Penyakit
23-02-2018

Dispareunia

Dispareunia adalah rasa nyeri yang timbul saat mencoba untuk melakukan hubungan seksual (sanggama) atau saat melakukan sanggama.

Penyebabnya tergantung dari apakah nyeri yang timbul dangkal atau dalam.

- Nyeri yang dangkal, bisa terjadi akibat :

  • Vagina tidak menghasilkan cairan pelumas yang cukup sehingga terasa nyeri saat berhubungan seksual. Kondisi ini bisa terjadi karena tidak cukupnya pemanasan (foreplay), proses penuaan, masa menyusui, atau pemakaian antihistamin.
  • Cedera, peradangan atau infeksi pada genitalia 
  • Peradangan atau infeksi pada saluran kencing
  • Meningkatnya sensitivitas daerah genitalia akan rasa nyeri
  • Reaksi alergi terhadap kondom atau jel kontrasepsi
  • Kelainan bawaan, misalnya sekat abnormal di dalam vagina
  • Pembedahan yang mempersempit vagina, misalnya pembedahan untuk memperbaiki jaringan yang robek saat melahirkan
  • Robeknya selaput dara pada seorang wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual.

- Nyeri yang dalam, bisa terjadi saat atau setelah melakukan hubungan seksual akibat :

  • Infeksi pada leher rahim, rahim, atau tuba falopi (penyakit radang panggul)
  • Endometriosis
  • Pertumbuhan pada rongga panggul, misalnya tumor dan kista ovarium
  • Perlengketan antara organ-organ di rongga panggul, yang dapat terjadi setelah adanya infeksi, pembedahan, atau terapi radiasi untuk kanker

Rasa nyeri juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikis, misalnya rasa tidak nyaman dapat terasa seperti nyeri yang hebat setelah adanya riwayat trauma seksual, misalnya perkosaan. Rasa marah terhadap pasangan seksual, rasa takut akan hubungan intim atau kehamilan, atau kepercayaan bahwa rasa nyeri akan terus ada dapat semakin memperkuat rasa nyeri.

Rasa nyeri yang timbul saat akan melakukan hubungan seksual (sanggama) atau saat melakukan sanggama dapat dirasakan dangkal, di daerah sekitar lubang vagina (daerah genitalia atau vulva), atau dapat juga terasa dalam, di daerah panggul ketika penis masuk ke dalam vagina. Nyeri dapat bersifat tajam, seperti terbakar, atau kram. Otot-otot panggul cenderung untuk menjadi kencang dan membuat rasa nyeri bertambah hebat.

Diagnosis didasarkan dari deskripsi tentang masalah yang ada, termasuk kapan dan dimana rasa nyeri dirasakan, serta hasil pemeriksaan fisik. Daerah genitalia perlu diperiksa untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda peradangan atau abnormalitas.

Riwayat medis dan riwayat seksual yang lengkap, serta pemeriksaan fisik bisa membantu menentukan apakah penyebabnya adalah masalah fisik atau masalah psikis.

Pasangan didorong untuk dapat menemukan cara lain untuk membuat kepuasan seksual selain melakukan sanggama. Latihan relaksasi otot panggul dapat membantu mengatasi gejala. Gunakan pelumas buatan sebelum melakukan sanggama. Pelumas dengan bahan dasar air lebih baik dibandingkan yang berbahan dasar minyak, karena pelumas dengan bahan dasar minyak cenderung untuk membuat vagina menjadi kering dan dapat merusak alat kontrasepsi lateks, seperti kondom dan diafragma. Melakukan pemanasan (foreplay) lebih lama dapat meningkatkan cairan pelumas pada vagina.

Untuk nyeri yang dalam, gunakan posisi yang berbeda untuk melakukan sanggama, misalnya dengan berada pada posisi wanita di atas sehingga ia dapat mengatur kedalaman penetrasi penis saat berhubungan seksual.

Terapi lain yang lebih spesifik diberikan berdasarkan penyebabnya, misalnya :

  • Pembedahan untuk mengangkat kista atau abses
  • Pembedahan untuk memperbaiki kelainan kongenital yang ada

Buat beberapa perbaikan dalam menjaga kebersihan diri untuk membantu mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan selama hubungan seks. Hindari mandi dengan produk beraroma, seperti sabun mandi dan shower gel. Produk ini dapat mengganggu area genital dan merusak pelumas alami, terutama jika terlalu sering digunakan. Selain itu, juga hentikan penggunaan douche.

- B, Rosemary. Dyspareunia. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.