Penyakit
23-02-2018

Fobia Pada Anak

Fobia adalah rasa takut yang irasional (tidak masuk akal), berlebihan, dan menetap terhadap suatu benda, keadaan atau fungsi tubuh yang sesungguhnya tidak berbahaya atau hanya menimbulkan bahaya yang kecil.

Rasa takut normal terjadi pada anak, misalnya takut mengikuti ujian di sekolah, takut pada anjing di jalan, atau takut mendengar petir. Namun, fobia berbeda dari rasa takut yang biasa. Fobia merupakan rasa takut yang sangat hebat terhadap situasi atau objek tertentu dan tidak dapat hilang begitu saja. Anak-anak yang memiliki fobia akan merasa takut setiap kali mereka melihat atau mengalami sesuatu yang menjadi fobianya. Mereka tidak hanya merasa takut sesekali saja. Anak-anak yang memiliki fobia seringkali melarikan diri untuk menghindari sesuatu yang menakutkan untuknya.

Penyebab pasti terjadinya fobia pada anak belum diketahui. Beberapa ahli berpendapat bahwa ada gen tertentu yang berperan. Anak-anak juga bisa belajar akan adanya fobia dengan melihat anggota keluarganya yang memiliki fobia terhadap objek atau situasi tertentu, misalnya fobia terhadap ular atau laba-laba.

Faktor genetik, zat-zat kimia di dalam otak, dan peristiwa atau sesuatu yang bersifat traumatik dalam hidup anak (misalnya kematian orang tua atau perceraian orang tua) juga bisa mempengaruhi terjadinya fobia.

Fobia bisa dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu :

- Fobia Sosial. Fobia sosial lebih dari sekedar rasa malu untuk bergaul. Fobia sosial meliputi adanya rasa takut diawasi oleh orang lain, takut mendapat penghinaan di depan umum, dan takut mendapat penilaian buruk oleh orang lain.

- Agorafobia. Sebagian besar orang yang memiliki agorafobia sebelumnya pernah mengalami serangan panik. Agorafobia merupakan rasa takut pada tempat terbuka, misalnya pusat perbelanjaan atau ruangan yang penuh dengan orang, dimana berarti dirinya tidak mudah melarikan diri jika terjadi serangan panik.

- Fobia Spesifik. Fobia spesifik bisa terjadi terhadap berbagai hal atau situasi, misalnya : ketakutan terhadap ruang tertutup (klaustrofobia), ketakutan terhadap dokter gigi, atau ketakutan untuk sekolah (fobia sekolah).

Sumber : www.lesvosnews.net

Fobia sekolah bisa menyebabkan anak tidak mau pergi ke sekolah. Anak-anak yang masih kecil (sekitar usia 6-7 tahun) bisa secara langsung menolak untuk pergi ke sekolah atau mengeluh sakit perut, mual atau gejala lain yang memungkinkan dirinya bisa tetap tinggal di rumah. Fobia sekolah bisa terjadi akibat reaksi berlebihan anak terhadap rasa takut akan sesuatu di sekolah, misalnya guru yang galak. Fobia sekolah pada anak-anak yang lebih besar (sekitar usia 10-14 tahun) bisa menunjukkan adanya masalah psikis yang lebih serius.

Apapun jenisnya, fobia cenderung menyebabkan timbulnya reaksi berupa :

  • Timbulnya rasa takut dan cemas yang tidak terkontrol saat terpapar pada sumber ketakutan
  • Perasaan bahwa dirinya harus melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk menghindari apa yang ditakutkan
  • Ketidakmampuan untuk bertindak normal karena rasa cemas atau takut yang dialami
  • Selain reaksi psikologis, terdapat juga reaksi fisik yang timbul, misalnya berkeringat, detak jantung menjadi cepat, sesak nafas, merasa panik dan sangat cemas.
  • Pada beberapa kasus, anak bisa merasa cemas hanya dengan memikirkan apa yang ditakutinya
  • Anak bisa menempel kuat pada orang tua atau pengasuhnya, atau menangis

Diagnosa didasarkan dari wawancara klinis dan gejala-gejala yang ada. Diagnosa fobia harus memenuhi kriteria DSM yang dikeluarkan oleh Asosiasi Psikiarti Amerika (AMA), yaitu :

- Kriteria diagnostik untuk fobia spesifik pada anak meliputi :

  • Timbulnya rasa takut yang hebat dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi tertentu, misalnya ular, laba-laba, atau petir
  • Saat berhadapan dengan sumber ketakutan segera muncul reaksi kecemasan
  • Menghindari apa yang ditakuti dengan segala cara atau menghadapinya dengan sangat tertekan
  • Tidak ada alasan yang dapat menjelaskan timbulnya gejala-gejala tersebut, termasuk kondisi medis dan gangguan kecemasan lainnya
  • Gejala berlangsung minimal selama 6 bulan

- Kriteria diagnostik untuk fobia sosial pada anak meliputi :

