Penyakit
23-02-2018

Hipertensi pada orangtua

Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten atau menetap. Pengukuran tekanan darah serial 150/95 mmHg atau lebih tinggi pada orang yang berusia diatas 50 tahun memastikan hipertensi. Insiden hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia

Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol, antara lain:

1. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:

a. Jenis kelamin:

Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause.

b. Umur :

Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda.

c. Keturunan (Genetik) :

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi.

2. Faktor resiko yang dapat dikontrol:

a. Obesitas :

Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.

c. Kurang olahraga :

Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuatan yang mendesak arteri.

d. Kebiasaan Merokok :

Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.

c. Mengkonsumsi garam berlebih :

Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.

d.Minum alkohol :

Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.

e. Minum kopi :

Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.

f. Stress :

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu).

Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun

Komplikasi hipertensi (darah tinggi)

Gambar komplikasi hipertensi

Sumber : http://gejalahipertensi.com

Komplikasi Hipertensi Pada Lansia

    Pasien dengan hipertensi dapat meninggal dengan cepat; penyebab tersering kematian adalah penyakit jantung, kemudian stroke dan gagal ginjal juga sering ditemukan, dan sebagian kecil pada pasien dengan retinopati.

  • Efek Sistem Kardiovaskuler (penyakit jantung)
  • Efek neurologik (retina mata dan sistem saraf pusat )
  • Efek pada Ginjal (gagal ginjal)

 

Cara terbaik memastikan gejala penyakit hipertensi adalah dengan melakukan pengukuran tekanan darah dengan Tensimeter.

Pemeriksaan tensi darah

Gambar Tensimeter

Sumbaer : http://k-daeng.blogspot.com

Tekanan darah adalah kekuatan darah mengalir di dinding pembuluh darah yang keluar dari jantung (pembuluh arteri) dan yang akan kembali ke jantung (pembuluh balik). Karena itu, dokter akan memeriksa tekanan darah dari dua bacaan:

  • Bacaan yang pertama, berupa angka yang lebih tinggi, adalah tekanan sistolik, tekanan yang terjadi bila otot jantung berdenyut memompa untuk mendorong darah keluar melalui arteri. Angka itu menunjukkan seberapa kuat jantung memompa untuk mendorong darah melalui pembuluh darah.
  • Sedangkan bacaan yang kedua, berupa angka yang lebih rendah atau tekanan diastolik, saat otot jantung berisitirahat membiarkan darah kembali masuk ke jantung. Angka itu menunjukkan berapa besar hambatan dari pembuluh darah terhadap aliran darah balik ke jantung.

 Diagnosa hipertensi dengan tensimeter

Gambar ilustrasi bacaan tekanan sistolik dan diastolik

Sumber : http://penyakithipertensi.org

Prinsip pemberian obat anti hipertensi pada lansia :

- Dimulai dengan 1 macam obat dengan dosis kecil (START LOW GO SLOW)

- Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan,

  untuk penyesuaian autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.

- Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari

- Antisipasi efek samping obat-obat antihipertensi

- Pemantauan tekanan darah untuk evaluasi efektivitas pengobatan

 

Pemakaian obat pada  lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya :

1) Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan

2) Interaksi obat

3) Efek samping obat

4) Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui 

ginjal.

 

Penatalaksanaan untuk hipertensi dibagi menjadi :

A. Non farmakologis atau modifikasi gaya hidup meliputi :                       

  • Jaga berat badan ideal
  • Membatasi alkohol
  • Olahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuh
  • Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na, atau 2.4 g Na , atau 6 g NaCl/hari)

Penanganan hipertensi dengan menghindari garam

Gambar menjaga konsumsi garam

Sumber : www.blogdokter.net

  • Mempertahankan asupan kalium (90mmol/hari),kalsium dan magnesium yang adekuat
  • Berhenti merokok
  • Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan

B. Farmakologis :

Obat-obat Antihipertensi :

1.      Diuretik

  Terdapat beberapa golongan, yaitu :

a. Diuretik Tiazid dan sejenisnya (paling luas digunakan) , contoh :

-            Hidroklorotiazid (HCT) – tab 25 dan 50 mg

-            Klortalidonn – tab 50 mg

-            Bendroflumentiazid – tab 5 mg

-            Indapamid – tab 2,5 mg

-            Xipamid – tab 20 mg

b.      Diuretik kuat :

-         Furosemid – tab 40 mg

c.       Diuretik hemat kalium :

-        Amilorid – tab 5 mg

-        Spironolakton – tab 25 dan 100 mg

  Efek samping : hipotensi dan hipokalemia.

2.      Penghambat Adrenergik

   Kontraindikasi bagi pasien gagal jantung kongestif

   Terdiri dari golongan :

-    penghambat adrenoreseptor α / α –bloker :

     terazosin, doxazosin, prazosin

-    penghambat adrenoreseptor β / β-bloker :

     propanolol, asebutolol, atenolol, bisoprolol

-    penghambat adrenoreseptor α dan β  :

     labetalol

-    adrenolitik sentral :

     klonidin, metildopa, reserpin, guanfasin

3.      Vasodilator

Yang termasuk golongan ini adalah natrium nitroprusid,     hidralazin, doksazosin, prazosin, minoksidil, diaksozid.

4.      Penghambat Enzim Konversi Angiotensin (ACE inhibitor)

 Preparat yang paling banyak digunakan adalah Kaptopril,    diberikan 1 jam sebelum makan.  Pada gagal ginjal dosis dikurangi (bila CCT > 1.5 mg%).

Efek samping : batuk kering , eritema, gangguan pengecap, proteinuria, gagal ginjal dan agranulositosis.

Gambar obat anti hipertensi gol. ACE inhibitor
Sumber : http://medicastore.com

5.       Antagonis Kalsium

Preparat yang biasa digunakan seperti nifedipin, nikardipin,  felodipin, amilodipin, verapamil dan diltiazem.


6.       Antagonis Reseptor Angiotensin II (AIIRA / ARB)

          Kelebihanya adalah tidak menimbulkan batuk