Penyakit
23-02-2018

Ejakulasi Dini (Sebelum Waktunya)

Ejakulasi Sebelum Waktunya (ejakulasi dini) adalah ejakulasi yang terjadi terlalu dini, yaitu biasanya sebelum, pada saat atau segera setelah penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina).

Ejakulasi dini bisa menimbulkan masalah pada pasangan suami-istri. Jika sang suami telah mengalami ejakulasi sebelum istrinya mencapai orgasme, maka sang istri akan merasakan ketidakpuasan dan menjadi kesal.

Ejakulasi dini tidak datang dengan sendirinya pada pria, melainkan ada penyebabnya. Ada penyebab psikis seperti stress berkepanjangan atau kebiasaan ingin cepat selesai ketika melakukan hubungan seksual.

Ada juga penyebab fisik yang mungkin terjadi, terutama kurang berfungsinya serotonin. Gangguan kontrol saraf yang mengatur peristiwa ejakulasi juga diduga menjadi penyebab terjadinya ejakulasi dini. Sayangnya, pria dengan disfungsi ereksi pada umumnya mengalami ejakulasi dini. Sebaliknya, pria dengan ejakulasi dini pada akhirnya dapat mengalami disfungsi ereksi.

Berat Ringannya Ejakulasi Dini

Ternyata ejakulasi dini berbeda-beda. Ejakulasi dini dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu: Ejakulasi dini ringan, Ejakulasi dini sedang, dan Ejakulasi dini berat.

Jenis Ejakulasi Dini
Pengertian
Ringan
Ejakulasi terjadi setelah beberapa kali gesekan singkat.
Sedang
Ejakulasi terjadi setelah penis masuk ke vagina.
Berat
Ejakulasi terjadi begitu penis menyentuh kelamin wanita bagian luar.
Ejakulasi terjadi sebelum penisnya menyentuh kelamin wanita bagian luar.

Apapun jenis ejakulasi dini yang dialami, baik pria maupun wanita akan merasa tidak puas karena ejakulasi terjadi dalam waktu sangat singkat di luar kehendak sehingga hubungan seksual harus berakhir.

Dampak Ejakulasi Dini

Ejakulasi dini, baik yang ringan maupun yang berat, mengakibatkan hubungan seksual berlangsung tidak harmonis. Pada ejakulasi dini, ketidakharmonisan disebabkan karena ketidakpuasan kedua belah pihak. Pria yang mengalami ejakulasi dini merasa tidak puas karena hubungan seksual berlangsung sangat singkat di luar kehendaknya.

Walaupun bisa mencapai orgasme, pria yang mengalami ejakulasi dini juga merasa sangat kecewa karena tidak mampu memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya. Apalagi kalau pasangannya mengungkapkan kekecewaan dalam bentuk reaksi yang menyalahkan penderita.

"Pria yang mengalami ejakulasi dini sering mengalami stres, tidak percaya diri, rendah diri, dan malu terhadap pasangannya. Dalam waktu lama dapat terjadi disfungsi ereksi. Pasangannya tentu kecewa, tidak puas, jengkel, marah, dan akhirnya mengalami disfungsi seksual seperti hilangnya gairah seksual," papar Prof. Wimpie Pangkahila.

Lebih jauh lagi, reaksi yang akan muncul adalah perasaan takut atau khawatir setiap akan melakukan hubungan seksual. Perasaan ini justru akan semakin memperburuk keadaan ejakulasi dini. Kalau keadaan ini terus berlangsung, maka pada akhirnya pria itu dapat mengalami disfungsi ereksi.

Wanita yang mempunyai pasangan mengalami ejakulasi dini pada umumnya tidak dapat mencapai orgasme karena hubungan seksual segera berakhir. Kekecewaan yang muncul selanjutnya dapat berubah menjadi kejengkelan disertai perasaan takut setiap akan melakukan hubungan seksual. Akibat lebih jauh dapat berupa hilangnya dorongan seksual dan dispareunia (rasa nyeri yang terjadi saat bersetubuh).

Ejakulasi Dini bikin Tidak Subur?

Di masyarakat telah beredar anggapan yang salah bahwa bila ejakulasi terjadi terlampau cepat, berarti spermanya terganggu sehingga tidak dapat menghamili. Hambatan hamil menjadi masalah baru lagi yang semakin memperburuk masalah yang timbul akibat ejakulasi dini.