  • Adanya rasa takut yang hebat dan menetap bahwa dirinya akan dihina atau dipermalukan di depan umum, biasanya oleh orang yang tidak dikenal atau saat berada dalam pengawasan ketat
  • Paparan terhadap situasi yang ditakutkan menimbulkan kecemasan yang hebat, yang bisa menyebabkan timbulnya serangan panik
  • Menghindari situasi sosial atau tampil di depan umum, atau melakukannya dengan sangat tertekan
  • Masalah-masalah yang disebabkan oleh fobia sangat mengganggu kehidupan
  • Tidak ada alasan yang dapat menjelaskan timbulnya gejala-gejala tersebut, termasuk masalah kesehatan, pengobatan, atau gangguan psikologis lainnya.
  • Kecemasan diwujudkan dalam bentuk menangis, marah, atau mematung pada situasi sosial dimana anak bertemu orang-orang yang tidak dikenal
  • Seringkali, anak tidak mampu menyadari bahwa ketakutannya tidak beralasan
  • Fobia berlangsung sedikitnya selama 6 bulan

- Kriteria diagnostik agorafobia meliputi :

  • Rasa takut yang tidak rasional yang muncul saat berada seorang diri pada suatu tempat atau situasi dimana dirinya tidak bisa mendapatkan bantuan atau keluar dengan mudah jika dirinya mengalami serangan panik. Orang-orang dengan agorafobia bisa merasa takut berada di keramaian, berbaris, bepergian dengan bus atau kereta api. Pada kasus yang berat, seseorang bisa tidak mau meninggalkan rumah.
  • Sedapat mungkin menghindari situasi-situasi yang bisa memicu terjadinya kecemasan. Merasa sangat tertekan jika sampai menghadapi situasi ini.
  • Tidak ada alasan yang dapat menjelaskan timbulnya gejala-gejala tersebut, termasuk kondisi medis, pengobatan, atau gangguan psikologis lainnya.

Anak yang memiliki fobia dianjurkan untuk dibawa ke seorang psikolog atau psikiater untuk membantu mengatasi fobianya.

Anak yang mengalami fobia sekolah diusahakan untuk segera kembali sekolah agar tidak tertinggal pelajaran. Jika fobia yang terjadi sangat berat sampai mengganggu aktivitas anak dan anak tidak memberikan respon terhadap dorongan orang tua maupun gurunya, maka mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog atau ahli kesehatan jiwa (psikiater).

Salah satu terapi pilihan yang dapat dilakukan adalah terapi paparan. Terapi ini dilakukan dengan cara memberikan paparan terhadap sesuatu yang menjadi fobia seseorang secara bertahap. Pada akhirnya, seseorang harus bisa menghadapi sesuatu yang menjadi fobianya dengan lebih baik.

Beberapa anak mungkin perlu mendapatkan obat untuk membantu mengatasi fobia yang dimilikinya. Terkadang anak bisa mempelajari berbagai cara untuk mengatasi fobia yang dimilikinya, misalnya dengan latihan relaksasi.

Lama pengobatan tergantung dari seberapa parah fobia yang dialami dan bagaimana anak itu sendiri. Terapi bisa berlangsung selama beberapa minggu, bulan, atau lebih lama. Namun, perlu diingat bahwa fobia bisa diatasi sehingga anak akan merasa lebih baik dalam menjalani hidupnya. 

Selain faktor genetik yang mungkin berperan dalam terjadinya fobia, fobia pada anak juga bisa dipicu karena sering melihat orang lain yang memiliki fobia, termasuk orang tuanya. Jika orang tua dapat mengatasi fobianya, maka mungkin fobia tidak akan menurun pada anaknya.

Ketakutan-ketakutan yang normal dan biasa ditemukan pada masa kanak-kanak perlu dijelaskan agar anak tidak terus menerus merasa takut dan tidak membuatnya memiliki fobia. Beberapa ketakutan yang biasa ditemukan pada anak :

- Takut gelap, monster, serangga dan laba-laba (sekitar usia 3-4 tahun)
- Takut terluka dan takut mati (lebih sering ditemukan pada anak yang lebih besar)
- Cerita, film atau acara televisi yang menakutkan bisa menambah rasa takut pada anak
- Pernyataan orang tua saat marah atau bergurau bisa dianggap serius oleh anak dan bisa menimbulkan rasa takut

Orang tua sebaiknya menenangkan anaknya dengan mengatakan bahwa monster itu sesungguhnya tidak ada, laba-laba itu tidak berbahaya atau apa yang dilihatnya di televisi itu tidak benar-benar terjadi. Jika pernyataan orang tua saat marah atau bercanda menyebabkan anak menjadi takut, sebaiknya orang tua menjelaskan maksud yang sesungguhnya agar anak tidak terus menerus merasa takut.

Anak yang pemalu terhadap situasi yang baru, pada awalnya bisa menujukkan reaksi berupa rasa takut atau menarik diri. Anak yang pemalu sebaiknya dibantu untuk beradaptasi dengan berbagai situasi yang baru, misalnya dengan lebih sering mengajaknya pergi ke berbagai lingkungan yang baru.

- G, John H. Phobic Disorder. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

- L, D'Arcy. Phobias. Kids Health. 2013.

- Mayo Clinic. Phobias. 2011.