Penyakit
23-02-2018

Keratoconus

Keratoconus adalah gangguan degeneratif non-peradangan mata di mana perubahan-perubahan struktural dalam kornea menyebabkannya tipis dan mengubah ke bentuk lebih kerucut daripada normal, bahkan kurva, sehingga menyebabkan distorsi <kabur/buram> dan mengurangi penglihatan.

Gambar Mata Dengan Kornea Normal Dan Keratoconus

Sumber : http://medicastore.com

Kita melihat melalui kornea, yaitu bagian mata yang  jernih dan terletak di tengah permukaan depan mata. Kornea normal berbentuk kubah. Namun kadang-kadang, struktur kornea tidak cukup kuat untuk menahan bentuk kubah tersebut sehingga kornea menonjol keluar seperti kerucut. Kondisi inilah yang disebut sebagai keratoconus.

 

Penyebabnya tidak diketahui. Keratokonus lebih sering ditemukan pada pemakai lensa kontak dan penderita rabun dekat. Beberapa faktro risiko terbentuknya keratokonus :

  • Riwayat keluarga dengan keratokonus, Keratoconus tampaknya diturunkan dalam keluarga.
  • Kelainan atopi, Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dengan masalah medis tertentu, termasuk kondisi alergi.
  • Cedera mata (misalnya menggisik-gisik mata atau memakai lensa kontak yang keras selama bertahun-tahun), Namun seringkali, tidak ada riwayat cedera mata atau penyakit yang dapat menjelaskan mengapa bentuk mata mulai berubah.

Gambar Pemakaian Kontak Lensa Yang Keras dapat Mengakibatkan Keratoconus

Sumber : http://medicastore.com

  • Penyakit mata tertentu (misalnya retinitis pigmentosa, retinopati, konjungtivitis vernal).
  • Beberapa kelainan jaringan ikat, seperti sindroma Ehlers-Danlos, sindroma Marfan, dan osteogenesis imperfecta
  • Penyakit sistemik (misalnya amorosis kongenitalis Leber, sindroma Ehlers-Danlos, sindroma Down dan osteogenesis imperfekta).
  • Kelainan bawaan (kongenital) dengan gangguan penglihatan, misalnya neuropati optik kongenital, ROP-Retinopathy of Prematurity, dan aniridia

Serat protein di dalam mata, yang disebut kolagen, berperan menjaga kornea pada tempatnya dan agar kornea tidak menonjol. Ketika serat ini melemah, maka serat tidak dapat menjaga bentuk kubah kornea dan menyebabkan kornea menjadi semakin mengerucut.

 

Keratoconus berpengaruh pada penglihatan dalam dua cara:

  • Perubahan kornea dari bentuk kubah ke bentuk kerucut, disertai permukaan yang sedikit bergelombang sehingga terjadi silindris (astigmatism) tidak teratur.
  • Bagian depan kornea mengembang sehingga penglihatan menjadi lebih rabun. Hal ini berarti, hanya benda-benda dekat yang dapat terlihat dengan jelas. Benda atau sesuatu yang terlalu jauh akan terlihat buram.

Gejala-gejala yang bisa disebabkan oleh keratoconus, antara lain:

  • Perubahan penglihatan yang tiba-tiba pada satu mata.
  • Penglihatan ganda ketika melihat dengan satu mata saja.
  • Benda yang dekat dan jauh terlihat seperti terdistorsi <buram/kabur>.

Pantulan Gambar Yang Diterima Terdistorsi/Buram/Kabur Pada Keratokonus

Sumber : http://medicastore.com

 

  • Cahaya yang terang tampak seperti memiliki lingkaran di sekitarnya.
  • Sinar/cahaya tampak bergaris-garis.
  • Penglihatan berbayang (1 benda terlihat menjadi banyak / triple ghost image).

Gambaran Penglihatan Pada Mata Yang Mengalami Keratoconus

Sumber : http://medicastore.com

Kebanyakan penderita keratoconus mengalami kondisi ini pada kedua matanya dan dapat dengan tingkat yang berbeda. Biasanya terjadi pada satu mata dan kemudian ke mata lainnya.

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kornea dengan

  • Slit lamp  
  • Pengukur kelengkungan kornea. Ada beberapa cara pengukuran yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Instrumen keratometer, yaitu kornea disinari cahaya dan pantulan sinar memberitahu dokter bagaimana kelengkungan kornea mata.
  2. Instrumen komputerisasi yang membuat peta tiga-dimensi dari kornea.
  • Pakimetri, Dengan pakimetri pada keratokonus stadium lanjut, penipisan kornea bisa diukur.

 

Perubahan pada kornea menyebabkan mata tidak bisa fokus sehingga perlu menggunakan kacamata atau lensa kontak lunak. Kacamata atau lensa kontak lunak dapat digunakan pada tahap awal untuk mengoreksi astigmatisme ringan dan rabun dekat yang disebabkan oleh keratoconus.

Sebuah transplantasi kornea mungkin diperlukan dalam kasus di mana keratoconus telah membuat kornea menjadi sangat tipis dan tampak nyaris meledak. Dalam operasi, bagian tengah kornea diangkat dan diganti dengan kornea donor yang dijahit pada tempatnya. Pemulihan dari transplantasi kornea biasanya sangat lama, diukur dalam bulan dan tahun. Dalam beberapa kasus terjadi penolakan jaringan sehingga operasi mungkin perlu diulang.

Gambar Transplantasi/Pencangkokan Kornea

Sumber : http://medicastore.com

  • Davies PD, Lobascher D, Menon JA, Rahi AHS, Ruben M. Immunological studies in keratoconus. Trans Ophthalmol Soc UK 1976;9:173-8.
  • Marechal-Courtois C. Topographic study of the cornea at different stages of  the development of keratoconus. Bull Soc Belge Ophtalmol 1967;147: 495-505.
  • Galin MA, Berger R(1958) Atopy and keratoconus. Am J Ophthalmol 45:904–906.[Medline]
  • Spencer WH, Fisher JJ. (1959) The association of keratoconus with atopic dermatitis. Am J Ophthalmol 47:332–334.[Medline]
  • R, Melvin. Keratoconus. The Merck Manual. 2012.
  • Mayo Foundation for Medical Education and Research. Keratoconus. 2013.