Penyakit
23-02-2018

Gangguan Disintegratif pada Anak

Gangguan disintegratif pada anak dikenal juga sebagai sindroma Heller. Gangguan ini sangat jarang terjadi, dimana anak berkembang dengan normal sampai usia sekitar 3 tahun, tetapi kemudian dalam waktu beberapa bulan anak kehilangan kemampuan sosial, komunikasi, dan kemampuan lain yang telah dipelajari sebelumnya.

Penyebab terjadi gangguan disintegratif pada anak belum diketahui, tetapi gangguan ini dikaitkan dengan adanya gangguan pada otak dan sistem saraf.

Kebanyakan anak mengalami pertumbuhan fisik dan mental yang cepat. Anak-anak dengan dengan gangguan disintegratif berkembang dengan normal sampai sekitar usia 3 tahun. Anak dapat belajar berbicara, pergi ke toilet, dan menunjukkan perilaku sosial yang seharusnya. Namun, setelah beberapa waktu, anak menjadi rewel dan mengalami kemunduran.

Anak-anak dengan gangguan disintegratif menunjukkan dengan jelas adanya kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah didapat sebelumnya, yaitu pada dua atau lebih area berikut:

  • Kemampuan berbahasa, meliputi adanya kemunduran dalam kemampuan untuk berbicara dan melakukan percakapan.
  • Kemampuan sosial, meliputi kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Anak mulai tampak melakukan perilaku yang repetitif (diulang-ulang), mirip dengan yang terjadi pada anak-anak dengan autisme.
  • Kemampuan untuk bermain, meliputi hilangnya minat dalam permainan yang imajinatif dan berbagai permainan atau aktivitas lainnya.
  • Kemampuan motorik, meliputi kemampuan dalam berjalan, memanjat, menggenggam benda, dan melakukan gerakan-gerakan lainnya.
  • Kemampuan untuk mengendalikan BAB dan BAK pada anak yang sebelumnya telah bisa pergi ke toilet untuk buang air. Anak menjadi suka mengompol kembali.

Hilangnya kemampuan tersebut bisa terjadi secara tiba-tiba dalam waktu beberapa hari hingga minggu, atau bertahap dalam periode waktu tertentu. Seringkali anak secara perlahan sampai pada keadaan gangguan kecerdasan yang berat (retardasi mental). Biasanya gangguan ini terjadi setelah anak terkena penyakit yang serius, misalnya infeksi otak dan sistem saraf.

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada. Gangguan ini perlu dibedakan dengan gangguan lain yang mirip, misalnya gangguan perkembangan pervasif atau skizofrenia pada anak.

Tanda yang paling penting dari gangguan disintegratif pada anak adalah hilangnya tahapan perkembangan yang harusnya dilalui oleh anak yang normal. Umumnya, diagnosis ditegakkan jika anak memiliki kehilangan fungsi setidaknya pada dua area perkembangan.

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan gangguan disintegratif pada anak. Terapi yang diberikan pada dasarnya sama dengan terapi untuk anak-anak dengan autisme. Terapi bertujuan untuk mengatasi atau mengurangi gejala-gejala yang ada, yaitu berupa:

  • Obat-obatan. Tidak ada obat yang dapat langsung mengobati gangguan disintegratif pada anak. Namun, gangguan perilaku berat yang dapat membahayakan anak, misalnya perilaku impulsif atau gerakan-gerakan repetitif, terkadang bisa dikendalikan dengan obat-obat yang biasa digunakan untuk mengatasi kecemasan, depresi, atau psikosis.
  • Terapi Perilaku. Terapi perilaku dilakukan untuk membantu anak mempelajari kembali atau meminimalkan hilangnya kemampuan berbahasa, kemampuan sosial, dan kemampuan untuk merawat diri.

Meskipun kemampuan dan perilaku anak dengan gangguan disintegratif berbeda-beda, tetapi dampak akhirnya lebih buruk dari anak-anak dengan autisme. Hilangnya kemampuan berbahasa, kemampuan sosial, kemampuan merawat diri, dan juga kognitif anak cenderung lebih berat dan sulit untuk diperbaiki. Anak-anak dengan gangguan ini umumnya membutuhkan bantuan seumur hidup untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.

- Mayo Clinic. Childhood Disintegrative Disorder. 2013.

- S, Stephen B. Autism Spectrum Disorders. Merck Manual Handbook. 2009.

- Z, David. Childhood Disintegrative Disorder. Medline Plus. 2012.