Penyakit
23-02-2018

Rinitis Alergika

Penyebab terjadinya rhinitis alergi adalah alergen, bisa berupa makanan seperti kacang - kacangan, protein seperti telur, udang, ikan, bulu - bulu hewan seperti kucing, debu, suhu cuaca dingin atau panas, dll. Alergi biasanya bersifat genetik yang di turunkan dari riwayat kekeluargaannya.

Berdasarkan cara masuknya alergen kedalam tubuh dibedakan dalam beberapa cara yaitu :

  1. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.

  2. Alergen Ingestan,  yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.

  3. Alergen Injektan,  yang masuk melalui suntikan atau tusukan,  misalnya penisilin atau sengatan lebah.

  4. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

  • Bersin-bersin berulang, namun hal ini bisa merupakan mekanisme fisiologik / normal, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process) dari kotorang atau juga bisa bersifat bersin patologik / penyakit, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis.
  • Keluar ingus (rinore) yang encer  dan banyak, hidung tersumbat, hidung gatal, lubang hidung bengkak.
  • Tanda gejala di mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi), edema/bengkak kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner)
  • Mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan.
  • Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii.
  • Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara. 
  • Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala, gangguan dalam penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit tidur.

Gejala rinitis alergika

Sumber : https://nonaalkana.files.wordpress.com

Untuk menegakkan diagnosa rinitis alergika diperlukan anamnesa serta pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan lain diantaranya :
  • Tes alergi : tes tususk, dll
  • Naso endoskopi
  • Pemeriksaan  IgE spesifik

Tes alergi dengan tes tusuk dan hasilnya

Sumber : http://www.medicinesia.com

  1. Obat Antihistamin H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, obat ini merupakan obat yang di pakai dalam lini pertama pengobatan rhinitis alergik,  seperti : Hydroxyzine, Diphenhydramine , Chlorphenarimine <CTM>

  2. Obat Antihistamin H-2,  seperti : Cetirizine, Loratadine, Fexofenadine, Desloratadine.

  3. Dekongestan.

  4. Kortikostiroid, diberikan bila sumbatan hidung tidak bisa di atasi dengan obat lain.

  5. Operatif, jika terjadi hipertropi berat pada concha inferior.

  6. Imunoterapi, jika gejala rhinitis alergi sudah sangat memberat dan berlangsung lamadan cara lain tidak menunjukkan perbaikan.

Menghindari kontak langsung dengan alergen penyebabnya.

  1. prof. Dr. Eflaty Arsyad soepardy, Sp.THT ( KL ).dkk. 2012.buku ajar ilmu kesehatan telinga,hidung,tenggorokan kepala dan leher ed. VII .jakarta. penerbit : Badan Penerbit FKUI.  

  2. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21493/4/Chapter%20II.pdf

  3. Bahan Ajar Rhinitis Alergi Universitas Malahayati Bandar lampung. ( oleh : dr. Lukman Rivai Sp.THT-KL )