Penyakit
23-02-2018

Imunodefisiensi Variabel Umum

Penyakit imunodefisiensi variabel umum (common variable immunodeficiency) merupakan gangguan imunodefisiensi kongenital (bawaan) yang ditandai dengan adanya kadar antibodi (imunoglobulin) yang sangat rendah meskipun jumlah limfosit B normal.

Penyakit imunodefisiensi variabel umum biasanya terjadi pada usia sekitar 10-20 tahun, tetapi kadang dapat terjadi lebih awal, atau terjadi lebih lambat. Jumlah limfosit B normal, tetapi tidak menjadi matang sehingga tidak dapat menghasilkan imunoglobulin. Beberapa penderita juga mengalami gangguan fungsi limfosit T.

Infeksi paru berulang, sperti pneumonia, sering ditemukan pada penderita penyakit imunodefisiensi variabel umum. Penderita dapat mengalami batuk kronis, terkadang hingga menjadi batuk darah atau mengalami kesulitan bernapas. Penyakit autoimun, seperti penyakit Addison, tiroiditis, dan rheumatoid Arthritis juga dapat terjadi. Penderita juga dapat mengalami gangguan saluran pencernaan sehingga terjadi diare. Pada sebagian penderita dapat terjadi pembesaran limpa. Pada sekitar 10% penderita dapat terjadi kanker lambung dan limfoma.

Penyakit imunodefisiensi variabel umum perlu dicurigai pada penderita yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun. Pemeriksaan darah diperlukan untuk mengukur kadar imunoglobulin.

Pemberian imunoglobulin secara intravena (melalui pembuluh darah) diperlukan sepanjang hidup penderita. Antibiotika bisa diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri yang terjadi.

Adanya penyakit autoimun dapat ditangani dengan pemberian obat untuk menekan imunitas tubuh. Penyakit imunodefisiensi variabel umum dapat memperpendek usia harapan hidup penderita.

Obat antibiotik terdiri dari berbagai macam golongan, antara lain:

Pilihan obat antibiotik dan dosis obat yang digunakan untuk mengatasi suatu penyakit tergantung dari hasil pemeriksaan dokter dan kondisi yang dialami oleh masing-masing orang.

Sekitar 1 dari 15 orang mempunyai reaksi alergi setelah mengkonsumsi antibiotika golongan penisilin. Beberapa orang bahkan bisa mengalami reaksi alergi yang parah yang disebut dengan syok anafilaksis. Reaksi alergi juga bisa terjadi pada antibiotika golongan lainnya. Bila seseorang mempunyai alergi terhadap antibiotik sebaiknya beritahukan ke dokter saat berkonsultasi. 

Masalah lain dalam penggunaan antibiotik adalah beberapa jenis bakteri telah menjadi resisten terhadap pemakaian antibiotik, karena telah banyak digunakan secara tidak tepat. Oleh karena itu sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter sebelum menggunakan obat antibiotik dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter.

- Rebecca H Buckley. Common Variable Immunodeficiency. Merck Manual. 2008.