Penyakit
23-02-2018

Periodontitis (Pyorrhea)

Periodontitis (pyorrhea) adalah peradangan dari gingivitis yang menyebar sampai ke struktur penyangga gigi. Periodontitis merupakan salah satu penyebab utama lepasnya gigi pada dewasa dan merupakan penyebab utama lepasnya gigi pada lanjut usia.

Sebagian besar periodontitis merupakan akibat dari penumpukan plak dan karang gigi (tartar) diantara gigi dan gusi.

Akan terbentuk kantong antara gigi dan gusi dan meluas ke bawah di antara akar gigi dan tulang dibawahnya.
Kantong ini mengumpulkan plak dalam suatu lingkungan bebas oksigen, yang mempermudah pertumbuhan bakteri.
Jika keadaan ini terus berlanjut, pada akhirnya tulang rahang di dekat kantong akan rusak sehingga gigi dapat lepas.

Kecepatan terjadinya periodontitis berbeda pada masing-masing orang yang memiliki jumlah tartar yang sama.
Hal ini mungkin karena plak dari masing-masing orang tersebut mengandung jenis dan jumlah bakteri yang berbeda, dan karena respon yang berbeda terhadap bakteri.

Beberapa keadaan medis yang bisa mempermudah terjadinya periodontitis:
- diabetes melitus
- sindroma Down
- penyakit Crohn
- kekurangan sel darah putih
- AIDS

Gejala-gejala dari periodontitis adalah:
- perdarahan gusi
- perubahan warna gusi
- bau mulut (halitosis)

Pada pemeriksaan mulut dan gigi, gusi tampak bengkak dan berwarna merah keunguan. Tampak endapan plak atau karang di dasar gigi disertai kantong yang melebar ke dalam gusi.

Dokter gigi akan mengukur kedalaman kantong dalam gusi dengan suatu alat tipis dan dilakukan rontgen gigi untuk mengetahui apakah tulang sudah terkena.
Semakin parah tulang yang terkena, maka gigi akan lepas dan berubah posisinya.
Gigi depan seringkali menjadi miring ke luar.

Periodontitis biasanya tidak menimbulkan nyeri kecuali jika gigi sangat longgar sehingga ikut bergerak ketika mengunyah atau jika terbentuk abses (pengumpulan nanah).

Seorang dokter gigi bisa membersihkan kantong sampai kedalaman 0,5 cm dengan alat khusus, yang dapat membuang seluruh karang gigi dan permukaan akar gigi yang sakit.

Untuk kantong yang dalamnya mencapai 0,6 cm atau lebih, seringkali diperlukan pembedahan.

Seorang dokter gigi juga dapat mengangkat sebagian gusi yang terpisah sehingga gusi yang tertinggal bisa direkatkan lagi dengan lebih erat ke gigi dan penderita bisa membersihkan plaknya di rumah.

Jika terbentuk abses, maka perlu diberikan antibiotik.

Ke dalam kantong yang dalam bisa dimasukkan filamen yang mengandung antibiotik sehingga obat bisa mencapai daerah yang sakit dalam konsentrasi yang tinggi.

Abses periodontal menyebabkan serangan pengrusakan tulang, tetapi pengobatan segera dengan pembedahan dan antibiotik memungkinkan tulang yang rusak untuk tumbuh kembali.

Jika setelah pembedahan timbul luka terbuka di mulut, diberikan obat kumur Chlorhexidine selama 1 menit, 2 kali/hari untuk sementara waktu, menggantikan gosok gigi dan pemakaian benang gigi.

Untuk pengobatan infeksi akut yang tanpa komplikasi dapat diberikan antibiotik. Penggunaan antiseptik kumur seperti chlorhexidine dapat membantu mengurangi jumlah kuman dalam mulut.

Bila nyeri dirasakan sangat mengganggu maka dapat diberikan pereda nyeri seperti Paracetamol dan Ibuprofen

Pencegahan terbaik adalah menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Pengobatan dan pencegahan gingivitis dapat mengurangi resiko terjadinya periodontitis.