ritmik saat tidur.

Mimpi Buruk

Mimpi buruk adalah mimpi yang menakutkan yang terjadi saat tidur. Anak-anak yang mengalami mimpi buruk bisa terbangun dan dapat mengingat secara detail mimpi buruk yang terjadi. Mimpi buruk tidak perlu dikhawatirkan, kecuali jika sangat sering terjadi.

Mimpi buruk bisa lebih sering terjadi saat anak merasa stress, atau bahkan saat anak baru menonton film yang mengerikan atau mengandung kekerasan. Jika anak sering mengalami mimpi buruk, orang tua bisa mencatat segala sesuatu yang terjadi saat itu, sehingga bisa membantu untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Sumber : www.sleepstudyphoenix.com

Teror Malam dan Berjalan Sambil Tidur (Somnambulisme)

Teror malam adalah episode-episode dimana anak setengah terbangun dari tidur dengan perasaan sangat cemas sesaat setelah anak tertidur. Teror malam terjadi pada fase tidur non-REM dan paling sering terjadi pada anak yang berusia 3-8 tahun. Anak bisa berteriak dan tampak ketakutan, dengan detak jantung dan pernafasan yang cepat. Anak tampak tidak peduli dengan kehadiran orang tuanya. Mereka bisa memukul-mukul dengan keras dan tidak bisa ditenangkan. Anak mungkin berbicara tetapi tidak bisa menjawab pertanyaan. Biasanya anak akan kembali tidur setelah beberapa menit.

Tidak seperti mimpi buruk, anak tidak dapat mengingat episode-episode terjadinya teror malam. Teror malam bersifat dramatis karena anak sampai berteriak-teriak dan tak dapat ditenangkan saat peristiwa terjadi. Sekitar sepertiga anak yang mengalami teror malam juga mengalami somnambulisme (bangun dari tempat tidur dan berjalan walaupun masih tidur). Sekitar 15% anak yang berusia 5-12 tahun pernah mengalami setidaknya satu kali peristiwa berjalan sambil tidur.

Untuk mendiagnosa adanya gangguan tidur, perlu diketahui bagaimana kebiasaan dan pola tidur anak, berapa banyak anak tidur saat malam hari, apakah anak memiliki masalah emosional, atau menggunakan obat-obat tertentu. Lingkungan tidur anak dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak juga perlu dilihat apakah ada yang memberikan dampak pada pola tidur anak. Diagnosa terutama didasarkan dari gejala-gejala yang ada. Pemeriksaan lain mungkin dapat dilakukan, misalnya pemeriksaan darah, CT scan, dan polysomnography. Pada beberapa kasus mungkin diperlukan pemeriksaan EEG (elektroensefalografi) untuk melihat aktivitas listrik otak.

Insomnia

Untuk sebagian besar anak, kesulitan tidur hanya bersifat sementara dan sering tidak membutuhkan pengobatan.

Meskipun orang tua seringkali menginginkan anaknya diberikan obat tidur untuk mengatasi insomnia, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk melihat apakah terdapat masalah medis atau psikologis yang mendasari dan penting untuk diatasi. Misalnya, anak memiliki OSA (Obstructive Sleep Apnea), dimana anak mendengkur dengan keras saat tidur dan seringkali berhenti bernafas. Mungkin anak perlu menjalani tindakan untuk mengangkat amandel dan adenoid sehingga anak tidak mendengkur dan mengalami henti nafas lagi. Atau jika anak sering batuk di malam hari karena asma yang tidak terkontrol dengan baik, maka ia mungkin lebih membutuhkan pengobatan asma untuk kemudian bisa tidur.

Penanganan untuk insomnia pada anak yang tidak disebabkan oleh kondisi medis dapat berupa :

  • memberikan batasan bahwa di tempat tidur hanya untuk tidur, yang berarti tidak membaca, mengerjakan PR, atau menonton TV
  • memiliki jadwal yang konsisten mengenai kapan anak tidur dan kapan anak bangun, termasuk saat hari libur
  • mengajarkan anak mengenai teknik relaksasi, termasuk teknik pernafasan diafragma, relaksasi otot, dan imajinasi visual, yang dapat ia gunakan saat hendak tidur
  • berhenti melakukan aktivitas yang dapat membuat anak bersemangat setidaknya 30-60 menit sebelum tidur, misalnya main video games, menonton TV, atau berbicara di telpon.
  • jika anak tidak bisa tidur dalam waktu 10-20 menit, lakukan kegiatan yang tenang, misalnya membaca.
  • menghindari mengkonsumsi kafein
  • berolahraga secara teratur

Konsultasi dengan psikolog atau dokter anak juga dapat membantu sebagian besar anak dengan insomnia.

