Penyakit
23-02-2018

Ketergantungan Penyalahgunaan Kokain

Kokain memiliki efek yang mirip dengan amfetamin. Kokain terdapat dalam bentuk serbuk yang dihirup melalui hidung atau disuntikkan secara langsung ke dalam pembuluh darah vena (mainlining).

Jika direbus dengan zat tertentu, kokain berubah menjadi bentuk bebas yang disebut pecahan kokain (crack cocaine). Akibat pemanasan ini terbentuk uap kokain yang bisa dihirup. Pecahan kokain bekerja secepat kokain yang disuntikkan secara intravena.

Kokain menimbulkan efek kesiagaan yang tinggi, euforia (kegembiraan yang sangat) dan tenaga yang luar biasa jika disuntikkan melalu intravena atau dihirup.

Pemakai kokain berat dan orang-orang yang menyuntikkan kokain melalui pembuluh darah atau menghirup uapnya adalah orang-orang yang paling mungkin mengalami ketergantungan. Orang-orang yang menghisap serbuk kokain dan hanya menggunakannya sesekali memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami ketergantungan.

Adiksi kokain dipercaya terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan juga lingkungan. Orang-orang yang berasal dari lingkungan keluarga berisiko tinggi lebih rentan untuk menjadi seorang pecandu, sehingga mereka perlu lebih mengetahui informasi ini terutama saat memasuki masa remaja. Namun, adanya seorang pecandu di dalam keluarga tidak berarti membuat anggota keluarga yang lain juga pasti akan menjadi seorang pecandu.

Penelitian telah berhasil mengidentifikasi adanya proses di dalam otak yang mungkin bisa membantu menjelaskan bagaimana terjadinya penyalahgunaan kokain dan obat-obat lainnya. Paparan kokain berulang menyebabkan perubahan pada gen yang menyebabkan gangguan pada kadar protein tertentu di otak. Protein ini mengatur kerja zat kimia otak yang berhubungan dengan kenikmatan kokain dan berkaitan dengan terjadinya mekanisme adiksi / ketergantungan.

Kokain meningkatkan tekanan darah dan detak jantung dan dapat menyebabkan serangan jantung yang fatal, bahkan pada atlit muda yang sehat. Efek lain yang bisa terjadi antara lain : sembelit, gangguan pencernaan, kegugupan yang berlebih, kejang, halusinasi, delusi paranoia, perilaku kasar, dan perasaan bahwa ada sesuatu yang bergerak di bawah kulit (cocaine bugs), yang kemungkinan merupakan pertanda adanya kerusakan saraf. Pecandu bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.

Efek kokain hanya berlangsung selama 30 menit. Oleh karena itu, pecandu akan terus mengulang pemakaiannya. Untuk mengurangi kegugupan akibat kokain, banyak pecandu yang juga menggunakan heroin atau zat lain, seperti alkohol.

Penggunaan kokain jangka panjang bisa membuat adanya toleransi, sehingga dibutuhkan obat yang lebih banyak lagi untuk mendapatkan efek yang sama. Penggunaan kokain jangka panjang juga bisa merusak jaringan yang memisahkan rongga hidung (septum), sehingga terbentuk luka (ulserasi). Penggunaan kokain yang berat juga bisa mengganggu fungsi mental, antara lain berupa gangguan atensi dan ingatan.

Wanita yang hamil selama kecanduan kokain lebih mudah mengalami keguguran. Jika tidak terjadi keguguran, maka janin yang dikandungnya bisa mengalami kecacatan akibat kokain, yang dengan mudah dapat pindah dari darah ibu ke darah janin.

Bayi yang lahir dari seorang pecandu kokain bisa memiliki gangguan pola tidur dan memiliki koordinasi yang buruk. Perkembangan kemampuan merangkak, berjalan dan berbicara bisa terhambat; tetapi hal tersebut juga bisa disebabkan karena kekurangan gizi, perawatan kehamilan yang buruk dan penggunaan obat-obat lain selama kehamilan.

Toleransi terhadap kokain bisa segera terjadi jika kokain digunakan setiap hari. Reaksi putus obat (kelelahan dan depresi yang berlebihan), merupakan kebalikan dari efek obat. Keinginan untuk bunuh diri bisa segera muncul jika pecandu berhenti menggunakan obat. Setelah beberapa hari, ketika kekuatan jiwa dan fisiknya telah kembali, pecandu bisa mencoba melakukan usaha bunuh diri.

Pada pemakaian kokain dengan suntikan, ada berbagai penyakit infeksi (misalnya hepatitis dan AIDS) yang bisa ditularkan, yaitu jika para pecandu menggunakan jarum yang tidak steril secara bergantian.

Pengguna kokain bisa terlihat dari tanda dan gejala yang ada, yaitu pengguna menjadi hiperaktif, dengan pupil mata yang melebar dan denyut jantung yang meningkat. Pada pengguna kelas berat, timbul kecemasan dan rasa tidak menentu, merasa sangat berkuasa dan perilaku hiperseksual. Para pecandu seringkali juga tampak paranoia.

Penggunaan kokain bisa dideteksi pada pemeriksaan air kemih dan darah.

Kokain adalah obat yang memiliki efek sangat singkat, sehingga mungkin tidak diperlukan penanganan untuk mengatasi reaksi yang tidak nyaman akibat keracunan kokain. Orang-orang yang mengalami gejala berat, seperti perubahan kesadaran, kejang, atau peningkatan tekanan darah, perlu mendapat perawatan untuk mengatasinya.

Gejala putus obat karena pemakaian kokain jangka panjang memerlukan pengawasan yang ketat, karena pecandu bisa mengalami depresi dan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pecandu mungkin perlu dirawat di rumah sakit atau pusat rehabilitasi. Metode yang paling efektif untuk mengatasi ketergantungan kokain adalah psikoterapi.

Terkadang para pecandu kokain sering mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, dan perlu diobati sesuai dengan gangguan yang ada.

Pencegahan harus dimulai sejak dini, yaitu sebelum memasuki masa remaja. Semua anak, terutama mereka yang berisiko, perlu mendapatkan pengajaran untuk bisa mengatakan tidak pada rokok, alkohol, dan obat-obat terlarang. Jika kita bisa mencegah anak-anak dari alkohol, rokok, dan marijuana, maka kita mungkin bisa mencegah mereka untuk tidak memakai obat-obat lainnya, seperti kokain.

- E, Roxanne D. Cocaine Abuse. eMedicine Health. 2012.

- O, Patrick G. Cocaine. Merck Manual Home Health Handbook. 2009.