Prof Wimpie Pangkahila menyesalkan mitos yang salah mengenai ejakulasi dini, "Ejakulasi dini sering dianggap sebagai gangguan kesuburan, padahal tidak begitu. Ejakulasi dini dianggap sebagai sperma encer, padahal tidak jelas apa maksud istilah "encer". "

"Ejakulasi dini tidak ada hubungan dengan kesuburan. Jadi kehamilan dapat saja terjadi asal sperma masuk ke vagina," papar Prof Wimpie Pangkahila.

"Ejakulasi dini tidak ada hubungan dengan kesuburan. Jadi kehamilan dapat saja terjadi asal sperma masuk ke vagina. Tetapi pada ejakulasi dini yang berat, yaitu ejakulasi terjadi di luar vagina, maka kehamilan tidak terjadi," papar Prof Wimpie Pangkahila.

Kalau ternyata pria yang mengalami ejakulasi dini juga mengalami gangguan sperma, itu berarti ada dua gangguan yang terpisah, bukan merupakan sebab akibat.

Gangguan sperma dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain karena infeksi pada buah pelir atau bagian sistem reproduksi lainnya, kekurangan hormon testosteron, pelebaran dinding pembuluh darah di sekitar buah pelir, dan kekurangan vitamin.

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada.

Secara umum, yang perlu dilakukan untuk mengatasi kelainan ini adalah latihan dan relaksasi. Dengan tehnik berhenti dan mulai, penderita dilatih untuk mentolerir tingkat kepuasan yang tinggi, tanpa mengalami ejakulasi. Penis dirangsang, baik secara manual maupun melalui hubungan badan, sampai penderita merasa bahwa dia akan mengalami ejakulasi. Rangsangan kemudian dihentikan, dan kemudian dimulai lagi 20-30 detik kemudian. Pada awalnya, mitra seksual penderita berlatih tehnik ini dengan perangsangan manual dan kemudian pada saat melakukan hubungan badan. Dengan melakukan latihan ini, lebih dari 95% penderita berhasil menngendalikan ejakulasinya selama 5-10 menit atau bahkan lebih lama. Tehnik tersebut juga membantu mengurangi kecemasan, yang seringkali menjadi penyebab timbulnya ejakulasi dini.

Pemakaian kondom pada beberapa penderita, bisa membantu menunda ejakulasi. Kadang ejakulasi dini disebabkan oleh masalah psikis yang lebih serius, sehingga penderita perlu menjalani psikoterapi.

Jika terapi perilaku (misalnya tehnik berhenti dan mulai) tidak berhasil mengatasi masalah atau penderita enggan melakukannnya, maka dokter mungkin bisa memberikan pengobatan untuk menunda ejakulasi. Beberapa obat yang mungkin digunakan antara lain Fluoxetine, Paroxetine atau Sertraline.

Pada beberapa kasus, ejakulasi dini bisa disebabkan oleh komunikasi yang buruk antara mitra atau kurangnya pemahaman tentang perbedaan fungsi seksual antara laki-laki dan perempuan. Perempuan biasanya memerlukan rangsangan lebih-lama daripada laki-laki untuk mencapai orgasme, dan perbedaan ini dapat menyebabkan kebencian antara mitra seksual dan menambah tekanan untuk hubungan seksual. Bagi banyak pria, merasakan tekanan selama hubungan seksual meningkatkan risiko ejakulasi dini.

Membuka komunikasi antara pasangan seksual, serta kemauan untuk mencoba berbagai pendekatan untuk membantu kedua pasangan mencapai kepuasan, dapat membantu mengurangi konflik dan kecemasan. Jika Anda tidak puas dengan hubungan seksual Anda, berbicara dengan pasangan Anda tentang keprihatinan Anda. Cobalah untuk mendekati topik dengan penuh cinta dan untuk menghindari menyalahkan pasangan Anda untuk ketidakpuasan Anda.

Jika Anda tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah seksual pada Anda sendiri, berbicaralah dengan dokter Anda. Ia mungkin merekomendasikan untuk menemui seorang terapis yang dapat membantu Anda dan pasangan Anda mencapai hubungan seksual yang memuaskan.