Penyakit
23-02-2018

Pre-Eklampsia dan Eklampsia

Pre-eklampsia adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan adanya protein dalam air kemih atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan. Eklampsia adalah bentuk pre-eklampsia yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang atau koma.

Pre-eklampsia terjadi pada sekitar 5% kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kehamilan pertama dan pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit pembuluh darah. Eklampsia terjadi pada 1 dari 200 wanita yang menderita pre-eklampsia dan jika tidak diobati secara tepat biasanya bisa berakibat fatal.

Penyebab pre-eklampsia dan eklampsia tidak diketahui. Beberapa keadaan yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya pre-eklampsia, antara lain : asupan makan yang buruk, gangguan sistem imunitas, kerusakan pembuluh darah, dan insufisiensi aliran darah ke rahim. Faktor risiko terjadinya pre-eklampsia adalah :

  • Kehamilan pertama
  • Hamil kembar
  • Kegemukan
  • Berusia lebih dari 35 tahun
  • Riwayat menderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit ginjal

Terjadinya eklampsia mengikuti pre-eklampsia. Sulit diprediksi apakah wanita dengan pre-eklampsia akan mengalami kejang. Seseorang berisiko tinggi untuk mengalami kejang jika memiliki pre-eklampsia berat dan :

  • Sakit kepala
  • Perubahan dalam penglihatan
  • Tekanan darah yang sangat tinggi
  • Pemeriksaan darah yang abnormal

Seringkali wanita yang mengalami pre-eklampsia tidak merasa sakit. Gejala-gejala pre-eklampsia bisa berupa :

- tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm Hg
- wajah atau tangan membengkak (edema)
- peningkatan berat badan yang tiba-tiba dalam 1-2 hari, kira-kira lebih dari 1 kg dalam seminggi
- adanya protein yang tinggi dalam air kemih

Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm Hg, juga dikatakan menderita pre-eklampsia.

Gejala-gejala pre-eklampsia berat antara lain berupa :

  • Sakit kepala yang tidak hilang-hilang
  • Nyeri perut sisi kanan, di bawah tulang rusuk
  • Iritabilitas
  • Penurunan produksi air kencing, jarang berkemih
  • Mual dan muntah
  • Perubahan penglihatan, termasuk kebutaan sementara, melihat kilatan cahaya atau bercak-bercak cahaya, sensitif terhadap sinar, dan penglihatan yang buram

Gejala-gejala eklampsia meliputi :

  • Nyeri dan sakit pada otot
  • Kejang
  • Tidak sadar

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklampsia, 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur.

Untuk memastikan adanya pre-eklampsia, maka perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Pemeriksaan ultrasonografi dan tes lainnya dapat membantu untuk menentukan apakah bayi perlu segera dilahirkan atau tidak. Wanita yang memiliki tekanan darah yang rendah pada saat awal kehamilan dan mengalami peningkatan tekanan darah yang signifikan perlu dimonitor ketat akan adanya tanda-tanda lain pre-eklampsia.

Satu-satunya cara untuk mengatasi pre-eklampsia adalah dengan melahirkan bayi yang dikandungnya. Jika bayi yang dikandung belum berkembang sempurna dan hanya terdapat pre-eklampsia ringan, maka ibu hamil bisa dirawat sampai bayi siap untuk dilahirkan. Untuk itu, ibu sebaiknya melakukan :

  • Istirahat total, tirah baring dengan miring ke sisi kiri
  • Minum cukup air dan kurangi asupan garam
  • Sering memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan ibu dan bayi dalam keadaan baik

Bayi harus dilahirkan jika terdapat tanda-tanda pre-eklampsia berat serta beberapa kondisi sebagai berikut :

  • Pemeriksaan yang menunjukkan bayi tidak berkembang dengan baik atau tidak mendapat suplai darah dan oksigen yang cukup
  • Tekanan diastolik darah di atas 110 mmHg atau lebih dari 100 mmHg selama lebih dari 24 jam
  • Terjadi kejang atau perubahan fungsi mental
  • Sindroma HELLP
  • Tanda-tanda gangguan fungsi ginjal

Tanda-tanda pre-eklampsia harus dimonitor dengan ketat untuk melihat apakah ada perburukan atau potensi terjadinya eklampsia. Persalinan merupakan terapi utama pre-eklampsia berat untuk mencegah terjadinya eklampsia.

Pada kehamilan, obat-obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi hanya digunakan jika sangat diperlukan dan dibawah pemantauan dokter, karena obat-obat tertentu bisa menyebabkan gangguan pada janin atau bahkan kematian janin, misalnya obat golongan ACE inhibitor. Obat jenis ini perlu dihentikan selama kehamilan, terutama saat dua trimester terakhir. Obat tersebut bisa menyebabkan kerusakan ginjal pada janin dan janin bisa mengalami kematian saat dilahirkan.

Tidak ada cara untuk mencegah terjadinya pre-eklampsia. Hal yang penting untuk semua wanita hamil adalah untuk memulai memeriksakan kehamilan sedini mungkin ke dokter selama masa kehamilan. Diagnosa dan terapi sedini mungkin untuk pre-eklampsia dapat mencegah terjadinya eklampsia pada wanita hamil.

- F, Edmund F. Preeclampsia. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

- Mayo Clinic. Preeclampsia. 2011.