Penyakit
23-02-2018

Mononukleosis Infeksiosa

Mononukleosis Infeksiosa adalah penyakit infeksi akibat virus Epstein-Barr, yang ditandai dengan adanya demam, nyeri tenggorokan dan pembesaran kelenjar getah bening.

Penyebabnya adalah virus Epstein Barr. Virus ini juga berhubungan dengan terjadinya limfoma Burkitt, sejenis kanker yang terjadi terutama di Afrika. Selain itu, virus Epstein Barr juga berperan dalam terjadinya tumor limfosit B tertentu pada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penerima organ cangkokan atau penderita AIDS) dan pada beberapa kanker hidung dan tenggorokan.

Infeksi virus Epstein-Barr sering terjadi dan bisa menyerang anak-anak, remaja dan dewasa. Sekitar 50% anak-anak di Amerika mengalami infeksi ini sebelum usia 5 tahun. Tetapi virus ini tidak terlalu menular. Remaja atau dewasa muda biasanya mendapatkan infeksi ini melalui ciuman atau hubungan intim lain dengan orang yang terinfeksi.

Tidak semua penderita mengalami gejala. Biasanya infeksi dimulai dengan rasa tidak enak badan selama beberapa hari sampai 1 minggu. Kemudian timbul demam, nyeri tenggorokan dan pembesaran kelenjar getah bening. Kelemahan biasanya timbul pada minggu ke 2-3.

gejala Mononukleosis Infeksiosa

Sumber : www.emedicinehealth.com

KOMPLIKASI

Pada lebih dari 50% penderita, terjadi pembesaran limpa. Tetapi biasanya hanya menimbulkan sedikit gejala, tetapi jika terjadi trauma, dapat terjadi ruptur limpa. Jika hal ini terjadi, maka perlu dilakukan pembedahan darurat untuk mengangkat limpa.

Komplikasi lain yang bisa terjadi adalah pembesaran hati, jandice (kuning), ruam kulit, peradangan otak, kejang, kelainan saraf, peradangan selaput otak, kelainan tingkah laku, dan sumbatan jalan nafas akibat pembesaran kelenjar getah bening.

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan. Tetapi gejala mononukleosis infeksiosa tidak khas, dan bisa menyerupai penyakit infeksi lainnya. Pemeriksaan darah bisa memperkuat diagnosis, yaitu dengan ditemukannya antibodi terhadap virus Epstein-Barr. Tubuh juga biasanya menghasilkan limfosit B baru untuk menggantikan limfosit yang terinfeksi.

Disarankan untuk beristirahat sampai demam, nyeri tenggorokan dan rasa sakit hilang. Karena ada resiko ruptur limpa, maka penderita tidak boleh mengangkat beban berat dan berolah raga selama 6-8 minggu, meskipun jika tidak ditemukan adanya pembesaran limpa.

Obat-obat seperti acetaminophen, aspirin, atau ibuprofen bisa diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri yang ada. Namun, aspirin tidak boleh diberikan untuk anak-anak, karena berisiko terjadi sindroma Reye, yang dapat berakibat fatal. Obat-obat anti-virus yang tersedia saat ini hanya memiliki sedikit efek pada gejala-gejala infeksi mononukleosis dan sebaiknya tidak diberikan.

Seseorang yang terinfeksi mononukleosis dapat menular jika telah timbul gejala sampai beberapa bulan setelahnya. Lama seseorang dapat menularkan penyakit berbeda-beda. Virus penyebab mononukleosis tetap ada seumur hidup di tubuh penderitanya. Virus ini bisa terdapat di air liur, meskipun penderita telah merasa sehat. Untuk itu hindari mencium atau menggunakan alat-alat bersama orang yang terkena mononukleosis, misalnya minuman yang telah terpapar air liur penderita, sikat gigi, alat makan, atau lipstick.

- U, Marguerite A. Epstein-Barr Virus (EBV) Infection. Merck Manual Handbook. 2009.

- J, Elana PB. Mononucleosis. Kids Health. 2013.

- V, Linda J. Mononucleosis. Medline Plus. 2012.