Gangguan Pada Cairan Ketuban
Penyakit
23-02-2018

Gangguan Pada Cairan Ketuban

Cairan ketuban, atau disebut juga cairan amnion, merupakan cairan yang terdapat di dalam kantong amnion dan melingkupi janin selama kehamilan. Cairan amnion mambantu melindungi janin dan berperan penting dalam perkembangan organ-organ tubuh janin, seperti paru-paru, ginjal, dan saluran pencernaan.

Cairan ketuban yang terlalu banyak atau terlalu sedikit berhubungan dengan kelainan perkembangan janin dan komplikasi kehamilan. Jumlah cairan yang abnormal dapat menjadi penyebab atau akibat dari suatu gangguan.

Cairan ketuban yang terlalu banyak bisa terjadi akibat adanya gangguan tertentu pada bayi, seperti kelainan saluran pencernaan atau gangguan sistem saraf dan otak. Selain itu, cairan ketuban juga bisa terlalu banyak jika ibu hamil memiliki diabetes yang tidak terkontrol. Namun, terkadang penyebabnya tidak diketahui,

Penyebab cairan ketuban yang terlalu sedikit antara lain :

  • Ketuban pecah dini
  • Kehamilan lewat waktu (lebih dari 42 minggu)
  • Gangguan pertumbuhan janin
  • Janin meninggal
  • Dehidrasi pada ibu
  • Diabetes atau hipertensi pada ibu
  • Pemakaian obat tertentu, misalnya indometasin dan ACE Inhibitor

Gejala-gejala cairan ketuban yang berlebihan terjadi akibat adanya tekanan ke organ sekitarnya, misalnya : sesak nafas, pembengkakan tungkai bawah, atau penurunan produksi air kemih. Kondisi ini juga bisa menyebabkan persalinan terjadi sebelum waktunya.

Gejala-gejala cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa berbeda-beda dan bisa menyerupai gangguan lainnya, antara lain berkurangnya jumlah cairan ketuban yang terlihat pada pemeriksaan ultrasonografi.

Untuk mendiagnosa gangguan cairan ketuban, selain dilakukan pemeriksaan riwayat medis lengkap dan pemeriksaan fisik, juga dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan ultrasonografi dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah volume cairan ketuban. 

Untuk kasus polihidramnion yang ringan biasanya jarang mendapatkan terapi dan dapat membaik dengan sendirinya. Pada kasus tertentu, penanganan untuk kondisi penyebab (misalnya diabetes pada ibu hamil), dapat membantu mengatasi cairan ketuban yang berlebihan.

Jika ibu hamil dengan cairan ketuban yang berlebihan mengalami sesak nafas atau nyeri perut, atau bahkan riwayat kehamilan prematur, maka diperlukan terapi, khususnya di rumah sakit. Terapi yang diberikan antara lain mengurangi cairan ketuban yang berlebihan dengan amniosintesis. Terapi bisa diulang saat kehamilan. Namun, tindakan ini memiliki beberapa risiko, antara lain risiko terjadinya ketuban pecah dini dan kelahiran prematur.

Untuk cairan ketuban yang terlalu sedikit, terapi ditentukan oleh berbagai hal, seperti :

  • Riwayat medis ibu hamil
  • Kondisi kesehatan dan kehamilan secara keseluruhan
  • Seberapa berat oligohidramnion yang terjadi
  • Toleransi ibu hamil terhadap terapi atau tindakan yang akan dilakukan

Terapi yang diberikan dapat berupa :

  • Observasi ketat jumlah cairan ketuban dan pemeriksaan medis yang teratur
  • Pemberian cairan untuk menambah jumlah cairan ketuban. Pemberian cairan tambahan ini dapat diberikan pada wanita yang dalam persalinan, dimana selaput ketuban telah pecah. 
  • Persalinan, jika kondisi ini membahayakan janin yang dikandung, sehingga dibutuhkan persalinan lebih awal.

- V, Linda J. Polyhydramnios. Medline Plus. 2011.

- Mayo Clinic. Polyhydramnios. 2011.