Penyakit
23-02-2018

Gangguan Somatisasi

Gangguan somatisasi adalah gangguan kronis berat yang ditandai oleh adanya berbagai gejala fisik berulang pada lebih dari satu bagian tubuh, tetapi tidak ada satupun penyebab fisik yang ditemukan. Gejala-gejala ini nyata dirasakan oleh penderita dan bukan pura-pura dibuat untuk tujuan tertentu (malingering). Gejala yang muncul bisa berupa kombinasi rasa nyeri dengan gejala-gejala pada saluran cerna, seksual, dan neurologis.

Penyebab terjadinya gangguan ini belum sepenuhnya diketahui. Gangguan somatisasi seringkali diturunkan dalam keluarga dan terutama terjadi pada wanita. Banyak orang dengan gangguan somatisasi juga mengalami gejala-gejala depresi dan kecemasan, gangguan kepribadian, serta ketergantungan yang berlebihan pada orang lain.

Gejala-gejala fisik yang terjadi pada gangguan somatisasi bisa mencerminkan suatu permohonan untuk mendapat pertolongan dan perhatian. Gejala-gejala ini juga bisa memiliki tujuan lain, seperti membuat seseorang menghindari tanggung jawabnya sebagai orang dewasa. Namun, gejala-gejala yang muncul tidak sengaja dibuat-buat atau berpura-pura. Gejala-gejala cenderung tidak mengenakkan dan membuat penderita tidak dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Gejala-gejala gangguan somatisasi biasanya mulai muncul saat masa remaja atau awal masa dewasa (sebelum usia 30 tahun). Penderita bisa memiliki banyak keluhan fisik pada berbagai bagian tubuh.

Gejala-gejala spesifik dan frekuensi terjadinya bisa berbeda-beda. Gejala-gejala yang muncul bisa berupa sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut, diare atau sembelit, nyeri menstruasi, kelelahan, pingsan, nyeri saat melakukan hubungan seksual, dan hilangnya gairah seksual. Penderita pria seringkali mengeluhkan adanya gangguan ereksi. Selain itu, bisa juga terjadi kecemasan dan depresi.

Orang-orang dengan gangguan somatisasi menginginkan adanya bantuan dan dukungan emosional. Mereka bisa menjadi marah jika kebutuhannya ini tidak terpenuhi. Penderita juga seringkali merasa tidak puas dengan perawatan yang diberikan, sehingga mereka bisa berpindah-pindah dokter untuk melakukan berbagai pemeriksaan dan mendapat penanganan.

Orang-orang dengan gangguan somatisasi tidak menyadari bahwa masalah mendasar yang mereka alami bersifat psikologis, sehingga mereka memaksa dokter untuk melakukan berbagai pemeriksaan dan mendapat pengobatan. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah orang tersebut memiliki gangguan fisik yang cukup menjelaskan gejala-gejala tersebut.

Saat dokter memastikan bahwa gangguan yang dialaminya bersifat psikologis, gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan jiwa lainnya dari gejala-gejala yang ada dan kecenderungan untuk menetap selama bertahun-tahun.

Penanganan untuk gangguan somatisasi tidak mudah untuk dilakukan. Penderita bisa menjadi marah dan frustasi setelah mendengar bahwa gejala-gejala yang mereka alami dikatakan sebagai masalah psikologis.

Penderita bisa diberikan psikoterapi, terutama terapi perilaku dan kognitif, untuk mengatasi gangguan yang dialami. Selain itu, bisa juga diberikan obat-obat untuk mengurangi gejala-gejala gangguan mental lainnya, misalnya depresi.

Penderita gangguan somatisasi biasanya paling baik jika mendapatkan dukungan dan relasi yang baik dengan dokter yang ia percaya, dimana dokter menawarkan perawatan untuk mengatasi gejala-gejala yang dialami, melakukan kontrol secara teratur, dan mencegah terjadinya pemeriksaan-pemeriksaan lain yang tidak diperlukan. Namun, dokter juga harus tetap waspada akan adanya kemungkinan bahwa penderita bisa mengalami gangguan fisik yang nyata, yang membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.

Prognosis

Keparahan gangguan somatisasi cenderung berfluktuasi, tetapi bisa menetap seumur hidup. Gejala-gejala yang dialami jarang benar-benar hilang untuk waktu tertentu. Beberapa penderita bisa menjadi semakin depresi setelah beberapa tahun, sehingga berisiko untuk terjadi upaya bunuh diri.

- P, Katharine A. Somatization Disorder. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.