Penyakit
23-02-2018

Hifema

Hifema adalah suatu keadaan dimana adanya darah dalam bilik mata depan, (daerah di antara kornea dan iris) yang bersal dari pembuluh darah iris dan badan siliar yang pecah yang dapat terjadi akibat trauma  ataupun secara spontan, sehinnga darah terkumpul di dalam bilik mata, yang hanya  mengisi sebagian ataupun seluruh isi bilik mata depan.

Gambar Anatomi Mata

Sumber : http://sweetspearls.com

Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.

Gambar Bilik Mata Depan, Yaitu Ruang Antara Korne Dan Iris

Sumber : www.summitmedicalgroup.com

 

Hifema dibagi menjadi beberapa grade menurut Sheppard berdasarkan tampilan klinisnya:

Grade I   :    darah mengisi kurang dari sepertiga bilik mata depan (58%)

Grade II  :    darah mengisi sepertiga hingga setengah bilik mata depan(20%)

Grade III :    darah mengisi hampir total bilik mata depan (14%)

Grade IV  :    darah memenuhi seluruh bilik mata depan (8%

Gambar Hifema grade I Dan II

Sumber : wwww.google.com

 

Penyebab tersering dari hifema adalah trauma, baik trauma tumpul maupun trauma tembus. Hifema juga dapat disebabkan oleh perdarahan spontan.

Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:

  • Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang  disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.
  • Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata).
  • Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah pecah.
  • Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).
  • Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).

Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas 2 yaitu:

  • Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2.
  • Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma. biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pembekuan atau penyembuhan luka sehingga mempunyai prognosis yang lebih buruk

 

  • Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair.
  • Penglihatan pasien akan sangat menurun.
  • Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan.
  • Akibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan visus/penglihatan karena darah mengganggu media refraksi.
  • Darah  yang mengisi kamera okuli  ini secara  langsung dapat  mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat akibat bertambahnya isi kamera anterior oleh darah. Kenaikan tekanan intraokuler ini disebut glaukoma sekunder. 
  • Selain itu akibat darah yang lama berada di kamera anterior akan mengakibatkan pewarnaan darah pada dinding kornea dan kerusakan jaringan kornea.

Terdapat pula tanda dan gejala yang relative jarang:

  1. Penglihatan ganda
  2. Blefarospasme (kelopak mata berkedip tidak terkendali),
  3. Edema palpebra (Kelopak mata bengkak),
  4. Iridoplegia, Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul pada uvea sehingga menyebabkan pupil menjadi lebar atau midriasis yang berakibat sukar melihat dekat
    karena gangguan akomodasi dan merasakan silau karena gangguan pengaturan masuknya cahaya ke pupil.

 

Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang, Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibawah bilik mata depan.

Pemeriksaan Penunjang

1. Kartu mata snellen (tes ketajaman pengelihatan) :

Mungkin terganggu akibat kerusakan kornea, aqueus humor, iris dan retina.

2. Lapang pengelihatan :

Penurunan mungkin disebabkan oleh patologi vaskuler okuler,glukoma.

3. Pengukuran tonografi :

Mengkaji tekanan intra okuler ( TIO ) normal 12-25mmHg.

4. Tes provokatif :

Digunakan untuk menentukan adanya glukoma bila TIO normal atau meningkat ringan.

5. Pemerikasaan oftalmoskopi :

Mengkaji struktur internal okuler, edema retina, bentuk pupil dan kornea.

6. Darah lengkap, laju sedimentasi LED :

Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.

7. Tes toleransi glokosa :

Menentukan adanya /kontrol diabetes.

 

Pada dasarnya penatalaksanaan hifema ditujukan untuk :

  • Menghentikan perdarahan atau mencegah perdarahan ulang
  • Mengeluarkan darah dari bilik mata depan
  • Mengendalikan tekanan bola mata
  • Mencegah terjadinya imbibisi kornea
  • Mengobati uveitis bila terjadi akibat hifema ini
  • Menemukan sedini mungkin penyulit yang mungkin terjadi

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan traumatic hyphaema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu :

Perawatan dengan cara konservatif / tanpa operasi,

1. Tirah baring sempurna (bed rest total)

Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala di angkat (diberi alas bantal) kurang dari 60°, hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya

2. Bebat mata

Bebat mata pada mata yang terkena trauma saja, untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit, hati-hati bebat jangan terlalu menekan bola mata.

3. Pemakaian obat-obatan

Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatic hyphaema tidaklah mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Untuk maksud di atas digunakan obat-obatan seperti:

  • Koagulansia

Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun parenteraI, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan, Misalnya : Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin, vit K, dan vit C

  • Midriatika Miotika

Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan midriatika atau miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri. Miotika memang akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan mengistirahatkan perdarahan.

  • Ocular Hypotensive Drug

Pemberian acetazolamide (Diamox) secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler.

  • Kortikosteroid dan Antibiotika

Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotik.

  • Obat-obat lain

Sedatif diberikan bilamana penderita gelisah. Bila ditemukan rasa sakit diberikan analgetik aau asetozalamid bila sakit pada kepala akibat tekanan bola mata naik. Analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri seperti asetaminofen dengan atau tanpa kodein.

Perawatan yang disertai tindakan operasi,

  • Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan serta irigasi dengan larutan fisiologik, Tindakan pembedahan parasentese dilakukan bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila darah setelah 5 hari  tidak memperlihatkan tanda-tanda berkurang.

 

 

Hifema dapat terjadi bila terdapat trauma pada mata. Gunakan kacamata pelindung saat bekerja di tempat terbuka atau saat berolahraga.

  • Ilyas,Sidarta. 1998.Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Cet. 5. Balai Penerbit FKUI; Jakarta :
  • Ilyas, Sidarta. 2003. Ilmu Penyakit Mata, edisi 2. Balai penerbit FK UI; Jakarta
  • Ilyas, Sidarta. 2001. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, edisi 2. Balai PenerbitFK UI ; Jakarta
  • Douglas, Raymond S. Hifema. Departement of Ophthalmology, UCLA Menical Center, Los Angeles, CA. 2002.
  • Darling, Vera H & Thorpe Margaret R. Perawatan Mata. Yogyakarta : Penerbit Andi; 1995.
  • Mansyur, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. MediaAesculapius ;Jakarta
  • Jack, J. Clinical Oftalmlogi.third edition. CJW. Teks Book
  • http.//www. NCBI, nlm. Nih. Gov/enter