Penyakit
23-02-2018

Leptospirosis

Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang berpotensi menjadi parah yang disebabkan oleh Leptospira interrogans, bakteri berbentuk skrup (spirochete). Bakteri Leptospirosis biasanya terdapat di negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, terutama menyerang orang-orang yang bekerja di daerah yang terkontaminasi banjir atau lahan pertanian.

Penyebab leptospirosis adalah bakteri Leptospira.

Siklus penyakit leptospirosis

Penularan Leptospirosis

Sumber: www.Farmamedia.com

  • Leptospirosis ditularkan terutama melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi dengan urin dari binatang yang terinfeksi dan biasanya tidak ditularkan dari manusia ke manusia.

    Manusia mendapatkan infeksi ini melalui kontak langsung dengan binatang yang terinfeksi atau secara tidak langsung melalui tanah atau air yang terkontaminasi air kencing binatang yang terinfeksi. 

    Leptospirosis merupakan suatu penyakit akibat pekerjaan pada petani, pekerja di tempat pemotongan hewan, dan pembersih selokan. Namun, kebanyakan orang terkena infeksi ini akibat kegiatan di luar ruangan yang menyebabkan adanya kontak dengan tanah atau air yang terkontaminasi, misalnya saat berenang atau menyeberangi daerah banjir.

Petani rentan terkena penyakit leptospirosis

Petani mudah terjangkit leptospirosis

Sumber: www.info-kes.com

  • Leptospirosis terdapat pada banyak binatang liar maupun binatang peliharaan. Beberapa binatang berperan sebagai pembawa bakteri (karier) dan mengeluarkan bakteri di dalam air kencingnya. Binatang lainnya bisa menjadi sakit dan mati. Kuman Leptospira ditemukan pada anjing, tikus, hewan ternak, tikus, kelinci, landak, katak, ikan, ular, burung dan serangga tertentu.

Pada sekitar 90% orang yang terinfeksi, gejala-gejala yang muncul bersifat ringan. Tetapi penderita lainnya dapat mengalami penyakit yang berat hingga mengenai banyak organ dan berisiko untuk terjadinya kematian, yang disebut sindroma Weil.

Leptospirosis biasanya terjadi dalam dua fase:

  • Fase pertama: Sekitar 2-20 hari setelah terjadi infeksi, tiba-tiba muncul gejala-gejala berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot yang hebat pada betis dan punggung, serta menggigil. Mata biasanya menjadi sangat merah pada hari ketiga atau keempat. Beberapa penderita mengalami batuk, adakalanya sampai terjadi batuk darah, dan nyeri dada. Kebanyakan penderita pulih dalam waktu 1 minggu.
Gejala leptospirosis
Sumber: www.punjabkesari.com
  • Fase kedua: Pada beberapa orang, gejala-gejala dapat muncul kembali setelah beberapa hari kemudian. Hal ini disebabkan oleh peradangan yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang mengeliminasi bakteri dari dalam tubuh. Demam muncul kembali, dan seringkali terjadi peradangan pada ruang di antara jaringan yang melapisi otak dan medula spinalis (meninges) yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan sakit kepala.

Sindroma Weil

Sindroma Weil ini dapat terjadi pada fase kedua. Pada sindroma Weil terjadi jaundice (kuning pada kulit dan dan bagian putih mata), gagal ginjal, dan kecenderungan untuk terjadi perdarahan. Penderita bisa mengalami perdarahan pada hidung, batuk darah, atau bisa juga terjadi perdarahan pada jaringan-jaringan di kulit, paru-paru, dan lebih jarang di saluran pencernaan. Dapat terjadi anemia. Beberapa organ, seperti jantung, paru-paru, dan ginjal dapat berhenti berfungsi.

Kebanyakan orang yang tidak mengalami jaundice dapat pulih. Sekitar 5-10% penderita dengan jaundice (yang menandakan adanya kerusakan pada hati) meninggal. Angka kematian tampaknya lebih tinggi pada penderita dengan sindroma Weil dan penderita yang berusia di atas 60 tahun. Jika leptospirosis terjadi saat awal masa kehamilan, maka risiko terjadinya keguguran meningkat.

Diagnosis dipastikan dengan ditemukannya bakteri pada biakan darah, air kemih atau cairan serebrospinal; atau dengan ditemukannya antibodi terhadap bakteri di dalam darah.

Bila terjadi wabah, bisa diberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi atau sebagai pencegahan pada orang-orang yang juga mengalami paparan bakteri, Obat-obatan antibiotik: Penicillin, tetracyline, streptomycin, erythromycin.

Penderita dengan sindroma Weil bisa membutuhkan transfusi darah dan hemodialisa.

Banjir waspada leptospirosis

 

Sumber: www.who.int

  • Sanitasi yang baik
  • Jangan minum air sungai, kolam atau danau tanpa direbus terlebih dahulu, atau disaring dengan penyaring kimia tertentu
  • Mengeringkan area yang tergenang air
  • Jangan berenang atau menyeberangi air banjir atau lumpur
  • Gunakan sepatu boot dan sarung tangan jika harus melalui area banjir
  • Kontrol terhadap populasi binatang pengerat (tikus) pada lingkungan rumah dan tempat kerja

Pencegahan leptospirosis menggunakan sepatu boot waktu melintasi air

Gunakan sepatu boot saat melintasi banjir atau sungai

Sumber: http://shaffik.com

- L, Matthew E. Leptospirosis. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

- World Health Organization. Leptospirosis. 2009.

- http://www.farmamedia.net/2012/01/leptospirosis.html