Penyakit
23-02-2018

Bullying Pada Anak

Bullying merupakan serangan secara fisik atau psikologis yang berulang kali dilakukan untuk mendominasi atau merendahkan seseorang yang lebih lemah atau dianggap lebih lemah.

Bullying bisa terjadi secara langsung, misalnya dengan mengancam, memukul, mengejek, mengolok-olok, memberi julukan tertentu, melecehkan atau mencela seseorang. Tetapi terkadang, bullying juga bisa terjadi secara tidak langsung, misalnya dengan menyebarkan gosip atau membuat orang lain mengucilkan seseorang. Cyber-bullying merupakan bentuk baru bullying, dimana bully diberikan dengan menggunakan e-mail, sms, atau media elektronik lain sejenisnya.

Bullying bisa terjadi pada anak. Perilaku bullying bisa membuat anak atau remaja korban bullying merasa tertekan dan takut, bahkan anak bisa sampai menolak untuk pergi sekolah. Pada kasus yang berat, korban bullying bisa melakukan tindakan kekerasan atau ada juga anak yang sampai berpikir untuk bunuh diri. Pada beberapa anak, efek bullying bisa berlangsung seumur hidup. Meskipun demikian, seringkali perilaku bullying kurang mendapat perhatian dan dianggap sebagai bagian normal dari proses perkembangan anak.

Anak-anak melakukan bully karena berbagai alasan. Terkadang mereka memilih seorang anak yang tampak lebih lemah secara fisik atau emosional, atau tampak berbeda dari penampilan atau perilakunya, untuk dijadikan korban. Anak-anak yang melakukan bully ingin merasa populer atau penting. Pelaku bullying seringkali menganggap bahwa tindakan yang dilakukan bisa meningkatkan harga dirinya dan membuat dirinya berkuasa.

Terkadang anak menyiksa anak lain karena seperti itulah cara mereka diperlakukan. Anak mungkin berpikir bahwa perilaku itu normal karena keluarga atau orang-orang lain disekitarnya juga melakukannya, misalnya lingkungan dimana orang-orang sering marah, berteriak, teriak, dan mengumpat. Beberapa acara TV yang populer juga terkadang menunjukkan perilaku yang buruk dan mendorong anak untuk mengikutinya, misalnya acara TV yang menunjukkan adanya orang yang dieliminasi, dikucilkan, atau diejek karena penampilan atau kurangnya kemampuan.

Meskipun beberapa pelaku bullying memiliki tubuh yang lebih besar atau lebih kuat daripada korbannya, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian.

Anak yang menjadi korban bullying terkadang mau mengatakan tentang apa yang terjadi pada anggota keluarga atau temannya, tetapi seringkali mereka merasa takut atau terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang dialaminya pada orang tua. Guru juga seringkali tidak menyadari bahwa muridnya ada yang mengalami bullying.

Jika anak menjadi korban bullying, maka anak mungkin akan tampak sedih, menarik diri, atau menjadi murung. Perhatikan apakah ada tanda-tanda peringatan akan adanya bullying pada anak, antara lain :

  • Anak mengalami kesulitan untuk tidur
  • Perubahan pada kebiasaan makan anak
  • Anak mengeluhkan adanya keluhan fisik, misalnya sakit kepala atau sakit perut
  • Prestasi sekolah yang buruk atau anak menolak untuk pergi sekolah
  • Merasa tertekan setelah berinteraksi dengan temannya di telpon atau internet
  • Barang-barang pribadi hilang atau rusak, misalnya pakaian atau barang elektronik
  • Tiba-tiba kehilangan teman-teman atau menghindari situasi sosial
  • Merasa putus asa atau rendah diri
  • Adanya perilaku yang merusak diri sendiri, misalnya kabur dari rumah

Anak-anak yang menjadi korban bullying bisa mengalami :

  • Gangguan kesehatan mental. Anak-anak yang mendapatkan bullying berisiko untuk mengalami depresi, cemas, gangguan tidur, rendah diri, dan bisa berpikir untuk melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
  • Penurunan prestasi akademik. Anak-anak yang menjadi korban bully mungkin merasa takut untuk pergi ke sekolah dan lebih cenderung mendapatkan nilai yang buruk.
  • Penyalahgunaan zat-zat terlarang. Anak-anak yang menjadi korban bullying lebih rentan untuk menggunakan alkohol dan obat-obat terlarang lainnya.
  • Tindakan kekerasan. Beberapa anak mungkin akan membalasnya dengan tindakan kekerasan.

