Penyakit
23-02-2018

Gangguan Depersonalisasi

Gangguan depersonalisasi berupa adanya perasaan terlepas dari tubuh atau proses mental seseorang yang menetap atau berulang (depersonalisasi) dan perasaan menjadi pengamat kehidupan seseorang dari luar.

Perasaan terlepas (depersonalisasi) yang sementara merupakan gejala psikologis nomor tiga yang paling sering terjadi, setelah kecemasan dan depresi. Perasaan ini seringkali muncul setelah seseorang mengalami bahaya yang mengancam nyawa, menggunakan obat-obat tertentu (misalnya mariyuana, halusinogen, ketamin, atau ekstasi), mengalami kelelahan yang sangat, atau mengalami kesulitan tidur.

Penderita merasa terlepas dari pikiran, perasaan, sensasi, atau tubuhnya. Penderita bisa mengatakan bahwa mereka merasa tidak nyata, seperti orang yang bergerak sendiri, atau seperti sedang bermimpi. Penderita bisa menggambarkan dirinya sebagai mayat berjalan. Gejala-gejala ini hampir selalu menyebabkan ketidaknyamanan yang luar biasa dan tidak dapat diterima oleh sebagian orang.

Open-uri20121201-9761-c7nepl

Sumber : www.healthtap.com

Gejala-gejala ini seringkali bersifat menetap. Gejala muncul dalam episode-episode berulang pada sekitar sepertiga penderita dan muncul terus menerus pada sekitar dua per tiga penderita. Gejala-gejala episodik terkadang juga bisa menjadi menetap.

Penderita seringkali sangat kesulitan untuk menggambarkan gejala-gejala yang dialami dan mungkin juga merasa takut atau percaya bahwa mereka akan menjadi gila. Namun, penderita selalu tetap sadar bahwa pengalaman-pengalaman yang dialami tidak nyata, tetapi hanya bagaimana mereka merasa. Kesadaran inilah yang membedakan gangguan depersonalisasi dengan gangguan psikotik.

Dugaan gangguan depersonalisasi didasarkan dari gejala-gejala yang ada. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya perlu dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan lain yang bisa menyebabkan gejala, misalnya penyalahgunaan zat-zat terlarang atau gangguan kesehatan lainnya. Pemeriksaan yang dilakukan bisa berupa MRI (Magnetic Resonance Imaging), EEG (Electroencephalography), dan pemeriksaan air kemih untuk memeriksa apakah terdapat obat-obat terlarang. Pemeriksaan psikologis dan wawancara terstruktur juga bisa membantu menegakkan diagnosis.

Gangguan depersonalisasi seringkali menghilang dengan sendirinya tanpa terapi. Penderita hanya diobati jika gangguan yang dialami menetap, terulang kembali, atau menyebabkan penderita tertekan. Psikoterapi psikodinamik dan terapi kongnitif-perilaku efektif untuk sebagian penderita.

Gangguan depersonalisasi seringkali berhubungan dengan atau dipicu oleh gangguan kesehatan mental lainnya, yang membutuhkan terapi. Setiap tekanan yang berhubungan dengan awal terjadinya gangguan depersonalisasi juga harus diatasi. Beberapa teknik yang dapat membantu :

  • Terapi kognitif bisa membantu menghambat pikiran obsesif penderita mengenai keadaan diri yang tidak nyata
  • Terapi perilaku bisa membantu penderita menjadi sibuk dalam tugas-tugas sehingga mengalihkan perhatian mereka dari depersonalisasi
  • Teknik grounding menggunakan lima indra (pendengaran, perasa, pembau, pengecap, dan penglihatan) membantu penderita merasa lebih terhubung dengan dirinya sendiri dan dunia. Teknik ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mendengarkan musik yang kencang atau meletakkan es batu di tangan. Sensasi ini sulit untuk diabaikan, sehingga membuat penderita menyadari akan keberadaan dirinya pada saat ini.
  • Teknik psikodinamik memfokuskan dalam membantu penderita mengatasi konflik yang tidak dapat mereka terima dan perasaan-perasaan yang menyertainya.

Banyak orang yang bisa menjadi sembuh sepenuhnya, terutama mereka yang mengalami gejala-gejala saat berada dalam tekanan dan dapat diatasi saat terapi. Sebagian penderita lainnya tidak berespon baik terhadap terapi, meskipun mereka bisa membaik secara bertahap dengan sendirinya. Namun, ada sedikit penderita yang tetap tidak responsif terhadap terapi.

- S, Daphne. Depersonalization Disorder. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.