Penyakit
23-02-2018

Hives dan Angioedema

Hives, yang disebut juga urtikaria, merupakan suatu gangguan pada kulit yang ditandai dengan adanya pembengkakan yang agak meninggi, pucat, dikelilingi oleh area kemerahan dengan batas yang tegas. Angioedema merupakan pembengkakan yang terjadi pada jaringan yang lebih luas di bawah kulit, kadangkala mengenai wajah dan tenggorokan.

Angioedema. Sumber : www.netterimages.com

Hives dan angioedema bisa terjadi bersamaan dan bisa menjadi berat. Pemicu yang paling sering adalah obat-obatan, sengatan atau gigitan serangga, suntikan alergi (imunoterapi alergen), dan makanan tertentu-terutama telur, kerang, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Ada makanan tertentu yang dalam jumlah sedikit saja jika dimakan bisa tiba-tiba menimbulkan hives atau angioedema. Tetapi ada juga makanan lain (seperti stroberi) yang dapat menimbulkan reaksi ini hanya setelah dimakan dalam jumlah besar. Hives kadangkala diikuti oleh adanya infeksi virus seperti hepatitis, mononucleosis, dan campak jerman. 

Hives atau angioedema bisa menjadi kronis, berulang lebih dari seminggu atau sebulan. Pada kebanyakan kasus tidak ada penyebab khusus yang teridentifikasi, kemungkinan karena adanya asupan bahan-bahan tertentu yang tidak disadari, misalnya pewarna makanan atau bahan pengawet. Penggunaan obat-obat tertentu, seperti aspirin atau obat-obat anti-peradangan non-steroid lain (NSAID), bisa juga menyebabkan hives atau angioedema kronis. Angioedema kronis yang terjadi tanpa hives kemungkinan suatu angioedema menurun.

Hives biasanya diawali dengan timbulnya rasa gatal pada kulit, kemudian terbentuk pembengkakan yang biasanya kecil (kurang dari ½ inci). Pembengkakan yang lebih besar (sampai 4 inci melintang) bisa tampak seperti cincin kemerahan dengan warna pucat di tengah. Biasanya, hives hilang dan timbul. Suatu bercak bisa menetap untuk beberapa jam, kemudian hilang, dan kemudian bercak lainnya bisa muncul di mana saja. Setelah hives hilang, kulit biasanya tampak benar-benar normal.

Angioedema bisa mempengaruhi sebagian atau seluruh tangan, kaki, kelopak mata, bibir, atau kelamin. Kadangkala pembengkakan mengenai selaput lapisan mulut, tenggorokan, dan saluran pernafasan, sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernafas.

Penyebab hives dan angioedema biasanya jelas. Pemeriksaan jarang diperlukan karena reaksi-reaksi ini biasanya menyembuh dan tidak berulang.

Pada anak-anak, adanya hives yang timbul secara tiba-tiba, hilang dengan cepat, dan tidak berulang, biasanya tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, karena biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Jika angioedema atau hives muncul secara berulang dan tanpa penyebab yang jelas, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

Biasanya, jika hives muncul secara tiba-tiba, hives akan cepat mereda dengan sendirinya tanpa pengobatan, bahkan kadangkala dalam hitungan menit. Jika penyebabnya jelas, maka penderita sebisa mungkin harus menghindari penyebab terjadinya hives dan angioedema. Tetapi jika penyebabnya tidak jelas, orang tersebut harus menghentikan penggunaan semua obat-obatan yang tidak penting sampai hives tersebut reda.

Untuk hives dan angioedema ringan, pemberian antihistamin dapat meringankan rasa gatal dan mengurangi pembengkakan. Dokter mungkin akan memberikan kortikosteroid jika terdapat reaksi yang berat dan ketika semua pengobatan lainnya tidak efektif. Pemberian kortikosteroid harus sangat hati-hati, sesuai petunjuk dokter, dan sesingkat mungkin, karena pemberian kortikosteroid jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya berbagai efek samping.

Jika angioedema berat mengakibatkan kesulitan menelan atau bernafas atau pingsan, maka perlu dilakukan tindakan penanganan darurat. Penderita perlu segera dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit, agar segera mendapatkan pertolongan.

Sekilas Info :

Contoh obat anti histamin adalah Chlorpheniramine, Diphenhydramine, Loratadine, Fexofenadine dan Cetirizine. Contoh obat kortikosteroid adalah Prednisolone dan Dexamethasone. Obat anti histamine bisa menimbulkan efek samping seperti mulut kering, mengantuk, pusing, mual, muntah, gelisah atau rewel (pada sebagian anak-anak), gangguan berkemih, pandangan kabur, serta kebingunan.

Bila mengonsumsi obat anti histamine dengan efek samping mengantuk, maka sebaiknya dikonsumsi sebelum waktu tidur. Jangan mengkonsumsi obat tersebut saat siang hari atau saat hendak mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin berat.

Baca label yang tertera pada kemasan obat sebelum mengkonsumsi obat alergi. Obat anti histamine bisa berinteraksi dengan obat lain yang sedang digunakan. Bila mempunyai masalah pembesaran prostat, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, masalah tiroid, penyakit hati atau ginjal, glaukoma atau sedang hamil / menyusui sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter sebelum menggunakan obat.

- Peter J Delves. Hives and Angioedema. Merck Manual. 2008.