Dugaan adanya bullying pada anak didasarkan dari tanda atau gejala yang ada. Jika anak diduga mengalami bullying, maka hal ini harus ditangani dengan serius :

  • Dorong anak agar mau berbagi tentang masalahnya. Tetaplah tenang, dengarkan dengan penuh perhatian, dan berikan dukungan pada anak. Ingatkan anak bahwa mereka tidak akan disalahkan karena mendapatkan bully.
  • Pelajari situasi yang ada. Tanyakan pada anak bagaimana dan kapan bullying terjadi dan siapa saja yang terlibat. Ketahui apa yang telah anak lakukan untuk mencoba menghentikannya.
  • Berikan pujian untuk anak-anak yang berani melaporkan kasus bullying yang dialaminya sehingga dapat membantu membangun rasa harga diri pada anak.

Anak perlu diberi pemahaman dan diyakinkan bahwa tindakan bullying selalu tidak dapat diterima. Orang tua dapat mencontohkan berbagai cara untuk merespon perilaku bully, misalnya dengan memberitahu orang tua, mengubah rutinitas sehari-hari anak untuk menghindari pelaku bully, mengabaikan pelaku bully, atau dengan konseling, dan bukan melawannya dengan kekerasan.

Anak-anak perlu diajarkan untuk mengabaikan dan tidak terpengaruh oleh tindakan bully yang diterimanya. Cara ini akan mengurangi kepuasan dari pelaku dan pada akhirnya akan mengurangi tindakan bullying yang dilakukan.

Tingkatkan rasa percaya diri anak. Dukung anak untuk membangun pertemanan dan terlibat dalam berbagai aktivitas yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Jika bullying terjadi di sekolah, maka guru dan kepala sekolah harus diberitahu. Orang tua juga harus memberitahu orang tua dari anak pelaku bullying, tetapi hal ini sebaiknya tidak dilakukan secara konfrontatif karena bisa membuat adanya efek yang berlawanan, dimana ada pembelaan dari orang tua pelaku. Korban juga mungkin merasa takut jika orang tua pelaku diberitahu, karena takut dirinya akan mendapatkan bullying yang lebih berat, tetapi tindakan ini seringkali bisa menghentikan perilaku bullying, terutama jika dilakukan diskusi yang positif, yang berfokus pada perilaku yang berbahaya.

Meskipun tindakan bullying melukai dan merendahkan orang lain, tetapi pelaku seringkali tidak mengetahui bahwa tindakannya itu juga melukai dirinya sendiri, yaitu dengan membuat teman-teman menjauhinya.

Orang tua pelaku bullying harus menjelaskan pada anaknya bahwa perilakunya tidak benar, tidak dapat diterima, dan tidak boleh dilakukan. Orang tua pelaku harus secara tegas meminta anak untuk meminta maaf dan bertanggung jawab akan perbuatannya pada korban. Cara ini dapat membantu anak belajar untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Orang tua juga harus mengawasi anaknya secara ketat untuk memastikan anaknya tidak melakukan tindakan bullying lagi. Anak yang menjadi pelaku bullying disarankan untuk mendapatkan konseling, karena seringkali anak melakukan bullying untuk mengekspresikan keinginannya yang tidak terpenuhi atau meniru perilaku agresif orang tua atau kakaknya.

- Centers for Disease Control and Prevention. Bullying. Medline Plus.

- L. D'Arcy. Helping Kids Deal with Bullies. Kids Health. 2013.

- Mayo Clinic. Bullying : Help Your Child Handle a Bully. 2013.

- S, Moira. Overview of Social Issues Affecting Children. Merck Manual Handbook. 2007.