Penyakit
23-02-2018

Sindroma Terowongan Kubital

Sindroma terowongan kubital merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul akibat adanya penekanan saraf ulnaris di terowongan kubital (cubital tunnel) di daerah siku.

Cubital Tunnel Syndrome merupakan kelainan yang cukup sering terjadi, dan menduduki urutan kedua kelainan yang diakibatkan penekanan pada saraf (compressive neuropathy) setelah Carpal Tunnel Syndrome.

Perjalanan saraf Ulnaris dan daerah yang dipersarafinya

Perjalanan saraf Ulnaris dan daerah yang dipersarafinya

Sumber: https://handtherapy.files.wordpress.com

 

Saraf Ulnaris adalah salah satu dari 3 saraf yang mempersarafi daerah tangan. Saraf-saraf lainnya adalah saraf medianus dan saraf radialis. Ketiganya berawal dari daerah leher (tulang belakang leher), tempat keluar semua saraf.

Saraf ulnaris akan berjalan sepanjang bagian depan lengan dan tangan, berjalan dekat dengan permukaan kulit di daerah siku, melewati terowongan (lekukan) kubiti yang terletak tepat di belakang tepi bagian dalam sendi siku sehingga mudah mengalami kerusakan akibat penekanan di daerah siku secara berulang. Terowongan kubital dibentuk oleh otot, ligamen dan tulang, dan dengan meluruskan lengan, terowongan tersebut dapat kita raba di tepi bagian dalam siku. 

 

Saraf ulnaris berperan dalam menghantarkan rangsang sensoris ke jari kelingking dan separuh jari manis. Dan juga bertanggungajawab pada pergerakan motorik otot-otot kecil (intrinsik) tangan termasuk gerakan menarik ibu jari ke telapak tangan  

   Area persarafan saraf Ulnaris

 

Area persarafan saraf Ulnaris

Sumber: http://advancedhand.com

Laki-laki lebih sering menderita kelainan ini 3-8 kali lebih besar daripada wanita.

Saraf ulnaris berjalan dekat dengan permukaan kulit di daerah siku, sehingga mudah mengalami kerusakan akibat penekanan di daerah siku secara berulang.

Gejala akan timbul saat terjadi penekanan saraf ulnaris di terowongan kubital yang dapat disebabkan karena:

  • adanya konstriksi (penyempitan) band fascia (pita jaringan ikat),
  • subluksasi atau tergelincirnya saraf ulnaris dari tempatnya (keluar dari lekukan),
  • adanya valgus kubiti (pertumbuhan tulang atau taji tulang yang abnormal di daerah siku), akibat melakukan aktivitas fisik yang meningkatkan tekanan pada saraf ulnaris, misalnya pada pitcher baseball yang melakukan gerakan memutar lengan untuk melempar.
  • adanya pembengkakan jaringan synovium di sendi siku, tumor, ganglia ataupun karena kompresi langsung saraf Ulnaris.

Beberapa aktivitas sehari-hari dan aktivitas pekerjaan berulang yang melibatkan sendi siku dapat memperburuk atau memicu terjadinya penekanan dan iritasi saraf ulnaris di terowongan tersebut. Beberapa aktivitas yang berisiko untuk menimbulkan gangguan ini antara lain:

  • menekuk siku untuk waktu lama, misalnya saat menelpon atau tidur dengan posisi tangan dilipat di bawah bantal.
  • sering bersandar dengan siku, terutama pada permukaan yang keras, seperti menekan siku pada lengan kursi saat mengetik, mengangkat siku pada sandaran kepala di kendaraan 
  • Aktivitas fisik yang meningkatkan tekanan pada saraf ulnaris, misalnya pada pitcher baseball yang melakukan gerakan memutar lengan untuk melempar.

 Gerakan  memutar lengan untuk melempar pada pitcher baseball

Sumber: http://medicastore.com

Gejala-gejala awal yang bisa ditemukan antara lain:

  • rasa nyeri dan baal di daerah siku
  • rasa kesemutan dan baal pada jari kelingking dan jari manis

Rasa nyeri dan baal pada telapak tangan sesuai persarafan saraf Ulnari

Rasa nyeri dan baal pada telapak tangan sesuai persarafan saraf ulnaris

Sumber: http://www.eorthopod.com

Pada akhirnya bisa terjadi gejala-gejala lain yang lebih berat, seperti:

  • Kelemahan pada tangan, terutama jari kelingking dan jari manis
  • Menurunnya kemampuan untuk menggenggam
  • Penyusutan massa otot di tangan (atrofi)
  • Kelainan bentuk tangan seperti cakar (claw-like deformity)

Area yang terkena dampak akibat penekanan saraf ulnaris di daerah siku

Area yang terkena dampak akibat penekanan saraf ulnaris di daerah siku

Sumber: http://ptandme.com

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik.