Obat-obatan biasanya bukan merupakan jawaban untuk mengatasi insomnia pada anak, kecuali ada gangguan lain yang menyertai terjadinya insomnia pada anak.

Sumber : www.sleepingresources.com

Jika anak menolak untuk tidur, orang tua sebaiknya tidak tetap berada di kamar anak atau membiarkan anak bangun. Tindakan ini akan membuat anak tidak tidur. Untuk menghindari hal ini, orang tua sebaiknya duduk diam di luar kamar anak, dimana anak masih dapat melihat orang tuanya, dan memastikan anak tetap berada di tempat tidur. Anak akan terbiasa untuk tidur sendiri dan belajar bahwa ia tidak dibolehkan untuk keluar dari tempat tidur jika sudah waktunya tidur. Anak juga belajar bahwa orang tuanya ada di dekatnya, tetapi sudah bukan waktunya untuk kembali dibacakan cerita atau bermain. Memberikan benda yang dapat menemani anak (misalnya boneka) seringkali membantu. Selain itu, ciptakan lingkungan tidur yang mendukung untuk anak, misalnya tidak berisik dan tidak terlalu terang (bisa menggunakan lampu tidur yang kecil).

Jika anak terbangun saat malam hari, jangan membiarkan anak kemudian boleh tidur dengan orang tua, karena hal ini bisa memperkuat perilaku anak untuk bangun di malam hari. Orang tua sebaiknya juga tidak mengajak anak untuk bermain atau memberi anak makan jika terbangun di malam hari. Jangan juga malah memukul pantat anak atau memarahi anak karena terbangun. Mengembalikan anak ke tempat tidur dan menenangkan hatinya biasanya lebih efektif untuk membuat anak tidur kembali.

Hipersomnia

Jika anak mengalami OSA (Obstructive Sleep Apnea), mungkin anak perlu menjalani tindakan untuk mengangkat amandel dan adenoid sehingga anak dapat tidur dengan lebih baik di malam hari. Jika ada obat-obatan yang menyebabkan anak mengantuk sepanjang hari, konsultasikan dengan dokter apakah obat dapat diganti dengan yang lain. Hindari zat atau obat yang dapat mengganggu tidur di malam hari. Jika diperlukan, dapat diberikan obat-obat untuk mengatasinya.

Parasomnia

Jika sering terjadi mimpi buruk, maka perlu dicatat apa saja yang terjadi saat itu untuk dapat mengidentifikasi penyebabnya.

Teror malam dan berjalan sambil tidur hampir selalu berhenti dengan sendirinya tanpa terapi, meskipun adakalanya peristiwa ini bisa terjadi selama bertahun-tahun. Biasanya tidak dibutuhkan terapi apapun, kecuali jika gangguan menetap hingga masa remaja atau dewasa dan bersifat berat.

- A, Renee A. Sleep Problems in Children. Web MD. 2012.

- B, Roy. Sleep Disorders in Children. Web MD. 2012.

- Cleveland Clinic Children's. Insomnia in Children. Ohio. www.sleepfoundation.org

- I, Vincent. Insomnia and Children. Childhood Sleep Basics. 2007.

- Kamus Kesehatan. Disomnia. www.kamuskesehatan.com

- M, John. Sleep and Sleep Disorders in Children and Teenagers. Medicine Net. 2011.

- S, Michael W. Hypersomnia. Medicine Net. 2008.

- S, Sat. Disorders That Disrupt Sleep (Parasomnias). eMedicine Health. 2005.

- S, Stephen B. Sleep Disorders in Children. Merck Manual Handbook. 2009.

- T, Colin. Sleep Problems in Children. 2010. www.patient.co.uk