Bisa dilakukan pemeriksaan elektromiografi untuk memastikan diagnosis, yaitu dengan menentukan lokasi kerusakan saraf dan keparahan gangguan yang terjadi.

Penanganan konservatif dilakukan untuk mengurangi tekanan pada saraf, dengan beberapa cara sebagai berikut:

  • Menghentikan atau membatasi semua aktivitas yang memicu terjadinya Cubital Tunnel Syndrome (semua aktivitas yang memaksa sendi siku bekerja terlalu keras atau semua tindakan yang dapat menyebabkan iritasi saraf ulnar di terowongan cubiti).
  • Obat-obatan untuk mengurangi inflamasi atau peradangan dengan obat Non Steroid Anti Inflamation Drug (NSAID), ataupun pemberian kortikosteroid injeksi untuk mengurangi peradangan, pembengkakan dan penekanan pada saraf ulnaris secara langsung.
  • Penggunaan penyangga splint untuk pergelangan tangan dan atau siku, serta menghindari gerakan memutar pergelangan tangan dan menekuk lengan pada sendi siku, karena gerakan ini dapat memperparah iritasi pada saraf Ulnaris yang sedang tertekan.
  • Terapi fisik (fisioterapi) dan latihan fisik. Terapi ini dilakukan oleh dokter ahli, meliputi pemberian terapi pemanasan, pendinginan, atau ultrasound untuk mengatasi nyeri dan penderita juga akan diajarkan berbagai latihan untuk mengistirahatkan siku dan melakukan aktivitas tanpa membebani siku.
  • Secara bertahap, akan dilakukan pelatihan untuk peregangan dan untuk menjaga kekuatan dan otot lengan bawah dan tangan.

Untuk gangguan yang ringan bisa dilakukan terapi fisik, misalnya dengan cara:

  • Menghindari penekanan pada siku saat melakukan aktivitas sehari-hari, antara lain dengan menggunakan pelindung untuk siku (elbow pad)
  • Pembidaian saat malam hari agar siku tidak menekuk secara berlebihan

 

Tri-Flex Football Elbow Pad

Elbow Pad

Sumber: www.meyer-sports.eu

 

Pembedahan mungkin diperlukan untuk kasus penekanan saraf yang berat atau apabila gejala-gejala tidak membaik/tidak berhasil setelah 3 bulan dilakukan terapi dengan cara-cara di atas. Tindakan bedah bertujuan untuk menghilangkan/membebaskan tekanan pada saraf dan mencegah kerusakan saraf berlanjut.

Ada 2 cara untuk membebaskan penekanan saraf ulnaris pada terowongan kubital yaitu

1. Transposisi dari Saraf Ulnaris. Teknik ini bertujuan untuk melepaskan atau memindahkan saraf Ulnaris dari terowongan kubital.

2. Medial Epicondylectomy. Teknik operasi ini bertujuan untuk memotong epikondilus agar saraf ulnaris terbebas dari terowongan kubital di daerah tersebut.

Langkah-langkah pembedahan tehnik Medial Epicondylectomy

Langkah-langkah pembedahan teknik Medial Epicondylectomy

Sumber: http://www.eorthopod.com

Setelah menjalani pembedahan, lengan bawah harus diistirahatkan dari aktivitas dengan penggunaan splint atau brace. Secepat mungkin lengan bawah juga harus dilatih untuk meningkatkan arah gerakannya (range of motion) dan setelahnya baru dilakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan dari lengan bawah dan tangan melalui pelatihan-pelatihan yang akan diajarkan oleh dokter spesialis yang merawat.

Hindari melakukan aktivitas yang memberikan penekanan di area siku untuk waktu yang lama seperti: 

  • menekuk siku untuk waktu lama, misalnya saat menelpon atau tidur dengan posisi tangan dilipat di bawah bantal.
  • sering bersandar dengan siku, terutama pada permukaan yang keras, seperti menekan siku pada lengan kursi saat mengetik, mengangkat siku pada sandaran kepala di kendaraan 
  • Istirahatkan tangan setelah melakukan aktivitas berat yang menggunakan sendi siku.
  • J, Kimball. Cubital and Radial Tunnel Syndrome. Web MD. 2012.
  • S, David R. Cubital Tunnel Syndrome. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.
  • Cubital Tunnel Syndrome. e-Orthopod. The Methodist Hospital System Methodist Orthopedics. 2014